komunitas kreatif bali


BEDO-SIPPO KICK OFF WORKSHOP
October 29, 2008, 12:11 pm
Filed under: Event, Textile, craft | Tags: , , ,

Peluncuran Program – Program Baru SIPPO pada Sektor Home Textile dan Garment

SIPPO Swiss Import Promotion Programme merupakan mandat dari Sekretatariat Negara Bidang Ekonomi Swiss (SECO), yang diemban oleh OSEC. Program ini mendukung UKM (Usaha Kecil Menengah dari pasar yang sedang berkembang dan pasar transisi untuk masuk ke pasar Swiss dan pasar Eropa.

SIPPO Project team menghadirkan dua project baru di Indonesia dan mengundang perusahaan- perusahaan yang tertarik untuk ikut, perusahaan yang sudah siap untuk ekspor dan memproduksi (more…)



ZOOM IN ADGI CHAPTER BALI : LEBIH JAUH MENGENAL VISUAL BRANDING
October 28, 2008, 5:18 am
Filed under: Desain Grafis, Event, Workshop | Tags: , ,

“Proses audit visual dalam revitalisasi identitas brand”
oleh Danton Sihombing, Inkara Design (www.inkaradesign.com)

Studi kasus:
- Brand identity: Brand ‘Bank BTN’ – Sesi 1
- Packaging label: Brand ‘My Baby’ – Sesi 2

Betapa tidak sederhananya sebuah proses branding. Namun pada acara Zoom In yang diadakan oleh Adgi Bali Chapter ini akan dijabarkan proses pemikiran dan eksekusi dalam bentuk audit visual yang diterapkan dalam sebuah agenda revitalisasi identitas brand. Proses ini selalu menarik, penuh tantangan dan pekerjaan (more…)



TINTIN WULIA PADA PERTUNJUKAN THE STRAND
October 28, 2008, 5:07 am
Filed under: Event, Musik | Tags: , ,

Tintin Wulia, seorang artis film pendek dari Bali turut dalam pertunjukan seni Theatre dan Multimedia Performance di PRESTON MARKETS berjudul The Strand yang merupakan koaborasi director Brian Cohen, Daniel Wolfson dan Scott McAteer selaku penulis, Emanuela Savini, Tara Prowse & Stuart Lidell sebagai produser dan Tintin sendiri selaku Editor/Digital Media Exhibition. Pertunjukan ini akan diadakan di Preston Markets. Melbourne, Australia pada 19-29 November 2008

Proyek seni The Strand yang disebut a site-specific Theatre & Multimedia Performance ini adalah proyek MARKET VALUE yang merupakan proyek seni multi talenta dan profesi yang bekerjasama dengan berbagai pihak baik pedagang, pengurus pasar, dan komunitas anak muda sekitar untuk menggaris bawahi hubungan komunitas yang unik pada suasana khusus sebuah pasar yang merupakan pusat aktifitas ekonomi. Hasil dari aktifitas proyek ini diharapkan akan lebih mendorong pasar meningkatkan perannya bagi masyarakat Darebin dan sekitarnya. Cuplikan film pendeknya dapat dilihat di http://vimeo.com/2076983

The Strand bukan kali pertama Tintin turut dalam proyek kolaborasi, beberapa kolaborasi lainnya adalah “My 24 Hours” dan “The Adventures of Flo and Kat”. Tahun 2006 Tintin merilis “How the World Begansebagai video pembuka pada “Diaspora” production dengan Theatreworks Singapore. (more…)



DIALOG DINI HARI MERILIS ALBUM BERANDA TAMAN HATI
October 28, 2008, 5:01 am
Filed under: Musik | Tags:

Bali telah menginspirasi para insan kreatif untuk berkarya dan berkarya tiada henti karena Bali adalah khazanah kreatifitas yang tak pernah habisnya. Karena itu pula telah lahir Dialog Dini Hari yang keberadaannya disebabkan kegelisahan berkarya dan mengeksprsikan rasa.

Dialog Dini Hari adalah sebuah proyek relaksasi lewat musik dari Dadang SH Pranoto a.k.a. Dankie [Navicula] bersama Ian Joshua Stevenson & Mark Liepmann [Kaimsasikun]. Mereka telah berhasil merangkum empat belas karya mereka ke dalam sebuah debut album bertajuk Beranda Taman Hati yang dirilis di bawah label The Blado Beatsmith. (more…)



SOUP CHAT #22 TENTANG SENI KARTUN
October 28, 2008, 3:53 am
Filed under: Berbagi Cerita, Diskusi, Event, Presentasi | Tags: , ,

Soup Chat 22 akan diadakan di Museum Kartun Indonesia Bali (sunset road 83, seberang Carrefour, KUTA)
Pada hari Jumat, 31 Oktober 2008, jam 17.00 – 19.30 WITA
menu pembuka: sup tomat atau sup labu
menu utama: presentasi tentang Museum Kartun Indoneia Bali oleh Ruth Onduko (akan dimulai pukul 18.00)
Jangan melewatkan menyeruput sup sore-sore, jalan-jalan wisata kartun, dan diskusi tentang seni kartun!
Jangan lupa membawa Rp 15.000,-  (sudah termasuk biaya tiket masuk ke Museum) !

Sampai Jumpa !
cek lokasi dan detail di http://soupchat.org

Tentang Soup Chat
Saat pertama berkumpul bersama beberapa teman di bulan Oktober 2006, kami sepakat untuk menciptakan kegiatan yang bisa menjadi angin segar untuk gambaran kehidupan sosial di Bali. Diskusi dan konsep acara bisa dikatakan tercipta dalam waktu yang singkat dan pada bulan November 2006 pelaksanaan Soup Chat pertama pun dilakukan dengan hati berdebar atas eksperimen sosial ini. (more…)



CATATAN PERJALANAN ; BANGKOK DESIGN FESTIVAL 2008

Bangkok-Bali Creative Connection (BBCC) baru saja dirintis antara Bali Creative Community dan Bangkok Design Festival, tujuannya bertukar gagasan dan pengalaman menyongsong Asia yang berdaya saing kreatif. Atas undangan Bangkok Design Festival, Ayip menghadirinya mewakili Bali Creative Community. Berikut adalah laporan singkatnya.

Bangkok Design Festival tahun ini baru memasuki perhelatannya yang kedua, tapi agenda acaranya bagai festival yang sudah kesekian kalinya diadakan. Sangat meriah dan kaya akan kreatifitas. Tidak kurang dari 100 design karya lebih dari 50 desainer yang datang dari 13 negara hadir dalam perhelatan kreatif ini. Dengan beragam ekspresi dari yang komersil hingga yang eksperimental, tanpa batas yang jelas. Penuh dengan bentuk baru baik yang sangat individualis maupun bernuansa kepedulian sosial, Melibatkan desainer yang sangat komersil hingga pelajar yang menampilkan gaya provokatif maupun “cantik”. Kesemuanya memerlukan hati dan waktu untuk menikmatinya dengan jernih. Itulah barangkali pesan keragaman yang diusung Bangkok Design Festival 2008 dengan taglinenya “Everybody’s Everyday Life” (more…)



AYU LAKSMI BERSAMA TIM “UNDER THE TREE” MENDAPAT SAMBUTAN DI TOKYO INTERNATIONAL FILM FESTIVAL 2008.
October 27, 2008, 12:31 am
Filed under: Artis, Berbagi Cerita, Event, Film | Tags: , ,

Foto: Tokyo International Film Festival 2008

Ayu Laksmi mendapat kesempatan emas turut menghadiri Tokyo International Film Festival ke 21 di Tokyo Jepang bersama sutradara Garin Nugroho, aktor Ikranagara dan Nidia Saphira mewakili film Under The Tree yang mengambil cerita dan setting di Bali. Ditemui sesaat sebelum bertolak ke Jepang di Bandara Ngurah Rai 16 Oktober 2008, Ayu merasa mendapat kehormatan turut dalam festival ini.

Festival Film Internasional Tokyo ke 21 berlangsung di Tokyo dari 18-26 Oktober ini memutar Film Under The Tree karya Garin Nugroho sebagai film pertama membuka kompetisi film The Tokyo Sakura Grand Prix dalam festival tersebut. Setelah screening berlangsung panitia mengadakan sesi Tanya jawab dengan sutradara dan para pemain film yang hadir tersebut.

Panitia sendiri menyatakan kesempatan film Garin diputar dan menjadi peserta kompetisi di TIFF adalah sebuah kesempatan langka walau sebelumnya 5 dari 10 filmnya mendapat kesempatan diputar dalam festival ini dan tahun sebelumnya Garin sempat menjadi salah satu juri pada festival tersebut. Panitia melihat film Under The Tree sebagai sebuah film yang menarik sehingga sesi Tanya jawab langsung dengan sutradara dan para pemainnya merupakan sebuah kesempatan yang baik untuk lebih mengenal film dan pembuat serta bintangnya.

Beragam pertanyaan muncul dari audience mulai dari “Apa artinya judul film ini ?” juga seputar penokohan wanita dalam film ini. Namun yang menarik perhatian pemirsa adalah keterangan dari Garin mengenai kejadian lebih dari 80% dialog dalam film Under The Tree ini diimprovisasi pada saat casting. Dalam Tanya jawab itu Ikranagara menambahkan bahwa improvisasi adalah semacam tradisi dalam teater Bali.


Berbicara soal film Under The Tree, pesan intinya lebih banyak mempersoalkan tentang krisis lingkungan. Selain itu juga menyoroti krisis sosial yang kini dirasakan semakin meledak bergejolak di masyarakat. Garin mengaku sangat prihatin melihat semakin melebarnya krisis sosial dan lingkungan di masyarakat. Menurutnya, krisis lingkungan terjadi setelah terlebih dahulu diawali dengan munculnya krisis sosial, yakni ketidakberdayaan masyarakat kebanyakan dalam bidang ekonomi. “Penanggulangan krisis dan kerusakan lingkungan, harus dimulai dari pemecahan masalah sosial,” ujar Garin yang telah membuat 10 film layar lebar ini.

Masalah sosial dan lingkungan menjadi begitu penting untuk disampaikan sebagai pesan dalam film UNDER THE TREE, dan Pulau Dewata adalah setting yang tepat untuk mewakili symbol tersebut. Bukan hanya alamnya, namun juga budaya dan manusianya. Adegan calonarang dan setting lainnya termasuk kiprah Ayu Laksmi dan artis lainnya dalam film ini adalah rangkaian perhitungan seorang Garin untuk membuat filmnya mampu “berkata-kata”. Tony Rayns seorang kritikus film yang memiliki minat terhadap film di Asia menulis buat film ini sebagai “Social realism meets mysticism, topical commentary meets poetry.”

Dalam film ini Ayu Laksmi tidak hanya berperan sebagai aktris, tapi juga berperan sebagai perempuan Bali, sebagai penyanyi sekaligus sebagai pencipta beberapa lagu ilustrasi nyanyian dalam film ini. Pada acara Tokyo International Film Festival Ayu mengenakan busana Indonesia karya dari desainer terkenal Raden Sirait dengan rancangan ‘kebaya for the world’-nya. Kiprahnya dalam dunia seni termasuk seni peran yang dilakoninya dalam Under The Tree adalah dedikasinya bagi Bali. Apa yang telah dilakukan dalam perjalanan seorang Ayu Laksmi, mudah-mudahan dapat memberikan inspirasi bagi insan muda untuk berkiprah dalam dunia kreatif secara serius dan professional.



KIPRAH BALI BLOGGER COMMUNITY PADA KUTA KARNIVAL 2008
October 26, 2008, 11:38 am
Filed under: Berita Komunitas, Event | Tags: , ,

Bali Blogger Community ambil bagian pada perhelatan Kuta Karnival 2008 dengan menyajikan beberapa programnya. Selain membuka booth mengenai aktifitas Bali Blogger di Pantai Kuta ada aktifitas penting lainnya yaitu field trip mengenal Kuta pada sisi yang “terlupakan” dan juga lomba penulisan kreatif mengenai Kuta Karnival bagi para blogger. Kiprah komunitas blogger ini menunjukkan semakin pentingnya peran blogger menjadi komunitas yang menawarkan dinamika dan kreatifitas terutama dalam mengemas dan menyampaikan informasi.

Berikut adalah tulisan dari acara field trip yang ditulis oleh Anton Muhajir dan dimuat di situs Bale Bengong :

Mengenal Kuta dari Sudut Berbeda
Oleh Anton Muhajir

“Tidak terbayang kalau tidak ikut field trip,” kata Eka Darma Saputra, anggota Bali Blogger Community (BBC) ketika kami sedang di areal Pura Dalem Celuk Waru kemarin siang. Senang juga mendengar komentar Eka, mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan (FKH), itu. Sebab itu berarti ada gunanya juga bikin kegiatan Blogger Day Out, jalan-jalan ala blogger ini.

Blogger Day Out adalah kegiatan BBC dalam rangka Kuta Karnival. Sekitar 15 blogger lain ikut kegiatan pada Sabtu (18/10/08) tersebut. Ide jalan-jalan ala blogger ini berawal dari keinginan BBC untuk turut serta dalam kegiatan Kuta Karnival. Ya, sekali-kali mendukung pariwisata Bali lah.

Kuta Karnival sendiri merupakan kegiatan promosi pariwisata ala Kuta. Kegiatan tiap tahun ini digelar pertama kali pada 2003, setahun setelah Kuta mengalami tragedi bom. Saat itu, Made Supatra Karang, ketua Kuta Small Business Association (KSBA), memimpin untuk kebangkitan Kuta melalui sebuah even internasional yang disebut Kuta Karnival ini.

Berbeda dengan Pesta Kesenian Bali (PKB) yang cenderung resmi, top down, dan high class, Kuta Karnival terlihat lebih cair. Berbagai komunitas bisa terlibat dalam kegiatan selama satu minggu ini. Keterlibatan komunitas itu paling terasa saat Parade Budaya di hari terakhir kegiatan. Ada komunitas sepeda tua, biker, sampai waria.

Nah, tahun ini BBC menjadi salah satu komunitas di dalamnya. Idenya lebih pada bagaimana blogger bisa ikut memberikan informasi tentang Kuta Karnival, dari sudut pandang blogger tentu saja. Maksudnya, blogger boleh menulis dengan sangat personal dan subjektif. Bisa seenaknya nulis dengan gaya apa saja asal tidak memfitnah.

Ada tiga kegiatan BBC di Kuta Kanival tahun ini: field trip, lomba blog, serta pameran dan workshop.

Blogger Day Out, nama keren untuk field trip diadakan Sabtu ini, yang juga hari pertama Kuta Karnival. Tema field tripnya sendiri perjalanan untuk mengenal sisi Kuta yang berbeda. Kami ingin tahu sisi lain di balik kondisi pariwisata Kuta. Persisnya kami ingin mengenal sejarah Kuta. Kira-kira bagaimana sih Kuta pada awalnya sebelum menjadi kiblat pariwisata Bali seperti saat ini.

Agung Pushandaka jadi blogger yang bertanggungjawab mengurus kegiata ini. Setelah baca-baca sejarah Kuta dan ngobrol dengan Made Supatra Karang dan Haji Bambang Priyanto, dua tokoh Kuta, kami mendapat lima calon lokasi field trip: Vihara Dharmayana, bekas pelabuhan Kuta, makam Mads Lange, restoran Poppies, dan monumen bom Bali.

Makam Mads Lange dihapus dari tujuan karena dianggap terlalu berbau kolonial. Monumen bom Bali dicoret karena kami anggap terlalu mengungkit luka lama. Maka, jadilah kami pilih tiga yang lain. Dalam perjalanan, restoran Poppies juga kami hapus karena masalah teknis. Manajer restoran di jalan Poppies Kuta itu sedang di Kuta sehingga tidak bisa dihubungi. Anak buahnya tidak berani memberikan jawaban.

Apa boleh, kami pun mencoretnya. Padahal, menurut Made Supatra Karang, Poppies Resto sangat menarik dikunjungi karena merupakan salah satu resto tertua di Kuta. Keberadaan Poppies Resto tidak bisa dipisahkan dari sejarah pariwisata di Kuta.

Lalu hari ini perjalanan pun hanya ke dua tujuan, vihara dan panti jerman.

Vihara dipilih karena dia turut mewarnai perkembangan Kuta. Saudagar-saudagar dari Cina saat itu, selain dari Bugis, Jawa, dan Eropa, turut membentuk Kuta sehingga dikenal sebagai salah satu lokasi berwisata.

Vihara Dharmayana berada di pojok jalan Blambangan dan jalan Padri Kuta. Kalau dari jalan raya Kuta ke arah jalan raya Tuban, vihara ini ada di kanan jalan. Vihara ini dibangun pada tahun 1876. Waktu pembangunan ini bisa dilihat di salah satu kaligrafi yang sampai saat ini masih ada di vihara.

Hindra Suarlim, Ketua Yayasan Dharma Semadhi yang bertanggungjawab pada vihara ini, mengatakan lahirnya vihara ini merupakan penghormatan warga Tionghoa pada Tan Hu Cin Jin, leluhur mereka. Pada zaman kerajaan Mengwi sedang berkuasa di Bali, leluhur mereka ini adalah arsitek pembangunan Taman Ayun. Meski demikian, warga Tionghoa di daerah ini justru nyungsung (mengabdi) ke Puri Pemecutan.

“Karena leluhur kami mendapat tempat di sini pun diberikan oleh Puri Pemecutan,” kata Harlim, yang bernama Tionghoa Lim Ing Hin.

Ketika baru datang ke Bali, warga Tionghoa bekerja sebagai saudagar. Mereka kemudian menetap di Kuta seperti halnya orang Bugis, Madura, dan Jawa di sebagian wilayah Kuta.

Tinggal di Kuta membuat warga Tionghoa itu beradaptasi dengan budaya Bali. Beberapa ritual dalam budaya Tionghoa pun berakulturasi dengan ritual Hindu Bali. Dalam sesaji ketika sembahyang pun ada gebogan, canang, dan semacamnya. Bagian belakang vihara itu sendiri pun menyatu dengan pura.

Tak hanya secara ritual, secara sosial pun demikian. Warga Tionghoa, yang disebut Nyama Toko –karena sebagian besar adalah pedagang- terlibat aktif di banjar-banjar setempat. Tak hanya sebagai anggota, bahkan sebagian besar adalah pengurus banjar. Mereka malah punya satu banjar, namanya Banjar Dharma Semadi, yang bahkan sudah diakui oleh desa adat.

Soal perkawinan dengan warga setempat? “Mungkin sembilan puluh persen dari kami menikah dengan perempuan Bali,” kata Adi Darmaja, warga Tionghoa yang lainnya.

Vihara Dharmayana adalah simbol multikulturalisme yang terus terpelihara di Kuta. Lokasi berikutnya juga menunjukkan hal yang tak jauh berbeda. Sejak zaman bahuela, Kuta adalah tempat umat berbagai bangsa bertemu dan berhubungan satu sama lain tanpa membedakan asal usul. Ini kami temukan di pantai jerman, lokasi kunjungan yang kedua.

Lokasi ini juga hal baru bagi kami. Semua peserta field trip terkaget-kaget ketika melihat miniatur perahu di pantai ini. Salah satunya dari Eka, yang belum pernah mengenal tempat itu sebelumnya.

Pernyataan Eka muncul ketika dia bersama sekitar 15 blogger dan wartawan sedang melihat miniatur perahu di pura di bagian selatan pantai Kuta tersebut. Miniatur perahu itu dibangun sebagai simbol perahu yang terdampar di pantai tersebut pada masa kolonial, sekitar abad 18. Saat itu Kuta menjadi salah satu pusat perdagangan di Bali.

Saudagar dari Tuban, Jawa Timur adalah salah satu kelompok saudagar yang berdagang di sisi barat pulau Bali itu. Nah, mereka ada yang terdampar di pantai itu. Makanya pantai itu disebut pula sebagai pasih perahu, berarti pantai perahu. Menurut Nyoman Rika, Kepala Lingkungan Banjar Segara Kuta, nama desa Tuban di selatan Kuta berasal dari nama kota Tuban di Jawa Timur tersebut.

Di lokasi di mana perahu itu terdampar, terdampar sumber air tawar. Padahal lokasinya persis di pantai. Sejak 2002 lalu, warga setempat membangun lokasi itu dengan miniatur perahu sebagai bentuk penghormatan pada para saudagar yang terdampar tersebut.

“Kami mendapat petunjuk dari yang berstana di pura ini untuk membangun perahu ini,” kata Rika. Maksudnya, dia mendapat semacam peringatan agar mereka membangun bangunan berbentuk perahu itu di lokasi tersebut.

Selain bekas pelabuhan, pantai itu dulunya adalah perumahan warga Jerman. Made Budi, mantan prajuru desa adat Kuta mengatakan kalau warga Jerman tersebut tinggal di sana saat mengerjakan pembangunan Bandara Ngurah Rai. Karena itu pantai tersebut juga terkenal dengan nama pantai jerman.

Namun bekas perumahan itu sudah tidak ada sama sekali. Begitu pula bekas pelabuhan di tempat tersebut. “Semuanya sudah habis kena abrasi,” kata Budi.

Di lokasi itu kini pantai sedang direklamasi. Back hoe, alat pengeruk dan perata tanah itu hilir mudik meratakan pasir yang diambil dari pantai lain. Pantai direklamasi demi pariwisata Kuta yang kain gemerlap.

Ironinya sih tempat di mana salah satu bagian dari sejarah Kuta berasal tersebut justru tidak terlalu dikenal. Sejarah Kuta memang tenggelam di antara gemerlapnya yang menyilaukan..[b]



LAWATAN MUSIKAL YURI MAHATMA DI JERMAN
October 16, 2008, 2:43 am
Filed under: Berbagi Cerita, Musik | Tags: , ,


Yuri Mahatma, seorang gitaris dari Bali baru saja mengakhiri hampir satu bulan lawatan musikalnya di beberapa kota di Jerman. Keberangkatannya ini merupakan sebuah project atas kerjasama dengan seorang produser musik Jazz di Jerman.

Yuri yang juga penggagas “Jazz Klinik” bagi anak muda di Bali dan pengajar di Farabi Music School Denpasar ini menyatakan kekaguman pendidikan musik bagi anak-anak dan remaja di Jerman. Ketika dia melihat sebuah big band yang para pemainnya adalah anak-anak setingkat SD hingga SMA yang bermain begitu baiknya. Disadarinya walau ada factor budaya namun disiplin sangat memegang peranan penting dalam pendidikan musik mereka ini. Mimpinya di Bali dapat memiliki sebuah big band dari talenta-talenta muda yang dapat diproyeksikan untuk waktu yang panjang. Yuri menyatakan keyakinannya jika para musisi bersatu bersama orang tua dan lembaga pendidikan musik pasti dapat terwujud.

Selama lawatannya Yuri berkesempatan bermain bersama musisi-musisi jazz kawakan di Jerman dalam show maupun jam session. Di Jerman, Yuri juga tentu saja berjumpa dan tampil bermusik di depan publik dengan Dian Pratiwi, seorang vokalis Indonesia yang tak lain adalah kakaknya sendiri yang menetap di Jerman.

Beberapa agenda yang menjadi aktifitas di Jerman adalah:

  1. 5 September di Hamm. Tampil bersama: Ralf Lohmann (Bass), Niklas Walter (Drums), Dian Pratiwi (vocal)
  2. 7 September siang di Woodhouse Jazz Band, Bergheim. Tampil bersama : Rolf Drese (Drums), Andeas Scheel (Bass), Gregory Gaynair (Replacer on Piano), Horst Jansen (Trombone), Hinderik Leeuwe (Trumpet) dan Waldemar Kowalski (Saxophones, clarinet)
  3. 7 September malam di Arlen. Dalam acara Uwe plath “Bali Jazz”. Tampil bersama : Uwe Plath (Sax), Roland Höppner (Drums), dan Ralf Lohmann (Bass)
  4. 8 September di Domicil. Tampil bersama : Jan Roth (Drums), Eichhorn (Bass), Uwe Plath (Sax) dan Dian Pratiwi (vocal)
  5. 9 September di Domicil : Jam Session
  6. 13 September di Landau in der Pfalz : Private Party at Gerald Perry Resident, played with  Bill Langston (vocal)
  7. 18 September tampil di Hansa Theater bersama : Benny Mokross (Drums), Sebastian Kruse (Bass)

Selebihnya dari itu waktunya diisi dengan diskusi dan latihan bersama musisi disana dalam suasana yang casual. Bagi Yuri memang tripnya ke Jerman ini bukan sekedar jalan jalan namun sebuah pengalaman berharga dapat bertukar pengalaman dan keahlian dengan para musisi disana.

Semoga pengalamannya ini dapat dibagi kepada komunitas musik dan jazz di Bali sebagai informasi juga referensi.

BIOGRAFI YURI
Yuri lahir di Jakarta dan menetap di Bali semenjak tahun 1980 hingga saat ini. Talenta musikalnya didapat dari eksistensi kakaknya, Dian Pratiwi yang semenjak lama menjadi vokalis professional. Yuri belajar gitar semenjak usia 12 tahun dan semenjak selesai SMA memiliki inisiatif belajar gitar secara private dengan beberapa gitaris salah satunya Martijn Van Iterson di Leiden,Holland (saat ini Martijn mengajar di Antwerp Conservatory, Belgia).

Karir profesionalnya di dunia musik dimulai tahun 1994 dengan membentuk State of Mind Band lalu setelah itu dengan beberapa musisi di Bali membentuk Kayane Band, dan berkolaborasi bersama Planet Bambu membentuk Duotones. Yuri juga membina persahabatan dengan musisi jazz di Jepang sehingga berkesempatan tampil di Tokyo dan Yokohama, Japan.

DISKOGRAFI

  1. Album pertama Yuri adalah If I Were A Magician (2005). Solo Album dengan musisi pendukung Joe Rosenberg, Steve Bolton, Agung Prasetyo, Bogie Prasetyo and Eko Sumarsono.
  2. Yuri menjadi musisi pendukung pada album Asian Campur Volume II (2004) dan Asian Campur Volume I (2003) Karya YAA (Yokohama association of artists) pimpinan Yuko Shirota
  3. Serta album kolaborasi Duotones (2002) Kayane bersama Planet Bamboo.

Informasi mengenai Yuri dapat diperoleh di www.mahatmajazz.com



NYANYIAN DHARMA III AKAN SEGERA RELEASE
October 16, 2008, 1:03 am
Filed under: Berita Komunitas, Musik | Tags: ,


Album Nyanyian Dharma III akan segera hadir dan kini produser serta artisnya tengah sibuk dalam persiapan yang lebih baik. Dewa Bujana sang produser musik menyampaikan bahwa konsep album “Nyanyian Dharma III” akan lebih baik dari yang sebelumnya apalagi akan merupakan kompilasi terbaik dari album I dan album II ditambah dengan lagu-lagu baru di album III. Konsep ini disebabkan banyaknya pihak yang menanyakan ketersediaan album I yang memang sudah habis semenjak lama di pasaran.

Jango Paramartha selaku tim yang tergabung dalam “Nyanyian Dharma” semenjak awal juga menyampaikan hasil pertemuan tim untuk merencanakan album “Nyanyian Dharma III” yang lebih baik lagi. Kami mengundang saudara-saudara kita yang berminat menjadi pendukung Nyanyian Dharma terutama sebagai mitra dalam produksi.

Seperti dilansir dalam website Nyanyian Dharma bahwa konsepsi kolaborasi artis dalam Nyanyian Dharma merupakan salah satu aktivitas pelestarian nilai nilai luhur Hindu yang terkait dengan budaya Bali dalam bingkai kekinian dimana dalam era keterbukaan perlu dibuat sebuah kemasan penyesuaian yang dapat menjadi pembelajaran kepada Umat terutama Generasi Muda.

Artis Bali yang telah sukses dan berprestasi di tingkat nasional satu persatu mulai bermunculan, dan mereka memiliki keinginan yang kuat untuk membuat suatu hasil karya persembahan atas nama Bali untuk dinikmati oleh seluruh lapisan umat hindu khususnya dan pecinta seni pada umumnya dengan konteks beryadnya.

“Album Nyanyian Dharma I dan II telah diluncurkan dan mendapat respon yang sangat baik dari seluruh lapisan masyarakat Hindu di Bali dan di Indonesia, bahkan mereka menunggu kelanjutan karya seni di Album Nyanyian Dharma berikutnya.” Tambah Jango Pramartha.

Bujana menambahkan, “Team yadnya Nyanyian Dharma terdiri dari elemen musisi Bali, nasional, produser rekaman, seniman, penyair, penulis, tokoh spiritual, serta relawan  yang ingin ikut beryadnya sepakat untuk melanjutkan karya seni ini kembali.” Tentu saja hal ini menunjukan bagaimana kolaborasi berbagai talenta dan kreatifitas anak muda Bali dapat dipersatukan dan membuat karya yang mampu diapresiasi dengan baik.

Jika tidak ada aral melintang mudah-mudahan album “Nyanyian Dharma III” ini dapat dihadirkan kepada publik pada bulan Januari 2009 dan tentunya mohon didukung dengan partisipasi dalam bentuk apapun sebagai wujud membangun kebersamaan bagi Bali.

Sebagai informasi komponen yang terlibat dalam proyek Nyanyian Dharma adalah penulis lagu dan musisi baik dari dari daerah maupun nasional seperti: Cok Sawitri, Dewa AFI, Thomas Ramadhan, Batuan Gamelan, Putu Wijaya, Hendi GIGI, Bintang Indrianto, Hendri Lamiri, Emans, Rico, Budhi Haryono, Aji Kobar, Ronald Fristianto, Bang Saat, Bagus Mantra, Agung Rai Sumadi, Gung Bona Alit, Sandi Winarta, Christian, Indra Lesmana, Edi, Rio Saharaja dan Made Christiaryanto. Dan tentu saja tim lain banyak yang bergabung dengan peran dan talenta masing-masing seperti

PRODUSER :
Dewa Gde Budjana

PIMPINAN PRODUKSI :
I Gusti Agung Bagus Mantra

TEAM KERJA :
Jango Paramartha
IB Martinaya
Gede Robbie Supriyanto
I Komang Gede Doktrinaya
Ariastawa
Putu Fajar Arcana
Ketut Sumarta
Ayu Laksmi
Bagus Saka
Frida Dewi

Informasi Nyanyian Dharma ada di www.nyanyiandharma.com
Atau dapat menghubungi Jango Pramartha  0811380021 dan Gusaka  08123942662