Filed under: Berita Komunitas, Diskusi, Event, Social Entrepreneurs | Tags: Bali Creative Community, OBRAL #3
Obral pertama dan kedua berlalu dengan penuh makna, dan kini saatnya memasuki Obral #3 yang akan jatuh pada hari Rabu, 5 Agustus 2009. Tuan rumah kita kali ini adalah Arti Foundation yang memiliki markas di ARt Center Bali jalan Nusa Indah Denpasar. Kita akan mulai OBRAL ini jam 7 malam namun datanglah tepat waktu agar ada waktu untuk mengenal siapa saja yang hadir disana. (more…)
Filed under: Social Entrepreneurs, Sustainable Design | Tags: Bali Fokus, The Goldman Environmental Prize 2009, Yuyun Ismawati
Disamping creative entrepreneurs, Indonesia memang memerlukan juga banyak social entrepreneur. Penjelasan sederhana dari Social Entrepreneur adalah seseorang yang
mengerti permasalahan sosial dan menggunakan kemampuan entrepreneurshipnya untuk melakukan perubahan sosial (social change), terutama meliputi bidang
kesejahteraan (welfare), pendidikan dan kesehatan (healthcare). Jika creative entrepreneurs mengukur keberhasilan dari kinerja kreativitas yang mampu mendorong nilai ekonomi maka social entrepreneur keberhasilannya diukur dari manfaat yang dirasakan oleh masyarakat dan lingkungannya secara berkesinambungan. Namun saat ini keduanya merupakan sebuah jalinan sikap dan prilaku penting untuk membangun negeri tercinta ini. (more…)
Oleh : Bambang Ismawan (Pendiri Yayasan Bina Swadaya)
Entrepreneur menurut kamus Oxford : ”A person who undertakes an entreprise or business, with the chance of profit or loss”. Seorang yang bertanggung jawab atas sebuah bisnis dengan memikul risiko untung atau rugi. Entrepreneur dapat digolongkan ke dalam dua kelompok, yaitu business entrepreneur dan social entrepreneur. Perbedaan pokok keduanya utamanya terletak pada pemanfaatan keuntungan. Bagi business entrepreneur keuntungan yang diperloleh akan dimanfaatkan untuk ekspansi usaha, sedangkan bagi sosial entrepreneur keuntungan yang didapat (sebagian atau seluruhnya) diinvestasikan kembali untuk pemberdayaan ”masyarakat berisiko”. Namun dalam trend global dikotomi semacam itu kian kabur, sebab mereka (business entrepreneur dan social entrepreneur) sesungguhnya berbicara dalam bahasa yang sama. ”Kami bicara dalam bahasa yang sama yaitu : inovasi, manajemen, efektifitas, mutu dan kompetensi” (Fred Hehuwat, 2007). (more…)

