<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>komunitas kreatif bali</title>
	<atom:link href="http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://komunitaskreatifbali.wordpress.com</link>
	<description>provokator budaya kreatif</description>
	<lastBuildDate>Mon, 16 Nov 2009 15:48:23 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='komunitaskreatifbali.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/f2eb2b1cd3923ef87cebbc1d5a5d5ecf?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>komunitas kreatif bali</title>
		<link>http://komunitaskreatifbali.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>PIDATO KEBUDAYAAN IGNAS KLEDEN: SENI DAN CIVIL SOCIETY</title>
		<link>http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/2009/11/16/pidato-kebudayaan-ignas-kleden-seni-dan-civil-society/</link>
		<comments>http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/2009/11/16/pidato-kebudayaan-ignas-kleden-seni-dan-civil-society/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Nov 2009 15:48:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>balcom</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berbagi Cerita]]></category>
		<category><![CDATA[Dokumen]]></category>
		<category><![CDATA[Ignas Kleden]]></category>
		<category><![CDATA[Orasi Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Seni & Civil Society]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/?p=1394</guid>
		<description><![CDATA[(Dengan Referensi Khusus Kepada Penyair Rendra)
Oleh Ignas Kleden
I
Membicarakan kedudukan seni dalam hubungannya dengan civil society merupakan suatu tantangan yang tidak mudah dijawab, juga pada kesempatan ini. Tantangan ini telah saya terima sebagai sebuah penugasan dari Dewan Kesenian Jakarta, meskipun saya tidak terlalu paham mengapa tema ini dijadikan pokok pidato kebudayaan pada hari ini. Tugas ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=komunitaskreatifbali.wordpress.com&blog=4712064&post=1394&subd=komunitaskreatifbali&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>(Dengan Referensi Khusus Kepada Penyair Rendra)</p>
<p>Oleh Ignas Kleden</p>
<p><strong>I</strong></p>
<p>Membicarakan kedudukan seni dalam hubungannya dengan civil society merupakan suatu tantangan yang tidak mudah dijawab, juga pada kesempatan ini. Tantangan ini telah saya terima sebagai sebuah penugasan dari Dewan Kesenian Jakarta, meskipun saya tidak terlalu paham mengapa tema ini dijadikan pokok pidato kebudayaan pada hari ini. Tugas ini telah saya terima semata-mata karena pertimbangan bahwa kesenian sebagai suatu sektor penting dalam kebudayaan, dapat dijadikan contoh soal untuk melihat masalah yang lebih besar yaitu hubungan kebudayaan dan civil society.<span id="more-1394"></span></p>
<p>Sebagai titik-tolak dapatlah dikatakan begitu saja bahwa kesenian dan setiap ekspresi seni, pada dasarnya, adalah ekspresi pribadi seorang seniman, yang sangat personal sifatnya. Tentu saja seorang seniman menerima pengaruh dari lingkungan hidupnya, dan terlibat dalam pergaulan dengan berbagai pihak dalam suatu masyarakat. Tiap-tiap lingkungan mungkin saja memberikan pengaruh tertentu kepada seniman, dan dari pergaulannya dengan berbagai pihak muncul rangsang yang berbeda-beda yang menyentuh sensitivitas seniman tersebut. Namun demikian segala pengaruh dan bebagai rangsang itu mengalami proses pencernaan mental dalam diri seorang seniman, sehingga terhadap setiap pengaruh dan rangsang dari luar, seorang seniman dalam ekspresinya, selalu memberikan suatu respons yang personal dan unik. Patut ditambahkan, hal ini bukanlah sesuatu yang hanya terdapat pada diri para seniman. Setiap orang, setiap individu, akan memberikan respons yang bersifat pribadi kepada suatu stimulus dari luar. Namun yang khas pada seorang seniman ialah bahwa respons pribadi itu selalu merupakan sebuah respons yang artistik sifatnya, yang tidak selalu bisa diberikan oleh seorang yang bukan seniman.</p>
<p>Terhadap tekanan politik dan ancaman penjara, para aktivis yang berani bisa menyatakan perasaan tak takut atau sikap tak gentar. Tetapi tidak setiap orang bisa menyatakannya dengan artistik seperti yang dilakukan oleh Rendra ketika dia berkata:</p>
<p><em>Sebuah sangkar besi / tidak bisa mengubah seekor rajawali / menjadi seekor burung nuri.</em></p>
<p><em>Rajawali adalah pacar langit /dan di dalam sangkar besi / rajawali merasa pasti / bahwa langit akan selalu menanti </em></p>
<p><em>(kutipan dari “Sajak Rajawali”)</em> 1</p>
<p>Secara umum sebuah ekspresi artistik akan tergantung sekurang-kurangnya pada dua kondisi. Yaitu otentisitas pesan yang disampaikan, yang mempersyaratkan penghayatan pribadi secara intens terhadap suatu soal, dengan melibatkan berbagai seluruh kemampuan mental seseorang, lebih dari sekedar olah pikir atau olah rasa, sehingga sebuah pesan menjadi ungkapan seluruh kepribadian. Kedua, orisinalitas medium penyampaian, yaitu suatu cara penyampaikan yang unik, yang hampir tak mungkin diubah atau ditransposisikan ke dalam bentuk penyampaian lain atas cara yang sama indah dan sama kuatnya.</p>
<p>Dengan uraian pendahuluan ini saya ingin mengatakan bahwa seni pada dasarnya hidup dan berkembang dalam suatu ruang pribadi yang privat sifatnya, dan bukan produk suatu ruang publik. Muncul masalah di sini, bagaimana menghubungkan seni yang merupakan atribut ruang privat dengan civil society yang merupakan ruang publik? Atau dapatkah kita berpikir sebaliknya, bahwa ruang publik dapat menghasilkan suatu jenis kesenian yang lain dari yang kita kenal?</p>
<p>Dari satu segi ruang privat perlu dipertahankan dan dipelihara karena ruang ini merupakan tempat kebebasan pribadi digarap dan diolah, dan menjadi benteng yang melindungi kebebasan seseorang dari campurtangan yang berlebihan dari pihak negara mau pun intervensi lembaga-lembaga sosial. Dia merupakan tempat seseorang mengolah cita-cita hidup sesuai dengan impian, keinginan dan selera pribadinya. Para ahli mengatakan bahwa ruang privat menjawab pertanyaan tentang hidup yang baik atau <em>“the question of good life”</em>. Termasuk di sini keinginan yang berhubung dengan kehidupan cinta dan pandangan religius serta cita-cita spiritual, selera makan dan pandangan tentang kebersihan dan kesehatan, cara berpakaian, cita-cita tentang tempat tinggal, dan selera estetik dan apresiasi kesenian. Semua hal tersebut terdapat dalam ruang privat diatur dan diselenggarakan berdasarkan nilai-nilai budaya.</p>
<p>Sebaliknya, ruang publik yang kita namakan civil society adalah tempat di mana keadilan dipertahankan dan dibela. Ruang ini hadir untuk menjawab pertanyaan yang berhubung dengan “<em>the question of justice”</em>, dan diatur oleh hukum negara. Hak dan kewajiban yang diatur oleh hukum mempunyai tujuan agar setiap orang memperoleh keadilan yang menjadi haknya, dengan kewajiban pada orang lain untuk menghormatinya. Keadilan menjadi faktor yang membuat masing-masing orang mendapat tempat dalam suatu kehidupan bersama, di mana kebebasan seseorang tidak melanggar atau mengorbankan kebebasan orang lain. 2</p>
<p>Dengan demikian, berlaku hemat dan menabung penting sekali untuk kehidupan yang aman secara ekonomis, tetapi tiap orang bebas untuk melakukan atau tidak melakukannya, tanpa mereka bisa dipaksa oleh negara. Akan tetapi membayar pajak adalah sesuatu yang berhubung dengan keadilan, berupa kewajiban kepada kehidupan umum, yang diatur oleh hukum positif, dan dapat dipaksakan oleh negara. Demikian pun mendidik anak dalam keluarga dengan disiplin dan kasih sayang, merupakan persiapan pertama untuk pembentukan warga negara yang matang, mandiri dan bertanggungjawab. Namun demikian, pendidikan anak adalah urusan domestik keluarga, dan termasuk dalam ruang privat. Negara atau lembaga sosial tidak dapat memaksa suatu keluarga mendidik anak-anaknya atas cara yang dipaksakan dari luar. Namun demikian, kekerasan kepada anak oleh orang tuanya, dapat menimbulkan reaksi publik dan campur tangan negara, karena di sana ada pelanggaran terhadap hak seorang anak untuk mendapatkan <em>protective security</em>. Pada titik inilah terdapat suatu perbedaan hakiki antara negara demokratis dan negara-negara totaliter yaitu bahwa demokrasi memberi ruang bagi ruang publik dan ruang privat, sementara sistem totaliter melindas ruang privat dan hanya mengakui ruang publik. 3</p>
<p>Seterusnya, dalam suatu ruang politik, kehidupan bersama diatur bukan saja oleh hukum tetapi oleh kekuasaan yang ada pada negara. Tidaklah mengherankan bahwa ahli sosiologi seperti Max Weber mengatakan bahwa negara ditandai oleh satu-satunya hak istimewa yang tidak ada pada lembaga lainnya, yaitu monopoli untuk mempergunakan kekerasan atas cara yang legal. 4 Di samping negara tidak ada lembaga lain mana pun yang dibenarkan menyelesaikan suatu soal dengan memakai kekerasan. Hak untuk memakai kekerasan ini ada pada negara agar dia dapat memaksakan ketundukan tiap orang terhadap hukum yang berlaku. 5</p>
<p>Secara tipologis kita bisa mengatakan bahwa dalam ruang privat seseorang mengembangkan dirinya menjadi individu, menjadi pribadi dan menjadi anggota suatu komunitas, dalam ruang publik dia mengembangkan dirinya menjadi warga suatu negara, dan dalam ruang politik dia menjelma menjadi rakyat suatu pemerintahan yang syah.<br />
Hubungan di antara ruang publik dan ruang politik atau di antara civil society dan negara bersifat regulatif, karena kekuasaan yang ada pada negara dan monopoli penggunaan kekerasaan yang dimiliki negara, harus tunduk kepada pengaturan dan pembatasan oleh hukum positif. Sebaliknya, hubungan di antara ruang politik dan ruang privat atau antara negara dan komunitas-komunitas budaya, bersifat subsidiair. Negara diijinkan masuk dalam ruang privat apabila dibutuhkan bantuannya. Kalau para seniman memerlukan sebuah pusat kesenian, negara dapat diminta bantuan untuk mengadakannya, tetapi negara tidak dibenarkan memaksakan pembangunan sebuah pusat kesenian karena kebetulan ada dana untuk itu, apalagi memaksa para seniman agar memanfaatkan gedung kesenian dan fasilitas yang telah disiapkan oleh negara, atas cara yang ditentukan oleh negara.</p>
<p>Adalah menarik bahwa hubungan di antara ruang privat dan ruang publik atau di antara komunitas-komunitas budaya dan civil society, bersifat sangat kreatif. Sudah jelas bahwa ruang publik diatur juga oleh nilai-nilai publik, seperti persamaan, keadilan, transparansi dan akuntabilitas. Namun demikian, munculnya ruang publik tidak dengan sendirinya, dan tidak harus menjadi saingan yang menggeser atau menggusur adanya ruang privat dalam komunitas-komunitas budaya. Hal ini dimungkinkan karena hampir semua nilai yang diterima dalam ruang publik dan kemudian berlaku di sana, diambil dari komunitas-komunitas budaya dan kemudian ditransformasikan menjadi nilai publik, setelah semua atribut dan nomenklatur yang bersifat komunal ditanggalkan, sambil substansi nilai itu tetap dipertahankan. Ini perlu dilakukan supaya suatu diskusi publik dapat dilakukan.</p>
<p>Sebuah analogi kiranya dapat menjelaskan hal ini. Bahasa Indonesia telah diresmikan sebagai bahasa nasional, sedangkan bahasa itu diambil dari bahasa Melayu Riau yang sejak berabad-abad berfungsi sebagai lingua franca. Kita tahu, suatu bahasa menjadi lingua franca kalau bahasa itu digunakan sebagai sarana komunikasi tetapi tidak berperan lagi sebagai penunjuk identitas suatu kelompok orang. Seseorang yang fasih berbahasa Inggris dewasa ini, tidak dengan sendirinya berasal dari San Fransisco atau Liverpool. Atau seorang profesor yang memberi kuliah dalam bahasa Spanyol tidak harus berasal dari Madrid. Inilah rupanya sebab yang jarang diungkapkan, mengapa bahasa Melayu dengan mudah diterima sebagai bahasa nasional karena bahasa itu tidak lagi menjadi representasi suatu identitas etnis tertentu, dan telah menjadi sarana komunikasi di antara berbagai kelompok etnis sejak ratusan tahun. Lain halnya kalau bahasa Jawa, bahasa Sunda atau bahasa Bugis diusulkan sebagai bahasa nasional. Mungkin timbul lebih banyak kontroversi dan pertentangan karena bahasa-bahasa besar itu menunjuk dan menjadi penanda suatu identitas etnis tertentu, yang mungkin sekali menimbulkan penolakan dari kelompok etnis lainnya.</p>
<p>Atas cara yang sama kita bisa berbicara tentang nilai-nilai publik. Apabila suatu komunitas budaya hendak menyumbangkan seperangkat nilai-nilainya ke dalam kehidupan publik, maka atribut-atribut dan nomenklatur komunal perlu dihilangkan (tanpa menghilangkan substansi nilai yang dikandungnya) agar supaya nilai tersebut dapat dipahami dan diterima oleh kelompok lainnya, karena nilai publik itu telah menjadi suatu nilai bersama meskipun nilai-nilai itu telah lahir dan dikembangkan dalam suatu komunitas budaya tertentu. Etos kapitan perahu yang secara tradisional berlaku di daerah-daerah pesisir di Sulawesi, dilegitimasi oleh nilai-nilai budaya setempat, dan legitimasi itu dilaksanakan karena alasan-alasan sosial atau kosmologis yang berhubung dengan kebudayaan setempat. 6 Namun demikian substansi etos itu dapat dibawa ke ruang publik, dan dapat diusulkan sebagai alternatif terhadap budaya politik Indonesia, yang umumnya diambil dari latarbelakang daerah pertanian. Kecenderungan kepada pola kepemimpinan feodal, atau hubungan patron klien dalam politik Indonesia, jelas berasal dari latar belakang masyarakat dan kerajaan-kerajaan yang berdasarkan pertanian.</p>
<p>Sebagai alternatif terhadap kecenderungan tersebut etos kapitan perahu dapat diusulkan ke dalam diskusi dalam ruang publik, setelah segala alasan budaya yang menjadi dasar dari etos tersebut dan setelah nomenklatur yang bersifat komunal ditanggalkan. Karena pada dasarnya substansi etos itu – sekali pun tanpa disertai alasan-alasan budaya yang bersifat komunal — dapat diterapkan dalam politik Indonesia, sebagai negara dengan sifat maritim yang kuat. Ahli sejarah maritim, Prof. Adrian B. Lapian, pernah mengeritik penamaan Indonesia sebagai negara kepulauan, karena nama itu tidak menunjukkan aspek laut yang merupakan bagian terbesar dari negeri ini. Istilah kepulauan masih memperlihatkan orientasi ke daratan, sedangkan istilah negara kelautan lebih tepat menunjukkan watak negeri ini sebagai kawasan maritim.</p>
<p>Istilah ‘negara kepulauan’ merupakan padanan dalam bahasa Indonesia dari pengertian <em>archipelagic state</em>. Jika kita menyimak arti sesungguhnya dari kata <em>archipelago</em>, maka (menurut kamus Oxford dan Webster) kata ini berasal dari bahasa Yunani yakni <em>arch</em> (besar, utama) dan <em>pelagos</em> (laut). Jadi <em>archipelagic state</em> sebenarnya harus diartikan sebagai ‘negara laut utama’ yang ditaburi dengan pulau-pulau, bukan negara pulau-pulau yang dikelilingi laut. Dengan demikian paradigma perihal negara kita seharusnya terbalik, yakni negara laut yang ada pulau-pulaunya. 7</p>
<p>Dalam kaitan dengan negara kelautan, maka etos kapitan perahu dapat menunjukkan orientasi baru dalam budaya politik Indonesia. Pertama, dalam etos kapitan perahu, seorang pemimpin perahu tidak mungkin didrop begitu saja dari atas, tetapi harus bertumbuh dari bawah dan mencapai pengetahuan dan kematangan tertentu yang dipersyaratkan. Dropping tentu saja bisa dilakukan, akan tetapi risikonya akan sangat tinggi, karena kapitan perahu yang tidak menguasai pengetahuan tentang navigasi, alur pelayanan, arah angin, tanda badai, cara menetapkan arah perahu dengan membaca letak bintang, tidak akan sanggup membawa perahu dan penumpangnya sampai ke tempat tujuan, atau perahunya segera menabrak karang dan tenggelam. Ibaratnya, dia harus membawa perahunya dari Surabaya ke Makasar, tetapi perahunya terdampar di Cilacap.<br />
Kedua, dalam etos ini diharuskan proses pengambilan keputusan yang cepat dan kemampuan mengoreksi keputusan dalam waktu singkat. Ketika menghadapi topan di tengah laut seorang kapitan perahu tidak bisa mengajak berunding para awak dalam musyarawarah selama dua tiga jam. Dia harus memutuskan dengan cepat, misalnya pada pukul 23.00 malam, dan kemudian kalau keputusannya terbukti keliru, dia harus mengoreksinya pada pk. 23.05. Keragu-raguan dalam mengambil keputusan, dan kelambanan atau keengganan untuk mengoreksi keputusan yang salah akan berakibat fatal bagi keselamatan perahunya dan hidup para penumpang perahu.</p>
<p>Ketiga, dalam menghadapi bahaya karamnya perahu maka seorang kapitan perahu akan menjadi orang terakhir yang meninggalkan perahu, setelah penumpang lain mendapat kesempatan menyelamatkan diri atau mendapat pertolongan yang semestinya. Secara tradisional dia dilarang meninggalkan perahunya apabila masih ada penumpang yang membutuhkan pertolongan. Tentu saja seorang kapitan perahu bisa juga ketakutan menghadapi bahaya dan dapat meluputkan dirinya sebelum penumpang lainnya selamat. Akan tetapi hal itu akan merupakan aib yang diceritakan turun-temurun di kampung halamannya, dan turunannya harus menanggung malu untuk waktu yang lama, karena ada kapitan perahu yang demikian pengecut menyelamatkan diri sambil meninggalkan penumpang perahu terkatung di tengah laut, dihempas ombak dan meninggal ditelan badai.<br />
Tentu saja lukisan tersebut lebih merupakan tipe ideal atau <em>ideal types</em> dalam pengertian Max Weber, yaitu suatu tipe yang dilukiskan dalam kesempurnaan logisnya, sebagai referensi normatif bagi apa yang sesungguhnya terdapat dalam kenyataan empiris. Jadi ada kapitan perahu yang sangat dekat dengan tipe ideal dan ada pula yang sangat jauh dari tipe ideal tersebut, tetapi kita mempunyai pegangan tentang bagaimana seorang kapitan perahu harus berlaku dan bertindak apabila dia berada dalam kondisi ideal untuk menjalankan tugasnya.</p>
<p>Apa yang dikemukakan di sini tentang etos kapitan perahu, dapat menjadi ilustrasi bahwa seperangkat nilai yang dikembangkan dalam suatu komunitas terbatas, dan dilegitimasi dengan alasan-alasan budaya dalam komunitas itu, dapat ditransfer dan diterapkan di ruang publik, asal saja segala alasan dan atribut yang bersifat komunal telah ditanggalkan (agar supaya dapat dipahami oleh publik yang lebih luas), sambil tetap dipertahankan substansi nilai yang dapat diterapkan juga di luar komunitas itu.<br />
Contoh lain yang mungkin lebih aktual bagi kita adalah masalah hak asasi manusia. Saya yakin bahwa tiap agama dapat mengajukan alasan yang diambil dari ajaran teologinya untuk membenarkan penghormatan terhadap hak asasi manusia, dan kewajiban tiap orang membela hak tersebut. Akan tetapi dalam debat di DPR atau dalam proses di pengadilan tentang pelanggaran HAM orang tidak bisa lagi mengajukan alasan-alasan teologis dari agamanya masing-masing untuk membela pendapatnya. Karena alasan-alasan teologis termasuk dalam ruang privat tiap agama, sedangkan pengadilan negara mengharuskan suatu rujukan bersama kepada hukum positif.</p>
<p>Namun demikian pentingnya HAM dan sikap militan para aktivis HAM dalam membela hak ini dapat diterangkan dengan latarbelakang religius dari mana paham itu telah mendapat inspirasinya. 8 Untuk mengambil sebuah contoh, dalam tradisi kebudayaan Barat yang Kristen, ada teologi yang mengakar kuat bahwa tiap orang diciptakan seturut citra Allah, <em>imago Dei, das Bild Gottes</em>, atau <em>the image of God</em>. Dalam teologi ini dianut kepercayaan bahwa citra Tuhan itu adalah sesuatu yang suci yang tetap ada dalam diri seseorang, sekali pun dia seorang pencuri, pembunuh, atau seorang yang tidak percaya lagi kepada Tuhan. Kesucian citra ini dalam diri tiap orang tetap harus dihormati karena dua alasan. Pertama, citra itu diberikan oleh Tuhan sendiri dan bukan prestasi orang bersangkutan. Kedua, citra itu tetap hadir dalam diri tiap orang dengan seluruh kesuciannya, meskipun seseorang melakukan perbuatan kriminal yang ekstrim. Setelah mengalami proses sekularisasi yang panjang, konsep citra Tuhan ini tidak begitu kedengaran lagi di Barat, tetapi diganti oleh konsep martabat manusia, yang menjadi sumber segala hak asasi manusia. Nilai yang semula bersifat privat dalam suatu kelompok agama telah menjadi nilai publik dalam civil society.</p>
<p><strong>II</strong></p>
<p>Pandangan bahwa seni termasuk dalam ruang privat, mencapai puncaknya dalam paham dan slogan “seni untuk seni” (<em>art for art’s sake</em>). Paham ini telah muncul dalam kalangan seniman di Barat, dan harus dilihat kemunculannya dalam hubungan dengan perkembangan kebudayaan di Barat juga. Semenjak zaman pertengahan, kehidupan dalam masyarakat Barat praktis dikuasai oleh kendali teologi Kristen katolik, yang ada dalam monopoli gereja Roma katolik. Seni dalam pada itu berkembang sebagai sebuah bagian integral dari kehidupan keagamaan, dan mengabdi kepada keperluan-keperluan yang berhubung dengan pengembangan dan penyempurnaan ibadat. Kesenian, dan khususnya arsitektur Gotik misalnya menjadi dokumen visual tentang hubungan yang erat di antara teologi, kehidupan agama, dan seni. Gagasan tentang Tuhan yang transendental yang berada <em>in excelsis</em>, yaitu berada di tempat yang sangat tinggi, mendapatkan refleksinya secara arsitektural dalam garis-garis vertikal yang sangat dominan dalam arsitektur Gotik, sementara candi-candi katedral dibuat lancip dan runcing menusuk langit, dan mengesankan usaha menggapai sesuatu yang tak terjangkau dari bumi. 9</p>
<p>Ide tentang seni untuk seni adalah usaha pembebasan seni dari tugasnya sebagai kegiatan yang harus melayani tujuan lain di luar dirinya. Contoh tentang seni dan agama dalam abad pertengahan Eropa dan pembebasan dari fungsi keagamaan seni yang berlangsung semenjak renaisans, memperlihatkan kepada kita bahwa dua sektor yang berada dalam ruang privat (yaitu seni dan agama) dapat memperjuangkan otonominya masing-masing.</p>
<p>Persoalan yang menjadi perhatian kita hari ini adalah bagaimana hubungan yang wajar antara seni sebagai suatu sektor privat dengan masalah-masalah yang ada dalam ruang publik yang direpresentasikan dalam civil society. Pada titik ini pun seni dan khususnya sastra Indonesia memperlihatkan berbagai contoh yang menarik. Pertanyaan pertama adalah apakah suatu isu atau masalah publik harus menjadi rujukan dalam berkesenian? Tanpa perlu beragumentasi lebih panjang, dapatlah dikatakan begitu saja, bahwa paham ini jelas ditolak dalam kalangan seniman. Ketegangan dan bahkan permusuhan antara seniman bebas dan seniman Lekra pada tahun-tahun 1950-an hingga 1960-an patut dicatat sebagai pengalaman yang harus dipelajari dalam sejarah sastra Indonesia, bukannya dihapuskan dari memori kolektif bangsa kita.</p>
<p>Puisi misalnya tidak harus ditulis untuk mendorong peningkatan kesejahteraan rakyat atau perbaikan kesehatan ibu dan anak. Akan tetapi terhadap isu keadilan dan kemiskinan, sastrawan Indonesia memperlihatkan sikap yang berbeda. Penyair Rendra misalnya dengan tegas mengatakan bahwa sekalipun seni umumnya dan sastra khususnya, harus dikembangkan berdasarkan disiplin artistik, namun dalam pesan yang disampaikannya, seni dapat dan bahkan harus memberi respons kepada masalah keadilan, pemerintahan yang bersih, atau pendidikan nasional yang merupakan sektor-sektor publik. Pendapat ini mempunyai dasar dalam paham Rendra, bahwa seorang seniman bukanlah seorang yang cukup bermewah-mewah dengan segala yang indah, tetapi bertugas memberi kesaksian tentang zamannya. Atau dalam kata-kata Rendra sendiri:</p>
<p><em>Aku mendengar suara / jerit hewan yang terluka. / Ada orang memanah rembulan / ada burung terjatuh dari sarangnya. / Orang-orang harus dibangunkan. / Kesaksian harus diberikan / agar kehidupan bisa terjaga</em> 10</p>
<p>Meski pun demikian dalam memberikan kesaksian ini seniman tetap berpegang pada disiplin artistik yang dimungkinkan dalam dunia seni. Tentang keterlibatannya dalam masalah-masalah publik ini Rendra berkata dalam sebuah sajaknya:</p>
<p><em>Gunung-gunung menjulang / langit pesta warna di dalam senjakala / Dan aku melihat / protes-protes yang terpendam / terhimpit di bawah tilam.</em></p>
<p><em>Aku bertanya, / tetapi pertanyaanku / membentur jidat penyair-penyair salon,/ yang bersajak tentang anggur dan rembulan, / sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya, / dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan / termangu-mangu di kaki dewi kesenian</em></p>
<p><em>(kutipan dari “Sajak Sebatang Lisong”)</em> 11</p>
<p>Apa yang dinamakan disiplin artistik rupanya mirip fungsinya dengan metode dalam berkesenian. Ini ada konsekuensinya yang berat buat seniman sendiri. Sebagai perbandingan, dalam ilmu-ilmu sosial berlaku asas bahwa tidak semua masalah sosial dapat diteliti dengan satu macam metode (misalnya statistik atau survei). Apa yang akan menentukan metode yang digunakan adalah masalah yang hendak diselidiki dalam suatu penelitian. Jadi bukan metode yang menentukan masalah yang diteliti, tetapi masalah penelitianlah yang menentukan metode apa yang sebaiknya dipergunakan, ibaratnya orang memukul paku dengan martil, tetapi mencabut paku dengan sebuah tang.</p>
<p>Asas ini diterapkan Rendra dalam konsepnya tentang disiplin artistik. Menurut dia. pekerjaan seorang penyair (atau seniman pada umumnya) menjadi berat, karena dia harus cukup sensitif menangkap masalah zamannya dan memberi kesaksian pribadi tentang masalah tersebut, dan sekaligus dituntut menguasai format artistik yang tepat dan sesuai dengan tuntutan pesannya. Demikianlah, untuk melukiskan pengalaman dan kepekaannya terhadap alam, Rendra merasa cukup memakai simbolisme dan imaji-imaji yang diambil dari tembang-tembang Jawa, yaitu sajak-sajak yang kemudian terhimpun dalam <em>Kakawin Kawin</em> dan <em>Masmur Mawar</em>. Tentang pengantinnya dia berkata:</p>
<p><em>Awan bergoyang, pohonan bergoyang / antara pohonan bergoyang malaikat membayang / dari jauh bunyi merdu lonceng loyang<br />
Sepi syahdu, / madu rindu, / candu rindu,/ gairah kelabu / rebahlah, sayang, rebahkan wajahmu ke dadaku</em></p>
<p><em>Langit lembayung, pucuk-pucuk daun lembayung / antara dedaunan lembayung bergantung hati yang ruyung / dalam hawa bergulung antara mantra dan tenung</em></p>
<p><em>(Dari sajak “Nina Bobok Bagi Penganten”)</em> 12</p>
<p>Pada tahapan berikut, khususnya ketika berada di New York, Rendra merasa terpanggil untuk memberikan suatu tes kepada moral umum yang berlaku dalam masyarakat. Untuk keperluan ini dia merasa simbolisme tidak memadai lagi, dan dia harus mencari format artistik lain yang didukung oleh filsafat antropologi dan pengalaman mistik. Disiplin artistik pada tahap ini dikembangkan dari kombinasi dan tegangan antara misteri dan ambiguitas, yang tampil dalam metafor-metafor yang surealistis sebagaimana terlihat dalam kumpulan sajak <em>Blues Untuk Bonnie</em>. Tentang seorang Negro tua yang bernyanyi dengan gitar dalam sebuah café di kota Boston, sambil berkisah tentang gubuk-gubuk tua orang Negro di Georgia, Rendra berkata:</p>
<p><em>Georgia, / Georgia yang jauh disebut dalam nyanyinya / istrinya masih di sana / setia tapi merana / anak-anak Negro bermain di selokan, / tak krasan sekolah. / Yang tua-tua jadi pemabuk dan pembual / banyak hutangnya / Dan di hari Minggu mereka pergi ke gereja yang khusus untuk Negro / Di sana bernyanyi / terpesona pada harapan akherat / karena di dunia mereka tak berdaya</em></p>
<p><em>Georgia. / Lumpur yang lekat di sepatu / </em></p>
<p><em>Gubuk-gubuk yang kurang jendela. / Duka dan dunia / sama-sama telah tua. / Sorga dan neraka / keduanya asing pula. / Dan Georgia? / Ya, Tuhan / Setelah begitu jauh melarikan diri / masih juga Georgia menguntitnya</em></p>
<p><em>(Dari sajak “Blues Untuk Bonnie”)</em> 13</p>
<p>Seterusnya antara 1971 dan 1978, menurut pengakuannya sendiri, Rendra memusatkan perhatian pada soal-soal sosial-ekonomi dan sosial-politik, untuk memberikan suatu tes kepada relevansi politis dalam kehidupan publik. Dia menulis beberapa sajak sosial-politis yang kemudian dikumpulkan dalam kumpulan sajak Potret Pembangunan Dalam Puisi dan juga dalam Orang-Orang Rangkasbitung. Untuk keperluan ini dia merasa peralatan estetik dalam metafor-metafor surealistis tidak memadai lagi dan dia mencari format artistik baru melalui analisa struktural ilmu sosial, dan mencoba menggarap metafor-metafor yang lebih grafis dan plastis. 14 Dalam melukiskan perjuangan cinta antara Saijah dan Adinda, plastisitas itu tampil dalam format yang mendekati taraf ideal:</p>
<p><em>Adinda! Adinda! / Kemiskinan telah memisahkan kita / sepuluh tahun menahan dahaga asmara / alangkah sulit cinta di zaman edan, / di dalam hidup penuh ancaman. / Semua hak dianggap salah. / Tak punya apa-apa dianggap sampah / Alangkah hina orang yang kalah. / Meskipun miskin tanpa daya / aku toh harus berupaya / karena takut gila / dan dosa</em></p>
<p><em>(Dari sajak “Nyanyian Saijah untuk Adinda”)</em> 15</p>
<p>Respons seni terhadap masalah publik tidak selalu mudah dilakukan karena ada tuntutan yang lebih tinggi kepada para seniman, untuk selalu mencari disiplin artistik dan format estetik yang dapat mendukung pesan yang hendak disampaikan. Kesulitan besar akan muncul kalau seorang penyair misalnya, hanya menguasai satu bentuk pengucapan, satu disiplin artistik, dan memaksakan disiplin tersebut sebagai sarana untuk menyampaikan berbagai pesan yang berbeda wataknya. Dalam kasus Rendra, simbolisme yang berhasil mengungkapkan pergaulan penyair dengan alam, barangkali akan menjadi gagap kalau dipaksakan juga menjadi sarana untuk mengekspresikan kesadaran sosial atau kesadaran politis.</p>
<p>Kita bertanya: mengapa gerangan seorang penyair perlu melibatkan dirinya dalam masalah-masalah publik yang muncul dalam civil society dan masalah kekuasaan yang muncul dalam politik? Dalam paham Rendra, ini harus dilakukan karena perlu dilakukan dan dapat dilakukan oleh kesenian, meskipun dia tidak banyak menguraikan mengapa hal ini ini perlu dan dapat dilakukan.</p>
<p>Dalam pandangan saya, seni dapat memainkan peranan penting dalam memberi respons kepada isu-isu publik sekurang-kurangnya karena dua alasan. Pertama, kita mengetahui bahwa baik dalam ruang privat maupun dalam ruang publik selalu ada nilai-nilai yang menjadi pegangan. Namun demikian, realisasi nilai-nilai itu terlaksana melalui berbagai pranata yang melembagakan suatu nilai. Nilai-nilai demokrasi diwujudkan dalam lembaga-lembaga politik seperti Pemilu, DPR, dan kebebasan pers, atau nilai keadilan diwujudkan dalam lembaga-lembaga peradilan. Namun demikian, kesulitan selalu timbul karena hubungan di antara nilai dan lembaga yang mengejawantahkannya bersifat asimetris.</p>
<p>Maka nilai hanya dapat diwujudkan melalui suatu pranata (sebagaimana cinta lelaki perempuan diwujudkan dalam lembaga perkawinan), tetapi adanya suatu pranata tidak dengan sendirinya merealisasikan nilai yang direpresentasikannya (seperti juga tidak setiap perkawinan menjadi tempat penjelmaan cinta lelaki dan perempuan). Pemilu merepresentasikan hak rakyat untuk menentukan sistem pemerintahannya, tetapi pelaksanaan Pemilu tidak dengan sendirinya mewujudkan hak rakyat tersebut (misalnya karena penggunaan pemaksaan dalam pemberian suara, atau karena rakyat dipikat dengan sejumlah uang sogok untuk mendapatkan suara yang diinginkan). Lembaga pengadilan merepresentasikan nilai keadilan, tetapi tidak setiap lembaga pengadilan merealisasikan keadilan bagi para pencari keadilan sebagaimana mestinya, apalagi kalau lembaga-lembaga itu sudah dikuasai oleh semacam jaringan mafia peradilan.</p>
<p>Kedua, setiap orang yang menggunakan pengamatannya dengan cermat dapat melihat kesenjangan antara nilai dan lembaga yang mengejawantahkannya. Namun demikin, ketajaman dalam melihat dan merasakan kesenjangan itu ada secara khusus dalam diri para seniman, Ini bukan karena para seniman lebih saleh, lebih sadar hukum, atau lebih berkomitmen terhadap transparansi, tetapi karena dalam menciptakan karya-karya kreatif yang berhasil, para seniman harus memenuhi tuntutan otentisitas pesan yang hendak disampaikan , dan orisinalitas ekspresi dalam pengungkapan pikiran dan perasaan. Otentik berarti bahwa suatu pesan yang diungkapkan, merupakan hasil pergulatan pribadi yang intens dan total, dan bukan sekedar buah pikiran intelektual atau letupan entusiasme emosional.</p>
<p>Pesan yang otentik berbeda dari pesan yang benar, karena kebenaran pesan diukur berdasarkan kesesuaian antara apa yang dikatakan dan apa yang ditunjuk oleh oleh pesan bersangkutan, sedangkan otentisitas ditentukan oleh kesesuaian antara apa yang dikatakan dan keyakinan serta penghayatan orang yang mengatakannya. Demikian pun orisinalitas berarti bahwa cara mengungkapkan suatu pesan, mencerminkan hasil suatu perjuangan khusus untuk mendapatkan bentuk penyampaian yang unik. Keistimewaan sebuah karya seni ialah bahwa baik isi pesan maupun bentuk penyampaiannya sekaligus merupakan pancaran kepribadian seorang seniman yang memperlihatkan secara ideal keunikan tiap pribadi manusia dan kemampuan tiap pribadi menyampaikan satu aspek kenyataan hidup secara khas.</p>
<p>Tidak mengherankan bahwa para seniman akan sangat peka terhadap segala pesan, juga pesan dan pernyataan yang disampaikan dalam ruang publik dan bahkan dalam ruang politik (misalnya janji politik untuk lebih memperhatikan pendidikan atau pernyataan mengenai kesejahteraan rakyat). Pesan-pesan dan pernyataan tersebut akan diuji berdasarkan kriteria seniman dalam menilai sebuah karya seni, yaitu otentisitas peryataan, dan orisinalitas ekspresi. Sebuah pernyataan yang tidak otentik, hampir dengan sendirinya tidak mencerminkan pikiran dan perasaan orang yang mengucapkannya, mana pula komitmen pribadinya terhadap pernyataannya. Demikian pun sebuah pernyataan yang tanpa orisinalitas hanya merupakan replika ucapan orang lain, atau reproduksi slogan dan wacana umum, sehingga tidak mengesankan sebagai suatu ungkapan pribadi yang telah mengalami pergulatan dalam mencari bentuk ekspresi yang unik. Apa yang tidak otentik menjadi palsu, dan ekspresi yang tanpa orisinalitas menjadi kodian. Tentang kesenjangan ini penyair Rendra membuat semacam deklarasi dalam puisi:</p>
<p><em>Aku tulis pamplet ini / karena lembaga pendapat umum /ditutupi jaring laba-laba / Orang-orang bicara dalam kasak-kusuk / dan ungkapan diri ditekan / menjadi peng-iya-an</em></p>
<p><em>Apa yang terpegang hari ini / bisa luput besok pagi / ketidakpastian merajalela / di luar kekuasaan kehidupan menjadi teka-teki / menjadi marabahaya / menjadi isi kebon binatang</em></p>
<p><em>(Dari sajak “Aku Tulis Pamplet Ini”)</em> 16</p>
<p>Dan tentang otentisitas pernyataan dan orsinalitas ekspresi Rendra berkata:</p>
<p><em>Apakah artinya janji yang ditulis di pasir? / Apakah artinya pegangan yang hanyut di air? / Apakah artinya tata warna dari naluri rendah kekuasaan? / Apakah artinya kebudayaan plastik dan imitasi ini?</em></p>
<p><em>(Dari sajak “Ketika Udara Bising”)</em> 17</p>
<p>Kesenjangan antara nilai dan wujud pengejawantahannya adalah jamak dalam kebudayaan. Akan tetapi seni tidak memberikan toleransi kepada diskrepansi ini karena otentisitas akan menuntut bahwa nilai harus dihayati secara total dan tuntas, dan diinternalisasi menjadi personal, sementara orisinalitas tidak berkompromi dengan imitasi, duplikasi, reproduksi dan pretensi. Semua ini tidak berhubung dengan moral umum, tetapi tetapi dengan moral pribadi, yaitu apa yang diyakini sebagai disiplin yang menjamin daya cipta. Namun demikian apa yang oleh kalangan seniman dikemukakan sebagai syarat estetik dapat menjadi referensi bagi kejujuran moral dan akuntabilitas politik.</p>
<p><strong>III</strong></p>
<p>Hubungan di antara ruang privat dan publik tidak selalu jelas, karena kedua bidang itu tidak merupakan dua medan yang terputus, tetapi bersambung secara dinamis. Hubungan itu menjadi kontroversi yang belum selesai sampai hari ini dalam bidang yang kita namakan ekonomi. Apakah ekonomi termasuk dalam ruang privat atau ruang publik?</p>
<p>Semenjak Adam Smith sudah dimaklumkan bahwa yang mengendalikan tingkahlaku ekonomi tidak lain dari kepentingan perorangan, kepentingan pribadi. Penjual roti membuka tokonya bukan untuk memberi makan kepada mereka yang membutuhkan, tetapi untuk mendapat untung bagi dirinya. 18 Diandaikan bahwa bila setiap orang bekerja dan berjuang untuk kepentingan dirinya, maka ada tangan tersembunyi yang akan mengatur kepentingan-kepentingan pribadi itu sehingga menguntungkan semua orang. Campur tangan kebijakan publik apalagi intervensi politik dalam pasar, hanya akan mengakibatkan distorsi yang mengganggu kinerja <em>invisible hands</em>, dan pada giliran berikutnya mengganggu kepentingan bersama.</p>
<p>Untuk mempersingkat pembicaraan ini, dapat kita katakan bahwa ekonomi dapat dipandang sebagai ruang privat, tempat setiap orang mencari ikhtiar untuk menciptakan kehidupan yang baik, dan memberi jawaban kepada <em>the question of good life</em> yang menjadi tema dalam ruang privat. Namun demikian, dalam prakteknya impian Adam Smith tidak selalu menjadi kenyataan, karena kemakmuran suatu golongan acapkali tercipta karena golongan lain yang lebih besar disingkirkan dari akses ke sumber daya ekonomi. Pada saat itu muncul ketidakk-adilan, khususnya ketidak-adilan distributif, sehingga ekonomi menjadi persoalan keadilan, persoalan publik. Para ahli ekonomi sendiri sudah sejak lama mengakui bahwa apa yang dinamakan Pareto Optimal tidak pernah ada, yaitu keadaan di mana seorang mendapat keuntungan lebih banyak, tanpa menimbulkan kerugian pada pihak lain.</p>
<p>Dengan cara yang amat disederhanakan dapat dikatakan bahwa sejauh menyangkut kehidupan yang baik atau <em>good life</em> ekonomi termasuk dalam ruang privat, sedangkan sejauh menyangkut keadilan dan ketidak-adilan maka ekonomi masuk dalam ruang publik. Kita tahu, persoalan mengenai sifat privat dan publik dalam ekonomi sudah menjadi bahan perdebatan para ahli dari tahun ke tahun bahkan dari abad ke abad. Dalam negara-negara sosialis ekonomi seluruhnya menjadi masalah publik, sedangkan negara-negara demokrasi selalu berdebat tentang <em>trade-off</em> atau pergeseran antara ekonomi sebagai ruang privat dan ruang publik. Di Indonesia masalah itu menjelma menjadi debat tentang peran pasar dan peran negara dalam ekonomi, dan pilihan antara liberalisasi pasar sebagaimana diusulkan oleh Washington Consensus pada 1994 dan peran kebijakan publik dalam ekonomi. Sementara itu kalau kemiskinan belum menurun, lapangan kerja tetap sulit, dan harga barang terus naik, apakah hal ini harus dilihat sebagai kegagalan pasar atau kegagalan pemerintah?</p>
<p>Masalah ini berada di luar pokok pembicaraan hari ini, tetapi mempunyai implikasi tertentu terhadap persoalan seni dan civil society. Dari satu pihak sudah dikatakan bagaimana seni dapat merespons masalah-masalah dalam civil society. Masalah lain adalah apakah tema-tema kesenian mempunyai semacam akar sosial-ekonomi dan sosial politik, yang kemudian bertunas dan berkembang sebagai sebuah karya kreatif seni? Apakah seorang seniman, disengaja atau pun tidak, dinyatakan atau pun disembunyikan, memperlihatkan sesuatu yang menyangkut latarbelakang dan konteks konteks sosial-ekonomis dan sosial-politisnya, meski pun hubungan itu telah ditransformasi melalui sublimasi estetik dan sofistikasi artistik? Di antara pemikir-pemikir tersebut ada kesepakatan bahwa ada hubungan itu, ada semacam <em>social underpinnings</em> dari tiap karya seni. Masalahnya adalah bagaimana bentuk dan wujud hubungan tersebut? 19</p>
<p>Filosof Adorno misalnya beranggapan bahwa bukan hanya karya seni tetapi tiap teori ilmu pengetahuan harus dipandang pertama-tama sebagai teori tentang masyarakat di mana teori tersebut diproduksikan. Namun demikian, dalam hal seni, sebuah karya bukannya menjadi pantulan atau refleksi keadaan sosial ekonomi dan sosial politis masyarakat, melainkan lebih menjadi antitesa terhadapnya dan berada dalam tegangan dialektis dengan masyarakatnya. 20 Habermas dengan mengikuti rekannya Walter Benjamin berpendapat bahwa dalam masyarakat borjuis yang kapitalis banyak kebutuhan manusia yang berhubung dengan rasionalitas nilai (<em>Wertrationalitaet</em>) sudah tidak mendapat tempat yang pantas dan bahkan diperlakukan sebagai ilegal, karena tidak memenuhi tuntutan rasionalitas instrumental (<em>Zweckrationalitaet</em>) yang menjadi pedoman satu-satunya dunia industri yang kapitalis. Beberapa dari kebutuhan tersebut adalah pergaulan mimetis dengan alam, pergaulan dengan badan, keinginan untuk hidup solider dengan orang lain, serta keinginan untuk merasakan kebahagiaan menghayati pengalaman komunikasi yang tidak serba pragmatis. Semua ini kemudian tertampung dalam kesenian yang memberi tempat secara real atau secara virtual untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan tersebut. 21</p>
<p>Paham-paham filosofis dan sosiologis itu dapat ditarik implikasinya untuk kehidupan kesenian di Indonesia. Kalau setiap karya seni mempunyai semacam <em>social underpinnings</em> atau akar kemasyarakatan, maka kosekuensi apa yang dapat kita tarik dari sana?</p>
<p>Pertama, dapatkah dengan mendalami karya-karya seni di Indonesia, kita memperoleh suatu impresi bahkan pengetahuan mengenai perkembangan masyarakat kita, karena kesenian melalui sofistikasi estetis dan sublimasi artistik dapat mengungkapkan berbagai masalah sosial kita atas caranya sendiri, baik dengan menyatakannya maupun dengan menyembunyikannya? Kita tahu bahwa dalam simbolisme seseorang dapat menyatakan sesuatu dengan menyembunyikan, dan dapat menyembunyikan sesuatu dengan menyatakannya. Kedua, sekalipun karya seni dapat menjadi tempat konflik-konflik sosial ekonomi diungkapkan secara tersirat dan tersembunyi, apakah hal ini berarti bahwa seni dapat menjadi tempat seseorang menyembunyikan diri dan menghindari konflik-konflik sosial ekonomi, atau harus menjadi tempat orang mengungkapkan konflik-konflik tersebut sebagai bentuk tanggungjawabnya terhadap perkembangan yang ada dalam masyarakat?</p>
<p>Jawaban terhadap pertanyaan tersebut hanya dapat diberikan oleh para seniman sendiri berdasarkan opsi pribadi yang mereka tentukan sendiri, dan berdaarkan penguasaan mereka terhadap masalah masyarakatnya dan ketrampilan mereka dalam menggunakan format estetik dan disiplin artistik yang mendukung pesan yang hendak disampaikan. Kita dapat berbahagia bahwa ada seniman-seniman kita seperti penyair Rendra telah menyatakan sikapnya secara gamblang, tanpa keraguan:</p>
<p><em>Orang-orang miskin di jalan / yang tinggal di dalam selokan / yang kalah dalam pergulatan,/ yang diledek impian, / janganlah mereka ditinggalkan</em></p>
<p><em>(Dari sajak “Orang-Orang Miskin”) </em> 22</p>
<p>Pesan penyair ini tentu saja tidak hanya tertuju kepada rekan-rekannya para seniman, dan khususnya para penyair Indonesia, tetapi kepada semua kita sebagai penghuni yang sah dari civil society yang bernama Indonesia.</p>
<p><strong><em>Jakarta, 31 Oktober 2009</em></strong></p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p>Catatan kaki:</p>
<p>1. Kutipan dari Rendra, <em>Perjalanan Bu Aminah</em> (kumpulan sajak), Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, 1997 : 1.</p>
<p>2. Distingsi privat dan publik ini dibuat berdasarkan teori liberal sebagaimana diuraikan oleh Bruce Ackerman dalam bukunya <em>Social Justice in the Liberal State</em> (1980) yang dibahas oleh Seyla Benhabib “Models of Public Space: Hannah Arendt, the Liberal Tradition, and Juergen Habermas” dalam Craig Calhoun (ed.), <em>Habermas And The Public Sphere</em>, Cambridge – Massachusetts – London, The MIT Press, 1992 : 81 -85.</p>
<p>3. Peter Uwe Hohendahl, “The Public Sphere: Models and Boundaries”, dalam Craig Calhoun (ed.), op.cit.: 100 -101.</p>
<p>4. Max Weber menamakannya “das Monopol legitimer Gewaltsamkeit” atau monopoli penggunaan kekerasan secara legitim, sebagai hak istimewa negara di samping haknya menarik pajak. Lihat Max Weber, Wirtschaft und Gesellschaft, Tuebingen, J.C.B. Mohr, 1985 (1922) : 821 – 824.</p>
<p>5. Tentang pembagian ruang privat, ruang publik dan ruang politik lihat Juergen Habermas, <em>Strukturwandel der Oeffentllichkeit</em>, Darmstadt &amp; Neuwied, Luchterhand Verlag, 1980 : 42 – 46.</p>
<p>6. Konsep “kapitan perahu” dikemukakan oleh Prof. Mattulada berdasarkan beberapa penelitian yang dilakukannya tentang budaya pesisir di Sulawesi.</p>
<p>7. Adrian B. Lapian, <em>Orang Laut, Bajak Laut, Raja Laut: Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX</em>, Jakarta, Komunitas Bambu, 2009 : 2.</p>
<p>8. T. S. Kuhn, seorang ahli sejarah ilmu pengetahuan, mengemukakan dalilnya bahwa suatu teori ilmu pengetahuan sering menimbulkan sikap militan dalam kalangan penganutnya untuk membelanya. Hal ini disebabkan karena selain isi empirisnya, ada semacam metaphysical underlay dalam setiap teori, yang berhubung dengan pandangan dunia dan pandangan hidup seseorang. Berubahnya sebuah teori ilmu pengetahuan dikuatirkan akan mengganggu pandangan dunia dan pandangan hidup seseorang. Lihat T. S. Kuhn, <em>The Structure of Scientifc Revolution</em>, Chicago, University of Chicago Press, 1962 : 58 -61.</p>
<p>9. Dr. Wendelin Rauch &amp; Dr. Jakob Hommes (ed.), <em>Lexikon des Katholischen Lebens</em>, Freiburg, Verlag Herder, 1952, sub voce “Kunst”.</p>
<p>10. Kutipan diambil dari wawancara Hardi dan Rendra “Rendra: Saya Punya Mental Juara”, dimuat dalam Edi Haryono (ed.), Ketika Rendra Baca Sajak, Kepel Press, 2004 : 133 – 134.</p>
<p>11. Rendra, <em>Potret Pembangunan Dalam Puisi</em>, Jakarta, Pustaka Jaya, 1993 : 34.</p>
<p>12. Rendra, <em>Empat Kumpulan Sajak</em>, Jakarta, Pustaka Jaya, 1994 : 44.</p>
<p>13. Rendra, <em>Blues Untuk Bonnie</em>, Jakarta, Burungmerak Press, 2008 : 18.</p>
<p>14. Tentang perkembangan disiplin artistik baca uraian Rendra dalam Rendra, <em>Mempertimbangkan Tradisi</em> (diedit oleh Pamusuk Eneste), Jakarta, Gramedia, 1984 : 61 -70.</p>
<p>15. Rendra, <em>Orang-Orang Rangkasbitung</em>, Depok, Rakit, 2001 : 32 – 33.</p>
<p>16. Rendra, <em>Potret Pembangunan Dalam Puisi</em> : 31</p>
<p>17. Rendra, <em>Perjalanan Bu Aminah</em>, Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, 1997 : 19.</p>
<p>18. Kutipan yang sangat terkenal dari Adam Smith berbunyi: <em>“It is not from the benevolence of the butcher, the brewer, or the baker that we expect our dinner, but from their regard to their own interest. We address ourselves, not to their humanity but to their self-love, and never talk to them of our own necessities but of their advantages”</em>, Lihat Adam Smith, <em>The Wealth of Nations</em>, vol.I, London, J.M. Dent &amp; Sons Ltd, 1957 : 13.</p>
<p>19. Masalah ini telah saya bahas dalam tulisan saya yang lain tentang “Pergeseran Moral, Perkembangan Kesenian dan Perubahan Sosial”, dalam Ignas Kleden, <em>Sastra Indonesia Dalam Enam Pertanyaan</em>, Jakarta, Grafiti &amp; Freedom Institute, 2004 : 367 – 403.</p>
<p>20. Theodore W. Adorno, <em>Aesthetische Theorie</em>, Frankfurt a.M., Suhrkamp, 1977 : 19.</p>
<p>21. Juergen Habermas, <em>Kultur und Kritik</em>, Frankfurt a.M., Suhrkamp : 318.</p>
<p>22. Rendra, <em>Potret Pembangunan Dalam Puisi</em> : 82 82.</p>
<p><strong>PIDATO KEBUDAYAAN 2009</strong></p>
<p>MEMPERKUAT MASYARAKAT SIPIL DENGAN KESENIAN UNTUK MENGELOLA NEGARA DAN PASAR LEBIH BAIK: SENI DAN CIVIL SOCIETY</p>
<p>Oleh: DR. IGNAS KLEDEN</p>
<p>Selasa, 10 November 2009<br />
Pukul 19.30 WIB – selesai<br />
Graha Bhakti Budaya – Taman Ismail Marzuki<br />
Jl. Cikini Raya No. 73<br />
Jakarta Pusat</p>
<p>&nbsp;</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1394/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1394/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1394/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1394/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1394/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1394/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1394/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1394/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1394/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1394/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=komunitaskreatifbali.wordpress.com&blog=4712064&post=1394&subd=komunitaskreatifbali&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/2009/11/16/pidato-kebudayaan-ignas-kleden-seni-dan-civil-society/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/65488fdfd5916a82de09de279559ebe9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">balcom</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>NYANYIAN SEMESTA AYU LAKSMI</title>
		<link>http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/2009/11/16/nyanyian-semesta-ayu-laksmi/</link>
		<comments>http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/2009/11/16/nyanyian-semesta-ayu-laksmi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Nov 2009 12:12:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>balcom</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Ayu Laksmi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/?p=1389</guid>
		<description><![CDATA[
Kompas &#124; Sabtu, 14 November 2009 &#124; 03:00 WIB
Putu Fajar Arcana
Sejak tahun 2004 Ayu Laksmi seperti menemukan titik balik dalam karier bermusiknya. Ia merasa hidup telah cukup memberi pelajaran penting ketika beredar dari panggung ke panggung sejak usia 4 tahun. ”Mengapa saya harus menoleh keluar terus, sementara sesungguhnya apa yang saya punya adalah anugerah yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=komunitaskreatifbali.wordpress.com&blog=4712064&post=1389&subd=komunitaskreatifbali&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://komunitaskreatifbali.files.wordpress.com/2009/11/ayu-laksmi.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-1392" title="Ayu Laksmi" src="http://komunitaskreatifbali.files.wordpress.com/2009/11/ayu-laksmi.jpg?w=420&#038;h=261" alt="Ayu Laksmi" width="420" height="261" /></a></p>
<p>Kompas | Sabtu, 14 November 2009 | 03:00 WIB</p>
<p><strong>Putu Fajar Arcana</strong></p>
<p>Sejak tahun 2004 Ayu Laksmi seperti menemukan titik balik dalam karier bermusiknya. Ia merasa hidup telah cukup memberi pelajaran penting ketika beredar dari panggung ke panggung sejak usia 4 tahun. ”Mengapa saya harus menoleh keluar terus, sementara sesungguhnya apa yang saya punya adalah anugerah yang luar biasa dari Tuhan,” tutur Ayu, Kamis (12/11). Apa yang diungkapkan perempuan bernama lengkap I Gusti Ayu Laksmiyani ini tak lain <span id="more-1389"></span>dari inti ajaran Tat Twam Asi dalam Hindu, untuk menerima orang lain dan diri sendiri sebagaimana adanya. Maka, ketika didaulat untuk berdendang saat ia hadir dalam jumpa pers peresmian Bentara Budaya Bali dan Festival Bambu, Selasa (3/11), Ayu hanya meminta para wartawan dan seniman untuk memukul-mukul bambu. Tak ketinggalan, perupa Made Wianta dan Nyoman Erawan secara spontan turut memukul bambu. Lalu mengalirlah tembang ”Tat Twam Asi” ciptaan Ayu. Ia tampak khusyuk, tidak terganggu karena ketiadaan alat musik serta kondisi sistem tata suara (sound system) yang kacau.</p>
<p>”Saya tidak ingin banyak menuntut sehingga membuat segala sesuatu jadi rumit. Kalau tidak ada alat musik, saya masih punya diri saya untuk bernyanyi,” ujar Ayu seusai berdendang. Apa yang ditunjukkan penyanyi kelahiran Singaraja, Bali, ini tak lain dari perilaku ikhlas, sebuah ajaran hidup yang mudah dibicarakan tetapi terasa berat jika dipraktikkan. ”Semasih kita banyak menuntut pasti tidak akan bisa ikhlas,” ucap Ayu.</p>
<p><strong>Kesadaran</strong></p>
<p>Apa yang dicapai Ayu Laksmi bermula dari kesadaran yang diam-diam menyusup di dalam hidupnya. Selama menekuni profesi sebagai penyanyi, ia sudah begitu banyak membawakan lagu-lagu, terutama rock, karya para musisi asing. Ayu mengaku lelah dan jenuh mengikuti kinerja industri yang mendikte. Oleh karena itu, ia selalu berkata, ”Izinkan saya memilih lagu saya sebelum saya penuhi permintaan Anda.” Maka ia mulai belajar menembangkan gegitaan, bait-bait puisi yang terdapat dalam kitab-kitab Hindu.</p>
<p>Tembang-tembang gegitaan yang banyak diambil dari kitab Arjuna Wiwaha tak hanya berisi nyanyian pujian kepada Semesta yang memberi hidup alam dan manusia, tetapi mengandung pedoman moral untuk menjalani hidup. Setelah berkonsultasi dengan beberapa orang suci, Ayu menggubah ”Wirama Totaka” dan ”Wirama Swandewi” dari kitab Arjuna Wiwaha menjadi lagu dengan iringan alat-alat musik modern. Bersama kelompok musik Tropical Transit, Ayu mulai merambah panggung festival dan acara-acara yang bernuansa religi.</p>
<p>”Saya mewirama saja. Menembang bait-bait dalam kitab suci itu membutuhkan kesabaran, tidak boleh meledak, karena chord-nya cuma satu, pemusik juga harus menahan diri. Di situlah saya diajarkan untuk sabar…,” kata istri dari Steven van Lierde, lelaki asal Belgia tetapi sudah menetap di Bali selama 16 tahun, ini.</p>
<p>Dalam tataran itu, perempuan yang suka mengenakan busana putih ini telah menjadikan musik populer sebagai wahana kontemplasi. Lewat musik dan gegitaan yang ia lantunkan, Ayu mengajak semua orang untuk kembali kepada kearifan lokal. ”Yang saya belum berani, membawa alat-alat band ini ke pura,” tutur Ayu Laksmi.</p>
<p>Selama ini, ajaran-ajaran moral yang terdapat dalam nyanyian kitab suci di Bali senantiasa disiarkan dengan metode dan media konvensional. Aktivitas menembang tidak banyak menarik minat generasi terkini. ”Saya ingin mendekatkan mereka dengan ajaran menggunakan media yang populer,” kata Ayu.</p>
<p><strong>Vegetarian</strong></p>
<p>Setelah beberapa tahun menembangkan pujian-pujian kepada kebesaran Semesta, banyak orang mengira Ayu menjalani laku vegetarian. ”Banyak sekali orang bilang saya vegetarian,” kata sarjana hukum lulusan Universitas Udayana ini.</p>
<p>Lantaran makin banyak orang yang beranggapan begitu, Ayu menganggapnya sebagai petunjuk. ”Itu mungkin isyarat bagi saya untuk benar-benar menjalani laku vegetarian. Maka, sejak dua tahun lalu saya total vegetarian,” kata Ayu. Laku ini ia jalani tanpa motivasi spiritual. ”Saya hanya belajar mengendalikan diri saja,” katanya. Buat Ayu, menjadi vegetarian tak harus dihubungkan dengan kepercayaan atau peningkatan spiritualitas hidup manusia.</p>
<p>Pada era 1980-an, Ayu Laksmi malang melintang dalam dunia musik rock Indonesia. Ia berkeliling dari panggung ke panggung untuk meneriakkan, ”You want to rock…”. Bahkan, bersama dua kakaknya, Partiwi dan Ayu Wedayanti, dia sempat membentuk The Ayu Sisters yang pernah dinobatkan sebagai Best Performers dalam arena Bintang Radio dan Televisi tingkat nasional tahun 1983. Meski bergelimang di panggung hiburan, baru tahun 1991 ia melahirkan album solo. ”Itu satu-satunya album solo saya,” ujarnya. Tak banyak pula yang tahu bahwa Ayu pernah mengisi vokal lagu ”Hello Sobat” (Harry Sabar) untuk soundtrack film Catatan Si Boy II. Ia juga mengisi vokal soundtrack film Asmara. Bahkan, perempuan bertubuh langsing ini pernah memutuskan menetap di Jakarta tahun 1988-1990. ”Saya ingin serius di jalur hiburan,” kenangnya.</p>
<p>Bali selalu menariknya untuk kembali. Ketika pulang kampung, ia harus memulai segala sesuatunya dari nol. ”Saya mulai bernyanyi dari kafe ke kafe, lalu mendirikan restoran, kemudian berlayar ke Karibia dan menjadi penyanyi di kapal pesiar. Saya bernyanyi dalam bahasa Perancis, Inggris, dan Spanyol,” katanya.</p>
<p>Semua itu dipandang Ayu sebagai proses menuju pencapaiannya sekarang ini. Ketika mengikuti perjalanan film Under the Tree (Garin Nugroho) yang ia bintangi dalam Tokyo International Film Festival, Ayu didaulat menyanyi. ”Tidak ada alat musik sama sekali, tetapi saya tidak panik. Kembali saya menembangkan gegitaan itu saja…,” ujarnya.</p>
<p>Pelajaran penting dari seluruh rangkaian perjalanan kariernya sebagai penyanyi, meski ia mulai dari jalur industri hiburan, tumbuhnya kesadaran untuk kembali ke ranah musik sebagai nyanyian pengagungan Semesta. Bermusik pada hakikatnya melantunkan persembahan, sebagaimana terdapat dalam agama. ”Syukur-syukur bisa mengabarkan ajaran moral yang universal kepada semua pendengar saya,” kata Ayu.</p>
<p>Kini, perempuan yang selalu bertutur santun ini sedang mempersiapkan album solo bernuansa religi. Semua lagunya ia ciptakan sendiri dalam bahasa ”gado-gado”, antara Bali, Inggris, dan Indonesia. Katanya, itu sebagai upaya melakukan universalisasi terhadap ajaran-ajaran moral yang terkandung di dalamnya.</p>
<p><strong>I GUSTI AYU LAKSMIYANI</strong></p>
<p>• Lahir: Singaraja, 25 November 1967 • Pendidikan: Sarjana Hukum Universitas Udayana, Denpasar • Suami: Steven van Lierde • Karier: 1) Penyanyi sejak usia 4 tahun 2) Membentuk The Ayu Sisters bersama dua kakaknya, Partiwi dan Ayu Wedayanti 3) Best Performers bersama The Ayu Sisters dalam arena Bintang Radio dan Televisi tingkat nasional tahun 1983 4) Top 7 dalam Indonesian Rock Festival tahun 1987</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1389/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1389/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1389/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1389/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1389/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1389/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1389/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1389/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1389/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1389/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=komunitaskreatifbali.wordpress.com&blog=4712064&post=1389&subd=komunitaskreatifbali&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/2009/11/16/nyanyian-semesta-ayu-laksmi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/65488fdfd5916a82de09de279559ebe9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">balcom</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://komunitaskreatifbali.files.wordpress.com/2009/11/ayu-laksmi.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Ayu Laksmi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>VDESIGN DIBUKA DI SANUR</title>
		<link>http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/2009/11/14/1384/</link>
		<comments>http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/2009/11/14/1384/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 03:03:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>balcom</dc:creator>
				<category><![CDATA[Product Design]]></category>
		<category><![CDATA[VDesign Homewares Product]]></category>
		<category><![CDATA[Veny Lydiawati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/?p=1384</guid>
		<description><![CDATA[
Veny Lydiawati, seorang Products Designer akan membuka gerainya VDesign di Sanur pada tanggal 15 November 2009. VDesign yang akan menawarkan aneka homewares product juga merupakan biro konsultan untuk produk desain. Eksistensi VDesign ini semakin mendorong tumbuhnya brand baru untuk produk desain buatan anak bangsa. Keberadaannya diharapkan akan memberikan warna bagi perkembangan desain di tanah air [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=komunitaskreatifbali.wordpress.com&blog=4712064&post=1384&subd=komunitaskreatifbali&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://komunitaskreatifbali.files.wordpress.com/2009/11/vdesign-opening.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-1383" title="Vdesign Opening" src="http://komunitaskreatifbali.files.wordpress.com/2009/11/vdesign-opening.jpg?w=420&#038;h=560" alt="Vdesign Opening" width="420" height="560" /></a></p>
<p>Veny Lydiawati, seorang Products Designer akan membuka gerainya VDesign di Sanur pada tanggal 15 November 2009. VDesign yang akan menawarkan aneka homewares product juga merupakan biro konsultan untuk produk desain. Eksistensi VDesign ini semakin mendorong tumbuhnya brand baru untuk produk desain buatan anak bangsa. Keberadaannya diharapkan akan memberikan warna bagi perkembangan desain di tanah air ini.<span id="more-1384"></span><br />
Veny Lydiawati kelahiran Yogyakarta 1976 mendapat bachelor degree dalam industrial design dari Tunghai University of Taiwan pada tahun 2000. Veny mengikuti beberapa workshop master diantaranya: ╥Shop Vision ,Design of  the selling relationship╙ oleh Giulio Ceppi di DOMUS ACADEMIA, Milan, ITALY in March , 2004 dan Industrial Design oleh Stefano Givannoni di DOMUS ACADEMIA, Milan, ITALY , July 2004 . Menyeelsaikan kursus dengan Course of Design, NABA ( Nuova Accademia di Belle Arti  Milano),ITALY, pada 2005 untuk bidang Product dan  Interior Design.</p>
<p>Tahun 2005 melakukan Internship di Architecture Studio CERQUIGLINI-ROSSI, Bovisio Masciago (MI) ITALY sebagai dalam product dan graphic design. Beberapa pengalaman profesionalnya adalah desainer di Delta Design, Taichung-Taiwan 1998, pada 1999 menjadi asisten jewelry designer di Bien Studio Jewelry, Taichung, Taiwan, pada 2006-2007 menjadi product development manager Jenggala Ceramic dan 2007 hingga saat ini mendirikan V-Design sebagai Product Design Consultant &amp; Homeware Product.</p>
<p><a href="http://komunitaskreatifbali.files.wordpress.com/2009/11/vdesign-opening-map.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-1385" title="Vdesign Opening map" src="http://komunitaskreatifbali.files.wordpress.com/2009/11/vdesign-opening-map.jpg?w=420&#038;h=528" alt="Vdesign Opening map" width="420" height="528" /></a></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1384/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1384/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1384/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1384/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1384/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1384/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1384/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1384/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1384/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1384/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=komunitaskreatifbali.wordpress.com&blog=4712064&post=1384&subd=komunitaskreatifbali&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/2009/11/14/1384/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/65488fdfd5916a82de09de279559ebe9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">balcom</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://komunitaskreatifbali.files.wordpress.com/2009/11/vdesign-opening.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Vdesign Opening</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://komunitaskreatifbali.files.wordpress.com/2009/11/vdesign-opening-map.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Vdesign Opening map</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>FASHION + COLOR TRENDS 2010 HOSTED BY BEDO</title>
		<link>http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/2009/11/14/fashion-color-trends-2010-hosted-by-bedo/</link>
		<comments>http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/2009/11/14/fashion-color-trends-2010-hosted-by-bedo/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 02:38:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>balcom</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berbagi Cerita]]></category>
		<category><![CDATA[Berita Komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[Diskusi]]></category>
		<category><![CDATA[Fashion]]></category>
		<category><![CDATA[Bedo]]></category>
		<category><![CDATA[Monthly meeting Bedo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/?p=1376</guid>
		<description><![CDATA[
BEDO Monthly Meeting Invitation
It is our pleasure to invite all of you to join our November BEDO meeting
Time: 18:00
Date: 24 Nov 2009
Venue: Art Café, Jl. Sari Dewi 17
(map below)
Topics and Speakers:
·  &#8220;Fashion trends for 2010&#8243; – by Niza, Surfer Girl
·  &#8220;Colour trends for 2010&#8243; – by Magg, PT. Magg
·  &#8220;How to conceptualise, develop and maintain [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=komunitaskreatifbali.wordpress.com&blog=4712064&post=1376&subd=komunitaskreatifbali&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://komunitaskreatifbali.files.wordpress.com/2009/11/bedo-sharing-nov1.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-1378" title="Bedo-sharing-nov" src="http://komunitaskreatifbali.files.wordpress.com/2009/11/bedo-sharing-nov1.jpg?w=420&#038;h=602" alt="Bedo-sharing-nov" width="420" height="602" /></a></p>
<p>BEDO Monthly Meeting Invitation<br />
It is our pleasure to invite all of you to join our November BEDO meeting<br />
Time: 18:00<br />
Date: 24 Nov 2009<br />
Venue: Art Café, Jl. Sari Dewi 17<span id="more-1376"></span><br />
(map below)</p>
<p>Topics and Speakers:<br />
·  &#8220;Fashion trends for 2010&#8243; – by Niza, Surfer Girl<br />
·  &#8220;Colour trends for 2010&#8243; – by Magg, PT. Magg<br />
·  &#8220;How to conceptualise, develop and maintain a brand and image&#8221;<br />
– by Ato Hertianto, New Brain Design (brand expert / designer)<br />
· &#8220;EcO2 fumigation (environmentally friendly) used in export as an alternative to Methyl Bromide in relation to new European regulation&#8221;<br />
– by Eugene Verspoor, Export Service Centre</p>
<p>Free for members, Rp 50.000,- for non-member</p>
<p><a href="http://komunitaskreatifbali.files.wordpress.com/2009/11/picture-1.png"><img class="alignnone size-full wp-image-1381" title="Picture 1" src="http://komunitaskreatifbali.files.wordpress.com/2009/11/picture-1.png?w=217&#038;h=178" alt="Picture 1" width="217" height="178" /></a></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1376/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1376/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1376/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1376/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1376/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1376/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1376/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1376/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1376/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1376/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=komunitaskreatifbali.wordpress.com&blog=4712064&post=1376&subd=komunitaskreatifbali&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/2009/11/14/fashion-color-trends-2010-hosted-by-bedo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/65488fdfd5916a82de09de279559ebe9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">balcom</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://komunitaskreatifbali.files.wordpress.com/2009/11/bedo-sharing-nov1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Bedo-sharing-nov</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://komunitaskreatifbali.files.wordpress.com/2009/11/picture-1.png" medium="image">
			<media:title type="html">Picture 1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>OBRAL MUNCUL LAGI DI BULAN NOVEMBER INI</title>
		<link>http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/2009/11/08/obral-muncul-lagi-di-bulan-november-ini/</link>
		<comments>http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/2009/11/08/obral-muncul-lagi-di-bulan-november-ini/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Nov 2009 17:13:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>balcom</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berbagi Cerita]]></category>
		<category><![CDATA[Berita Komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[Diskusi]]></category>
		<category><![CDATA[Event]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas Kreatif Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Obral November]]></category>
		<category><![CDATA[Obrolan Rabu Malam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/?p=1371</guid>
		<description><![CDATA[
Obrolan Rabu malam alias Obral muncul kembali Bulan November ini.
Kali ini membawakan tema menarik perihal wirausaha kreatif (creative entrepreneurs) yaitu &#8220;Menjalankan Bisnis Kreatif dan Kemungkinan Pembiayaannya&#8221;
Obral akan kedatangan tamu Bapak Feraldi L. dari BaliBiz Consulting dan Prabowo serta Mona dari Bank BRI.
Acara ini akan berlangsung dengan casual di Laboratorium &#38; klinik PRODIA jalan Diponegoro 192 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=komunitaskreatifbali.wordpress.com&blog=4712064&post=1371&subd=komunitaskreatifbali&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://komunitaskreatifbali.files.wordpress.com/2009/11/obral.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-1372" title="Obral" src="http://komunitaskreatifbali.files.wordpress.com/2009/11/obral.jpg?w=420&#038;h=322" alt="Obral" width="420" height="322" /></a></p>
<p>Obrolan Rabu malam alias Obral muncul kembali Bulan November ini.<br />
Kali ini membawakan tema menarik perihal wirausaha kreatif (creative entrepreneurs) yaitu &#8220;Menjalankan Bisnis Kreatif dan Kemungkinan Pembiayaannya&#8221;<br />
Obral akan kedatangan tamu Bapak Feraldi L. dari BaliBiz Consulting dan Prabowo serta Mona dari Bank BRI.<span id="more-1371"></span></p>
<p>Acara ini akan berlangsung dengan casual di Laboratorium &amp; klinik PRODIA jalan Diponegoro 192 Denpasar mulai jam 19.00 Wita. Bagi kalian yang sedang bertimbang untuk buka bisnis sendiri saatnya memantapkan ide itu dengan datang dan ngobrol dengan santai bersama tamu Obral. Bagi yang mau datang plus menjual produk dan karya kreatif atau koleksinya silakan juga, atau kalu mau menyumbang kudapan monggo. Prodia sendiri akan menjadi tuan rumah dan tentunya menjamu kita semua.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1371/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1371/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1371/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1371/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1371/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1371/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1371/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1371/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1371/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1371/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=komunitaskreatifbali.wordpress.com&blog=4712064&post=1371&subd=komunitaskreatifbali&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/2009/11/08/obral-muncul-lagi-di-bulan-november-ini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/65488fdfd5916a82de09de279559ebe9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">balcom</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://komunitaskreatifbali.files.wordpress.com/2009/11/obral.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Obral</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PECHA KUCHA NIGHT BALI VOL. 4 EDISI KHUSUS &#8220;GREEN&#8221;</title>
		<link>http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/2009/11/08/pecha-kucha-night-bali-vol-4-edisi-khusus-green/</link>
		<comments>http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/2009/11/08/pecha-kucha-night-bali-vol-4-edisi-khusus-green/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Nov 2009 16:59:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>balcom</dc:creator>
				<category><![CDATA[Event]]></category>
		<category><![CDATA[Presentasi]]></category>
		<category><![CDATA[Pecha Kucha Night Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Pesona Pulau Serangan]]></category>
		<category><![CDATA[Serangan Island Green Festival]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/?p=1368</guid>
		<description><![CDATA[
Acara presentasi kreatif Pecha Kucha Night Bali seri ke 4 akan digelar di acara Pesona Pulau Serangan a.k.a. Serangan Island Green Festival. Sesuai dengan misi yang sedang dilakukan masyarakat Pulau Serangan bersama Pemerintah Kota Denpasar, Pulau Serangan memosisikan pembangunannya melalui 3E (Ecology, Edukasi, Ekonomi). Untuk itu 80% mata acaranya membawakan agenda tersebut, termasuk Pecha Kucha [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=komunitaskreatifbali.wordpress.com&blog=4712064&post=1368&subd=komunitaskreatifbali&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://komunitaskreatifbali.files.wordpress.com/2009/11/pkn-bali-vol4.jpg"><img class="size-full wp-image-1369 alignnone" title="PKN-Bali-Vol4" src="http://komunitaskreatifbali.files.wordpress.com/2009/11/pkn-bali-vol4.jpg?w=420&#038;h=594" alt="PKN-Bali-Vol4" width="420" height="594" /></a></p>
<p>Acara presentasi kreatif Pecha Kucha Night Bali seri ke 4 akan digelar di acara Pesona Pulau Serangan a.k.a. Serangan Island Green Festival. Sesuai dengan misi yang sedang dilakukan masyarakat Pulau Serangan bersama Pemerintah Kota Denpasar, Pulau Serangan memosisikan pembangunannya melalui 3E (Ecology, Edukasi, Ekonomi). Untuk itu 80% mata acaranya membawakan agenda tersebut, termasuk Pecha Kucha Night Bali Volume 4 yang bertema &#8220;Green&#8221;<span id="more-1368"></span></p>
<p>Pecha Kucha Night Bali Volume 4 akan digelar di Pulau Serangan pada hari Sabtu 14 November 2009 mulai pujul 19.00 Wita. Pendaftaran bagi yang ingin mempresentasikan gagasan hijaunya dapat menghubungi <a href="info@suicideglam.net" target="_blank">info@suicideglam.net</a>. Pecha Kucha Night Bali telah dilakukan sebanyak 3 kali: Yang pertama di Museum Bali pada bulan Mei 2009, yang kedua pada bulan Agustus 2009 di Sanur Village Festival dan yang ketiga Oktober 2009 di Ubud Writers &amp; Readers Festival.</p>
<p>Pecha Kucha Night Bali adalah bagian dari Pecha Kucha Night yang digelar di 254 kota di dunia dengan head quarter di Jepang. Silakan kunjungi <a href="http://www.pecha-kucha.org" target="_blank">www.pecha-kucha.org</a> untuk melihat keunikan acara non profit ini di seluruh dunia.</p>
<p>TENTANG PECHA KUCHA NIGHT</p>
<p>1. Apa Pecha Kucha Night itu ?<br />
Kata Pecha Kucha adalah istilah untuk bunyi dalam obrolan. Pecha Kucha Night adalah sebuah bentuk presentasi dimana siapapun dari profesi dan bidang keahlian yang berbeda dapat menyampaikan gagasan kreatif atau proyek kreatifnya dengan suasana yang casual, menghibur dan menyenangkan. Pecha Kucha Night adalah sebuah acara non komersil yang sangat independen.</p>
<p>2. Siapa penggagas Pecha Kucha Night ?<br />
Acara Pecha Kucha Night pertama kali dibuat oleh Astrid Klein dan Mark Dytham, keduanya adalah co-founder Klein-Dytham Architecture (KDa), sebuah biro arsitek di Tokyo yang percaya bahwa kreatifitas akan berkembang jika kita saling belajar dan bertukar ide kreatif. Dalam Pecha Kucha Night difokuskan bagaimana orang-orang berlatar kreatif diberi ruang untuk bertemu, menyampaikan gagasan kreatifnya di depan publik dan belajar dari pemikiran dan gagasan orang lain.</p>
<p>3. Siapa saja yang sudah menyelenggarakannya?<br />
Pecha Kucha Night diperkenalkan 6 tahun yang lalu dalam suasana yang sederhana namun penuh keakraban yang membuat seluruh peserta dan pemirsanya sangat menikmati. Kini, Pecha Kucha Night telah tersebar secara cepat dibawakan di 254 kota di seluruh dunia termasuk Helsinki, Rotterdam dan Groningen di Belanda; Bogotá, New York, San Francisco, dan Los Angeles di USA; Beijing dan Shanghai di China; Sydney dan Hobart di Australia; Lagos,Berlin, Belfast, Manchester dan Newcastle, Santiago, Costa Rica, Glasgow, Scotland; New Delhi dan Bangalore di India; Buenos Aires, Stockholm, Vienna, Bern, Bangkok, Bandung, Jakarta, Surabaya dan Bali</p>
<p>4. Apa yang menarik dari penyelenggaraan Pecha Kucha Night ?</p>
<p>1. Tokyo telah menyelenggarakan lebih dari 65 kali atau rata rata sebulan sekali<br />
2. Pecha Kucha di Cannes Lion Advertising Festival adalah yang paling menghebohkan dimana lebih dari 10 top executive advertising ternama dunia mempresentasikan gagasannya kepada pemirsa.<br />
3. Sedangkan penyelenggaraan Pecha Kucha Night yang ke-7 di London menjadi yang terbanyak audiencenya dengan lebih dari 1.500 orang penonton.</p>
<p>5. Siapa saja yang akan berada di acara Pecha Kucha Night ?<br />
Mereka yang akan melakukan presentasi dan berbagi gagasan kreatifnya di arena presentasi. Mereka boleh saja seorang amatir, pelajar, professional arsitek, interior designer, graphic designer, fotografer, perupa, musisi, illustrator, jurnalis, penulis, fashion designer, penari, artis, film maker atau siapapun dari bidang dan industri kreatif maupun ibu rumah tangga atau profesi apa saja.<br />
Dalam Pecha Kucha Night peserta bebas menyampaikan presentasi atau gagasan kreatifnya baik yang sudah dipublikasikan, dibuat atau dipamerkan atau kreatifitas yang sama sekali belum pernah disampaikan kepada siapapun</p>
<p>6. Bagaimana mekanisme ikut Pecha Kucha Night ?<br />
Sangat mudah. Jika ingin membagi gagasan kreatif atau karya atau proyek kepada publik silakan persiapkan dalam 20 frame presentasi di Power Point atau keynote. Kemas dan sajikan dengan semenarik mungkin dengan dilengkapi gambar, ilustrasi, foto dan layout ala Anda. Presentasi ini tidak boleh melanggar ketentuan pornografi, politik, suku, ras dan agama. Jika sudah silakan mengirimkan copynya ke info@suicideglam.com atau serahkan langsung ke Suicide Glam Renon, Jalan Cok Agung Tresna, Renon (Depan TVRI Bali) dengan ditujukan kepada Rudolf Dethu 08123866364, dengan mencantumkan nama, profesi dan email serta hp yang bisa dihubungi. Presentasi yang memenuhi syarat akan langsung dicantumkan nama presenternya di situs www.komunitaskreatifbali.wordpress.com. dan situs internasional Pecha Kucha Night di www.pecha-kucha.org<br />
Pada saat presentasi setiap presenter diberi kesempatan mempresantasikan 20 frame gagasannya namun setiap frame secara otomatis akan berganti selama 20 detik sehingga waktu total presentasi hanya 6 menit dan 40 detik. Ini adalah aturan internasional yang telah dibakukan oleh Pecha Kucha Night. Namun jangan khawatir, kalaupun waktunya setiap frame hanya 20 detik tapi membawakannya tetap bisa casual.<br />
Presentasi menggunakan screen layar lebar dan presenter diberi mic yang memungkinkan presentasinya dilihat serta didengar oleh publik secara jelas.</p>
<p>7. Apa ketentuan teknis presentasi untuk Pecha Kucha Night ?<br />
a.    Siapkan 20 frame atau image atau layout presentasi dalam format jpg dengan ukuran 1024 X 768 pixel<br />
b.    Jika formatnya movie files resolusi minimum atau ukurannya harus 640 X 480 pixel dan durasinya tidak lebih dari 7 menit.<br />
c.    Ukuran file maximum baik berupa gambar maupun movie tidak lebih dari 700 MB<br />
d.    Mengisi formulir yang disediakan</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1368/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1368/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1368/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1368/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1368/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1368/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1368/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1368/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1368/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1368/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=komunitaskreatifbali.wordpress.com&blog=4712064&post=1368&subd=komunitaskreatifbali&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/2009/11/08/pecha-kucha-night-bali-vol-4-edisi-khusus-green/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/65488fdfd5916a82de09de279559ebe9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">balcom</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://komunitaskreatifbali.files.wordpress.com/2009/11/pkn-bali-vol4.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">PKN-Bali-Vol4</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PUT YOUR HANDS BLIP</title>
		<link>http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/2009/10/26/put-your-hands-blip/</link>
		<comments>http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/2009/10/26/put-your-hands-blip/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Oct 2009 06:03:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>balcom</dc:creator>
				<category><![CDATA[Event]]></category>
		<category><![CDATA[Fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[Blipfest]]></category>
		<category><![CDATA[Blipfest pre-event]]></category>
		<category><![CDATA[Imagemaker of the future]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/?p=1360</guid>
		<description><![CDATA[

Acara pameran foto “Imagemaker of The Future” sebagai bagian dari pre event Blipfest baru saja dibuka di Alila Hotel Ubud pada tanggal 11 Oktober 2009 dan masih berlangsung hingga 30 November 2009. Acara ini menampilkan karya foto 11 fotografer muda Indonesia dari sekian banyak talenta yang ada. Blipfest atau Bali Photo Festival 2010, sebuah dedikasi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=komunitaskreatifbali.wordpress.com&blog=4712064&post=1360&subd=komunitaskreatifbali&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div>
<p><a href="http://komunitaskreatifbali.files.wordpress.com/2009/10/blipfest-hand.jpg"><img class="size-full wp-image-1364 alignnone" title="Blipfest-Hand" src="http://komunitaskreatifbali.files.wordpress.com/2009/10/blipfest-hand.jpg?w=420&#038;h=343" alt="Blipfest-Hand" width="420" height="343" /></a></p>
<p><a href="http://marlowebandem.com/2009/10/%E2%80%9Cimagemakers-of-the-future%E2%80%9D-young-distinct-ingenuous-part-1/" target="_blank">Acara pameran foto “Imagemaker of The Future” sebagai bagian dari pre event Blipfest baru saja dibuka di Alila Hotel Ubud</a> pada tanggal 11 Oktober 2009 dan masih berlangsung hingga 30 November 2009. Acara ini menampilkan karya foto 11 fotografer muda Indonesia dari sekian banyak talenta yang ada. Blipfest atau Bali Photo Festival 2010, sebuah dedikasi bagi dunia fotografi Indonesia akan dikemas dalam berbagai acara fotografi dalam berbagai dimensi baik seminar, workshop, pameran dan forum serta lomba. Blipest dimaksud menumbuhkan daya saing fotografer Indonesia di kancah dunia. Blipfest juga memiliki perhatian terhadap talenta fotografer muda untuk eksistensinya yang lebih baik.<span id="more-1360"></span></p>
<p>Blipfest direncanakan akan digelar September-Oktober 2010 di Bali, namun deklarasinya dengan berbagai agenda kegiatan telah dilakukan semenjak Juli-Agustus 2009 di FGDexpo Jakarta dengan “Go Blip Yourself” dan presentasi di Pecha Kucha Night Bali #2″ di Sanur Village Festival Agustus 2009. Blipfest akan melibatkan fotografer internasional dan mereka yang telah merencanakan hadir memberikan workshop dan berpameran adalah Linda Connor (pengajar di San Francisco Art Institute), John Stanmeyer (co founder of VII, Time magazine), Raghu Rai (Magnum).</p>
<p>Blipfest yang dikuratori para fotografer Senior Indonesia Rio Helmi, Oscar Motulloh, Firman Ichsan, Darwis Triadi dan Tara Sosrowardoyo ini pada event FGD EXPO 2009 bulan Juli-Agustus lalu memperkenalkan dirinya kepada publik termasuk memperkenalkan Icon tangan yang membentuk posisi framing yang kita kaitkan dengan nafas festival yang dijadikan kata perekat yaitu “Be Captured By The Moment”.</p>
<p>Inilah beberapa teman dan tamu di booth Blipfest pada FGD EXPO 2009 yang telah melakukan “Blip” sebagai partisipasi memperkenalkan Blipfest. Selengkapnya mengenai foto foto Blip yourself di booth Blipfest ini dapat dilihat di <a href="http://blipfest.com" target="_blank">http://blipfest.com</a> atau di <a href="http://www.facebook.com/theblipfest" target="_blank">http://www.facebook.com/theblipfest</a></p>
<p>Source: Blipfest</p>
<p>Selengkapnya ada di : <a href="http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/2009/10/26/put-your-hands-blip/" target="_blank">Situs DGI</a></p>
<p>. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .</p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/10/blipfest-agus-basuni.jpg"><img title="Blipfest Agus Basuni" src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/10/blipfest-agus-basuni.jpg?w=600&amp;h=400&#038;h=400" alt="Blipfest Agus Basuni" width="600" height="400" /></a></p>
<p>Agus Setiawan Basuni of Wartajazz.com</p>
<p>. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .</p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/10/blipfest-andi-s-budiman.jpg"><img title="Blipfest Andi S. Budiman" src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/10/blipfest-andi-s-budiman.jpg?w=600&amp;h=400&#038;h=400" alt="Blipfest Andi S. Budiman" width="600" height="400" /></a></p>
<p>Andi S. Budiman of Digital Studio</p>
<p>Selengkapnya ada di : <a href="http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/2009/10/26/put-your-hands-blip/" target="_blank">Situs DGI</a></p>
</div>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1360/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1360/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1360/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1360/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1360/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1360/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1360/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1360/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1360/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1360/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=komunitaskreatifbali.wordpress.com&blog=4712064&post=1360&subd=komunitaskreatifbali&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/2009/10/26/put-your-hands-blip/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/65488fdfd5916a82de09de279559ebe9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">balcom</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://komunitaskreatifbali.files.wordpress.com/2009/10/blipfest-hand.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Blipfest-Hand</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/10/blipfest-agus-basuni.jpg?w=600&#38;h=400" medium="image">
			<media:title type="html">Blipfest Agus Basuni</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/10/blipfest-andi-s-budiman.jpg?w=600&#38;h=400" medium="image">
			<media:title type="html">Blipfest Andi S. Budiman</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>20 TAHUN HMT: CLASSIC MOTOR GATHERING BALI</title>
		<link>http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/2009/10/26/20-tahun-hmt-classic-motor-gathering-bali/</link>
		<comments>http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/2009/10/26/20-tahun-hmt-classic-motor-gathering-bali/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Oct 2009 05:52:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>balcom</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita Komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[Event]]></category>
		<category><![CDATA[Himpunan Motor Tua Bali]]></category>
		<category><![CDATA[HMT Bali]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/?p=1356</guid>
		<description><![CDATA[

       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=komunitaskreatifbali.wordpress.com&blog=4712064&post=1356&subd=komunitaskreatifbali&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://komunitaskreatifbali.files.wordpress.com/2009/10/baliho-invite.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-1357" title="baliho invite" src="http://komunitaskreatifbali.files.wordpress.com/2009/10/baliho-invite.jpg?w=420&#038;h=593" alt="baliho invite" width="420" height="593" /></a></p>
<p><a href="http://komunitaskreatifbali.files.wordpress.com/2009/10/baliho-hmt.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-1358" title="baliho hmt" src="http://komunitaskreatifbali.files.wordpress.com/2009/10/baliho-hmt.jpg?w=420&#038;h=630" alt="baliho hmt" width="420" height="630" /></a></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1356/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1356/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1356/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1356/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1356/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1356/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1356/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1356/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1356/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1356/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=komunitaskreatifbali.wordpress.com&blog=4712064&post=1356&subd=komunitaskreatifbali&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/2009/10/26/20-tahun-hmt-classic-motor-gathering-bali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/65488fdfd5916a82de09de279559ebe9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">balcom</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://komunitaskreatifbali.files.wordpress.com/2009/10/baliho-invite.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">baliho invite</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://komunitaskreatifbali.files.wordpress.com/2009/10/baliho-hmt.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">baliho hmt</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>10 KOLABORASI DI FASHION TENDANCE 10</title>
		<link>http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/2009/10/22/fashion-tendance-10/</link>
		<comments>http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/2009/10/22/fashion-tendance-10/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Oct 2009 01:27:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>balcom</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita Komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[Event]]></category>
		<category><![CDATA[Exhibition]]></category>
		<category><![CDATA[Fashion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/?p=1339</guid>
		<description><![CDATA[
APPMI Bali berkolaborasi dengan Bali Creative Community membuat acara Fashion Tendance 10 dimana acara tahunan APPMI ini pada intinya menghadirkan fashion trend 2010. Fashion Tendance 10 yang menghadirkan 10 kolaborasi Fashion Designer anggota APPMI Bali dengan 10 profesi kreatif lain baik product designer, arsitek, graphic designer, interior designer, jewelry/accesories designer dan pelukis benar-benar menjadi sebuah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=komunitaskreatifbali.wordpress.com&blog=4712064&post=1339&subd=komunitaskreatifbali&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://komunitaskreatifbali.files.wordpress.com/2009/10/mg_0994.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-1349" title="MG_0994" src="http://komunitaskreatifbali.files.wordpress.com/2009/10/mg_0994.jpg?w=400&#038;h=600" alt="MG_0994" width="400" height="600" /></a></p>
<p>APPMI Bali berkolaborasi dengan Bali Creative Community membuat acara Fashion Tendance 10 dimana acara tahunan APPMI ini pada intinya menghadirkan fashion trend 2010. Fashion Tendance 10 yang menghadirkan 10 kolaborasi Fashion Designer anggota APPMI Bali dengan 10 profesi kreatif lain baik product designer, arsitek, graphic designer, interior designer, jewelry/accesories designer dan pelukis benar-benar menjadi sebuah perhelatan kreatif yang memukau di Ballroom THE LAGUNA, A LUXURY COLLECTION RESORT &amp; SPA, NUSA DUA, BALI pada hari Sabtu 3 Oktober 2009.<span id="more-1339"></span></p>
<p><a rel="attachment wp-att-1585" href="http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/?attachment_id=1585"><img title="_MG_0681" src="http://yokasara.com/blog/wp-content/uploads/2009/10/MG_0681-200x300.jpg" alt="_MG_0681" width="200" height="300" /></a><a rel="attachment wp-att-1588" href="http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/?attachment_id=1588"><img title="_MG_0715" src="http://yokasara.com/blog/wp-content/uploads/2009/10/MG_0715-200x300.jpg" alt="_MG_0715" width="200" height="300" /></a><a rel="attachment wp-att-1589" href="http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/?attachment_id=1589"><img title="_MG_0727" src="http://yokasara.com/blog/wp-content/uploads/2009/10/MG_0727-200x300.jpg" alt="_MG_0727" width="200" height="300" /></a><a rel="attachment wp-att-1591" href="http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/?attachment_id=1591"><img title="_MG_0741" src="http://yokasara.com/blog/wp-content/uploads/2009/10/MG_0741-200x300.jpg" alt="_MG_0741" width="200" height="300" /></a><a rel="attachment wp-att-1593" href="http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/?attachment_id=1593"><img title="_MG_0797" src="http://yokasara.com/blog/wp-content/uploads/2009/10/MG_0797-200x300.jpg" alt="_MG_0797" width="200" height="300" /></a><a rel="attachment wp-att-1595" href="http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/?attachment_id=1595"><img title="_MG_0824" src="http://yokasara.com/blog/wp-content/uploads/2009/10/MG_0824-189x300.jpg" alt="_MG_0824" width="189" height="300" /></a><a rel="attachment wp-att-1597" href="http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/?attachment_id=1597"><img title="_MG_0847" src="http://yokasara.com/blog/wp-content/uploads/2009/10/MG_0847-211x300.jpg" alt="_MG_0847" width="211" height="300" /></a><a rel="attachment wp-att-1598" href="http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/?attachment_id=1598"><img title="_MG_0856" src="http://yokasara.com/blog/wp-content/uploads/2009/10/MG_0856-200x300.jpg" alt="_MG_0856" width="200" height="300" /></a><a rel="attachment wp-att-1600" href="http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/?attachment_id=1600"><img title="_MG_0873" src="http://yokasara.com/blog/wp-content/uploads/2009/10/MG_0873-200x300.jpg" alt="_MG_0873" width="200" height="300" /></a><a rel="attachment wp-att-1602" href="http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/?attachment_id=1602"><img title="_MG_0911" src="http://yokasara.com/blog/wp-content/uploads/2009/10/MG_0911-200x300.jpg" alt="_MG_0911" width="200" height="300" /></a><br />
<em>Fotografi oleh Laksana Eka Lanus dimuat di blog <a href="http://yokasara.com/blog/2009/10/15/fashion-tendance-%e2%80%9810-2009-please-wellcome-%e2%80%9clegacy-for-the-future%e2%80%9d/" target="_blank">Yoka Sara</a></em></p>
<p>Diawali dengan fashion show karya Oka Diputra dan “Firmato Espen Salberg” collection sebagai desainer tamu, para undangan disuguhi kreasi kreasi terbaru yang masing-masing dibawakan dengan karakter tersendiri.  Setelah pemanasan oleh dua fashion show ini maka selanjutnya para undangan dan peminat fashion dipandu memasuki ballroom dimana telah siap 10 kolaborasi dengan display masing masing. Pintu Ballroom dibuka dan dalam cahaya remang Nyoman Sura telah memulai dengan gemulai tarian kontemporer pembuka. Surprise dan rasa penasaran memuncak ketika hadirin memasuki keremangan ballroom yang akhirnya berganti terang setelah usai Nyoman Sura dalam tarian pembukanya.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-1570" href="http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/?attachment_id=1570"><img title="_MG_1011" src="http://yokasara.com/blog/wp-content/uploads/2009/10/MG_1011-150x150.jpg" alt="_MG_1011" width="150" height="150" /></a><a rel="attachment wp-att-1571" href="http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/?attachment_id=1571"><img title="_MG_1014" src="http://yokasara.com/blog/wp-content/uploads/2009/10/MG_1014-150x150.jpg" alt="_MG_1014" width="150" height="150" /></a><a rel="attachment wp-att-1572" href="http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/?attachment_id=1572"><img title="_MG_1015" src="http://yokasara.com/blog/wp-content/uploads/2009/10/MG_1015-150x150.jpg" alt="_MG_1015" width="150" height="150" /></a><a rel="attachment wp-att-1573" href="http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/?attachment_id=1573"><img title="_MG_1020" src="http://yokasara.com/blog/wp-content/uploads/2009/10/MG_1020-150x150.jpg" alt="_MG_1020" width="150" height="150" /></a><a rel="attachment wp-att-1574" href="http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/?attachment_id=1574"><img title="_MG_1026" src="http://yokasara.com/blog/wp-content/uploads/2009/10/MG_1026-150x150.jpg" alt="_MG_1026" width="150" height="150" /></a><a href="http://yokasara.com/blog/?attachment_id=1575"><img title="_MG_1030" src="http://yokasara.com/blog/wp-content/uploads/2009/10/MG_1030-150x150.jpg" alt="_MG_1030" width="150" height="150" /></a><a href="http://yokasara.com/blog/?attachment_id=1576"><img title="_MG_1032" src="http://yokasara.com/blog/wp-content/uploads/2009/10/MG_1032-150x150.jpg" alt="_MG_1032" width="150" height="150" /></a><a href="http://yokasara.com/blog/?attachment_id=1578"><img title="_MG_1050" src="http://yokasara.com/blog/wp-content/uploads/2009/10/MG_1050-150x150.jpg" alt="_MG_1050" width="150" height="150" /></a><a href="http://yokasara.com/blog/?attachment_id=1579"><img title="_MG_0972" src="http://yokasara.com/blog/wp-content/uploads/2009/10/MG_0972-150x150.jpg" alt="_MG_0972" width="150" height="150" /></a><br />
<em>Fotografi oleh Laksana Eka Lanus dimuat di blog <a href="http://yokasara.com/blog/2009/10/15/fashion-tendance-%e2%80%9810-2009-please-wellcome-%e2%80%9clegacy-for-the-future%e2%80%9d/" target="_blank">Yoka Sara</a></em></p>
<p>Dengan penuh antusias dan kagum setiap undangan berkeliling menuju 10 display kolaborasi dengan konsep dan karakter yang beragam dan kaya akan eksplorasi. Selanjutnya semua dihadapkan kepada masing-masing display para kolaborator dan ditengahnya dimana catwalk menjadi sentral dihadirkan 10 fashion yang mewakili 10 kolaborasi dengan dibawakan model-model nan semampai mencuri perhatian para undangan dan hadirin. Berikut adalah display dari para kolaborasi pada Fashion Tendance 10:</p>
<p>. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .</p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/10/ft10-dewi-suarjani-ayip.jpg"><img title="FT10 Dewi Suarjani &amp; Ayip" src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/10/ft10-dewi-suarjani-ayip.jpg?w=600&amp;h=400&#038;h=400" alt="FT10 Dewi Suarjani &amp; Ayip" width="600" height="400" /></a></p>
<p><strong>“Miss Centhini” by Dewi Suarjani + Ayip</strong><br />
Miss Centhini dikemas dengan sangat simple dalam ruang display. 6 busana Miss Chentini karya Dewi Suarjani ditempatkan di sisi kiri dan kanan bergantung di depan wall display yang menggambarkan dimensi. Ayip menuangkan grafis Miss Centhini di hampir seluruh bagian display mulai dari lantai, dinding dan bingkai layar. Penampilan yang sederhana dalam display ini karena fokus akan diarahkan kepada busana dan 3 busana lainnya yang dikenakan model serta tarian kontemporer Nyoman Sura di area sentral display.</p>
<p>. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .</p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/10/ft10-monika-weber-muji-ananta.jpg"><img title="FT10 Monika Weber &amp; Muji Ananta" src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/10/ft10-monika-weber-muji-ananta.jpg?w=600&amp;h=436&#038;h=436" alt="FT10 Monika Weber &amp; Muji Ananta" width="600" height="436" /></a></p>
<p><strong>“Atlantis Once Upon A Time” by Monika Weber + Muji Ananta</strong><br />
Setting Atlantis Once Upon A time dibuat level yang lebih tinggi dari lantai untuk menggambarkan kesan imajinatif. Muji Ananta membuat setting display yang didominasi warna putih untuk menonjolkan busana mutakhir karya Monika Weber yang terinspirasi dari Atlantis. Warna warni busana dan pernik yang melekat membuat kontras yang sangat ekspos.</p>
<p>. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .</p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/10/ft-10-agnes-caroline-veny-lydiawati.jpg"><img title="FT 10 Agnes Caroline &amp; Veny Lydiawati" src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/10/ft-10-agnes-caroline-veny-lydiawati.jpg?w=600&amp;h=345&#038;h=345" alt="FT 10 Agnes Caroline &amp; Veny Lydiawati" width="600" height="345" /></a></p>
<p><strong>“Day Dreamer” by Agnes Caroline (Fashion Designer) &amp; Veny Lydiawati (Products Designer)</strong><br />
Nuansa gelap yang mendominasi display Day Dreamer dari warna materi display kain dirangkai dengan temali yang artistik berpadu dengan cahaya lampu dan busana karya Agnes Caroline menjadi kesan yang elegan.</p>
<p>. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .</p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/10/ft10-dwi-iskandar-eko-prabowo.jpg"><img title="FT10 Dwi Iskandar &amp; Eko Prabowo" src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/10/ft10-dwi-iskandar-eko-prabowo.jpg?w=600&amp;h=398&#038;h=398" alt="FT10 Dwi Iskandar &amp; Eko Prabowo" width="600" height="398" /></a></p>
<p><strong>“Dinner with Dwi Iskandar &amp; Eko Prabowo” by Dwi Iskandar (Fashion Designer) + Eko Prabowo (Product/Graphic Designer)</strong><br />
Display didominasi oleh kain dengan print berwarna light dan manekin rekaan sendiri dipadu dengan lampu-lampu dan kursi karya Eko Prabowo. Sedang Dwi Iskandar menonjolkan teknik drap dan wrap. Dengan detail lipit dan teknik lipat. Aksen piping dan potongan yang berupa garis garis lurus. Secara keseluruhan terlihat struktural dan bervolume.</p>
<p>. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .</p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/10/ft10-eny-ming-vicky-trinita.jpg"><img title="FT10 Eny Ming &amp; Vicky Trinita" src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/10/ft10-eny-ming-vicky-trinita.jpg?w=600&amp;h=372&#038;h=372" alt="FT10 Eny Ming &amp; Vicky Trinita" width="600" height="372" /></a></p>
<p><strong>“CONTAINER OF HOPE : Our Futuristic Wonderland” By Eny Ming (Fashion Designer) + Vicky Trinita (Architect-Interior Designer)</strong><br />
“Container of Hope” direka sebagai wonderland yang merupakan creative space yang sangat erat hubungannya dengan harapan sebagai positive feeling dan sesuatu bagai mimpi kehidupan. Vicky menghadirkan nuansa container dengan warna industrial dipadu aneka garis dinamis dari rotan yang berwarna alami dengan pencahayaan warm yang memukau. Selaras dengan apa yang dihadirkan Eny Ming dalam warna dan desain busana yang didominasi warna gelap.</p>
<p>. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .</p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/10/ft10-angeliqa-wu-hari-de-jong.jpg"><img title="FT10 Angeliqa Wu &amp; Hari De Jong" src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/10/ft10-angeliqa-wu-hari-de-jong.jpg?w=600&amp;h=304&#038;h=304" alt="FT10 Angeliqa Wu &amp; Hari De Jong" width="600" height="304" /></a></p>
<p><strong>“NOZOMI” By Angeliqa Wu ( Fashion Designer) + Heri De Jong (Accesories Designer)</strong><br />
Angeliqa Wu dan Heri De Jong terinspirasi oleh Jepang dan Bali….<br />
Dengan inspirasi tersebut tergambar sebuah display dengan suasana taman Jepang yang diimpikan oleh Nozomi.<br />
Background yang digunakan untuk suasana tersebut akan lebih minimalis dan nyaman…. dilengkapi property berupa ranting2 pohon yang dimodif dan suasana Jepang dengan nuansa putih.</p>
<p>. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .</p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/10/ft10-putu-aliki-yoka-sara.jpg"><img title="FT10 Putu Aliki &amp; Yoka Sara" src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/10/ft10-putu-aliki-yoka-sara.jpg?w=600&amp;h=303&#038;h=303" alt="FT10 Putu Aliki &amp; Yoka Sara" width="600" height="303" /></a></p>
<p><strong>COINCÉ ENTRE DEUX (STUCK IN BETWEEN)” By Putu Aliki (Fashion Designer) dan Yoka Sara (Architect)</strong><br />
Display dinamis yang mengambang ini dihadirkan merespon konsep Stuck in Between yang menyerupai train shelter untuk menanti kereta, Yoka Sara menghadirkannya dalam 3 panel yang didominasi warna abu abu. Putu Aliki menghadirkan gaya berpakaian Monk yang diterjemahkan menjadi Modern Look – gaya berpakaian modern atau bisa disebut Fashion Now</p>
<p>. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .</p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/10/ft10-ali-charisma-made-kebath.jpg"><img title="FT10 Ali Charisma &amp; Made Kebath" src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/10/ft10-ali-charisma-made-kebath.jpg?w=600&amp;h=398&#038;h=398" alt="FT10 Ali Charisma &amp; Made Kebath" width="600" height="398" /></a></p>
<p><strong>“TROPICAL PARADISE” By Ali Charisma (Fashion Designer) + Made Kebath Bendesa (Painter)</strong><br />
Dengan kilau warna masa kini yang bernuansa seni dan magis berpadu dengan traditional culture, display Tropical Paradise menggabungkan lukisan Made Kebath dan busana karya Ali Charisma.</p>
<p>. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .</p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/10/ft10-oka-diputra-putu-edi-semara.jpg"><img title="FT10 Oka Diputra &amp; Putu Edi Semara" src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/10/ft10-oka-diputra-putu-edi-semara.jpg?w=600&amp;h=363&#038;h=363" alt="FT10 Oka Diputra &amp; Putu Edi Semara" width="600" height="363" /></a></p>
<p><strong>“TRAVELLING LIGHT IN STYLE” By Oka Diputra (Fashion Designer) + Putu Edy Semara (Arsitek)</strong><br />
Busana Oka Diputra yang didominasi warna abu abu, hitam dan merah berpadu serasi dengan elemen karya arsitek Putu Edi Semara dengan warna abu abu dalam bentuk geometris kotak dan bulat.</p>
<p>. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .</p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/10/ft10-tude-togog-iwan-sastrawan.jpg"><img title="FT10 Tude Togog &amp; Iwan Sastrawan" src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/10/ft10-tude-togog-iwan-sastrawan.jpg?w=402&amp;h=604&#038;h=604" alt="FT10 Tude Togog &amp; Iwan Sastrawan" width="402" height="604" /></a></p>
<p><strong>“MAYADENAWA MOMENT SPACE” By Tude Togog (Fashion Designer) + Iwan Sastrawan (Architect)</strong><br />
Elemen bambu yang membentuk garis dihadirkan Iwan Sastrawan untuk membingkai busana karya Tude Togog. Warna merah menjadi aksen utama yang membuat konektivitas antara busana dan displaynya.</p>
<p>The Beat short news:</p>
<p><a href="http://komunitaskreatifbali.files.wordpress.com/2009/10/ft10thebeat.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-1350" title="ft10thebeat" src="http://komunitaskreatifbali.files.wordpress.com/2009/10/ft10thebeat.jpg?w=420&#038;h=628" alt="ft10thebeat" width="420" height="628" /></a></p>
<p><a href="http://komunitaskreatifbali.files.wordpress.com/2009/10/ft10thebeat1.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-1351" title="ft10thebeat1" src="http://komunitaskreatifbali.files.wordpress.com/2009/10/ft10thebeat1.jpg?w=420&#038;h=617" alt="ft10thebeat1" width="420" height="617" /></a></p>
<p>Proses kolaborasi dapat dilihat di situs: <a href="http://fashiontendance.wordpress.com/" target="_blank">http://fashiontendance.wordpress.com/</a></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1339/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1339/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1339/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1339/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1339/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1339/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1339/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1339/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1339/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1339/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=komunitaskreatifbali.wordpress.com&blog=4712064&post=1339&subd=komunitaskreatifbali&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/2009/10/22/fashion-tendance-10/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/65488fdfd5916a82de09de279559ebe9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">balcom</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://komunitaskreatifbali.files.wordpress.com/2009/10/mg_0994.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">MG_0994</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yokasara.com/blog/wp-content/uploads/2009/10/MG_0681-200x300.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">_MG_0681</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yokasara.com/blog/wp-content/uploads/2009/10/MG_0715-200x300.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">_MG_0715</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yokasara.com/blog/wp-content/uploads/2009/10/MG_0727-200x300.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">_MG_0727</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yokasara.com/blog/wp-content/uploads/2009/10/MG_0741-200x300.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">_MG_0741</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yokasara.com/blog/wp-content/uploads/2009/10/MG_0797-200x300.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">_MG_0797</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yokasara.com/blog/wp-content/uploads/2009/10/MG_0824-189x300.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">_MG_0824</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yokasara.com/blog/wp-content/uploads/2009/10/MG_0847-211x300.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">_MG_0847</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yokasara.com/blog/wp-content/uploads/2009/10/MG_0856-200x300.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">_MG_0856</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yokasara.com/blog/wp-content/uploads/2009/10/MG_0873-200x300.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">_MG_0873</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yokasara.com/blog/wp-content/uploads/2009/10/MG_0911-200x300.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">_MG_0911</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yokasara.com/blog/wp-content/uploads/2009/10/MG_1011-150x150.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">_MG_1011</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yokasara.com/blog/wp-content/uploads/2009/10/MG_1014-150x150.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">_MG_1014</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yokasara.com/blog/wp-content/uploads/2009/10/MG_1015-150x150.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">_MG_1015</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yokasara.com/blog/wp-content/uploads/2009/10/MG_1020-150x150.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">_MG_1020</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yokasara.com/blog/wp-content/uploads/2009/10/MG_1026-150x150.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">_MG_1026</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yokasara.com/blog/wp-content/uploads/2009/10/MG_1030-150x150.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">_MG_1030</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yokasara.com/blog/wp-content/uploads/2009/10/MG_1032-150x150.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">_MG_1032</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yokasara.com/blog/wp-content/uploads/2009/10/MG_1050-150x150.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">_MG_1050</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yokasara.com/blog/wp-content/uploads/2009/10/MG_0972-150x150.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">_MG_0972</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/10/ft10-dewi-suarjani-ayip.jpg?w=600&#38;h=400" medium="image">
			<media:title type="html">FT10 Dewi Suarjani &#38; Ayip</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/10/ft10-monika-weber-muji-ananta.jpg?w=600&#38;h=436" medium="image">
			<media:title type="html">FT10 Monika Weber &#38; Muji Ananta</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/10/ft-10-agnes-caroline-veny-lydiawati.jpg?w=600&#38;h=345" medium="image">
			<media:title type="html">FT 10 Agnes Caroline &#38; Veny Lydiawati</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/10/ft10-dwi-iskandar-eko-prabowo.jpg?w=600&#38;h=398" medium="image">
			<media:title type="html">FT10 Dwi Iskandar &#38; Eko Prabowo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/10/ft10-eny-ming-vicky-trinita.jpg?w=600&#38;h=372" medium="image">
			<media:title type="html">FT10 Eny Ming &#38; Vicky Trinita</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/10/ft10-angeliqa-wu-hari-de-jong.jpg?w=600&#38;h=304" medium="image">
			<media:title type="html">FT10 Angeliqa Wu &#38; Hari De Jong</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/10/ft10-putu-aliki-yoka-sara.jpg?w=600&#38;h=303" medium="image">
			<media:title type="html">FT10 Putu Aliki &#38; Yoka Sara</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/10/ft10-ali-charisma-made-kebath.jpg?w=600&#38;h=398" medium="image">
			<media:title type="html">FT10 Ali Charisma &#38; Made Kebath</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/10/ft10-oka-diputra-putu-edi-semara.jpg?w=600&#38;h=363" medium="image">
			<media:title type="html">FT10 Oka Diputra &#38; Putu Edi Semara</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/10/ft10-tude-togog-iwan-sastrawan.jpg?w=402&#38;h=604" medium="image">
			<media:title type="html">FT10 Tude Togog &#38; Iwan Sastrawan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://komunitaskreatifbali.files.wordpress.com/2009/10/ft10thebeat.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ft10thebeat</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://komunitaskreatifbali.files.wordpress.com/2009/10/ft10thebeat1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ft10thebeat1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SEMINAR BISNIS MUSIK + BEDAH BUKU ROLLING STONE MUSIC BIZ</title>
		<link>http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/2009/10/22/seminar-bisnis-musik-bedah-buku-rolling-stone-music-biz/</link>
		<comments>http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/2009/10/22/seminar-bisnis-musik-bedah-buku-rolling-stone-music-biz/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Oct 2009 01:10:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>balcom</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita Komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Diskusi]]></category>
		<category><![CDATA[Event]]></category>
		<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Bali Creative Community]]></category>
		<category><![CDATA[One Dollar For Music]]></category>
		<category><![CDATA[Rolling STones Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/?p=1337</guid>
		<description><![CDATA[
OneDollarForMusic &#38; Rolling Stone mempersembahkan:

&#8220;Seminar Bisnis Musik + Bedah Buku Rolling Stone Music Biz&#8221;
30 Oktober 2009
Jam 6 &#8211; 10 Malam
di Danes Art Veranda
Jl. Hayam Wuruk 159, Denpasar
Gratis!
Narasumber:
1. Wendi Putranto (Editor Rolling Stone)
2. Aldo Sianturi (Managing Director Aksara Records)
Moderator:
Marlowe Bandem (Bali Creative Community)
&#38; Penampilan akustik nan impresif dari kongsi OneDollarForMusic:
Hanamura, D&#8217;Kantin, Belog Personal

Trivia
Tentang Buku Rolling Stone [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=komunitaskreatifbali.wordpress.com&blog=4712064&post=1337&subd=komunitaskreatifbali&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=3752482&amp;op=1&amp;view=all&amp;subj=161409784449&amp;aid=-1&amp;auser=0&amp;oid=161409784449&amp;id=646354459"><img src="http://photos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs266.snc1/9331_183552074459_646354459_3752482_1958127_n.jpg" alt="" /></a></div>
<div>OneDollarForMusic &amp; Rolling Stone mempersembahkan:</div>
<div>
<p><strong>&#8220;Seminar Bisnis Musik + Bedah Buku Rolling Stone Music Biz&#8221;</strong><br />
<em>30 Oktober 2009</em><br />
<em>Jam 6 &#8211; 10 Malam</em><br />
<em>di Danes Art Veranda</em><br />
<em>Jl. Hayam Wuruk 159, Denpasar</em><br />
<em>Gratis!</em><span id="more-1337"></span></p>
<p>Narasumber:<br />
1. Wendi Putranto (Editor Rolling Stone)<br />
2. Aldo Sianturi (Managing Director Aksara Records)</p>
<p>Moderator:<br />
Marlowe Bandem (Bali Creative Community)</p>
<p>&amp; Penampilan akustik nan impresif dari kongsi OneDollarForMusic:<br />
Hanamura, D&#8217;Kantin, Belog Personal</p>
</div>
<div><span style="text-decoration:underline;">Trivia</span></p>
<p><em>Tentang Buku Rolling Stone Music Biz</em></p>
<p>Buku &#8220;Rolling Stone Music Biz [Manual Cerdas Menguasai Bisnis Musik]&#8221; yang ditulis editor Wendi Putranto dan diterbitkan Penerbit Bentang Pustaka telah beredar sejak 10 Oktober 2009 di seluruh toko buku terkemuka di kota Anda.</p>
<p>Buku setebal 190 halaman ini memuat panduan cerdas tentang pemilihan nama &amp; imej artis, membuat promo kit, manajemen artis, road manager, entertainment lawyer, produser musik, label rekaman, hak cipta, dsb bagi calon artis musik, manajer artis atau siapa saja yang ingin terjun serius ke industri musik.</p>
<p>Sementara seraya mempromosikan buku tersebut akan digelar pula event &#8220;Rolling Stone Music Biz On Campus&#8221; yang akan menghadirkan seminar dan workshop tentang bisnis dan industri musik serta kiat-kiat menjadi artis musik yang sukses di tanahair.</p>
<p><strong><em>Tentang Rolling Stone Music Biz on Campus</em></strong></p>
<p>Rolling Stone Music Biz On Campus adalah tur lokakarya (workshop tour) sehari di kampus-kampus terkemuka membahas bisnis dan industri musik yang menargetkan calon musisi (artis/anak band), manajer, produser, pengusaha bisnis hiburan, label rekaman, promotor musik serta peminat musik pada umumnya sebagai peserta.</p>
<p>Tujuan diselenggarakannya Rolling Stone Music Biz On Campus adalah untuk Memberdayakan (Empower), Menghubungkan (Connect) dan Mendidik (Educate) para individu yang berminat untuk mengejar karir di bisnis musik dengan memberikan kesempatan kepada para partisipan untuk berinteraksi dengan para profesional di industri musik tanahair.</p>
<p>Lokakarya sehari ini terdiri dari keynote speaker, diskusi panel, artist showcase/live performance dari artis independen lokal. Keynote speaker dan para panelis akan berbicara serta berdiskusi mengenai topik-topik menarik sekaligus kontroversial dari industri musik Indonesia hari ini. Para pembicara panel akan menghadirkan beberapa figur profesional top industri musik Indonesia serta artis-artis musik papan atas tanahair.</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=3752483&amp;op=1&amp;view=all&amp;subj=161409784449&amp;aid=-1&amp;auser=0&amp;oid=161409784449&amp;id=646354459"><img src="http://photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs266.snc1/9331_183552619459_646354459_3752483_314970_n.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=3752667&amp;op=1&amp;view=all&amp;subj=161409784449&amp;aid=-1&amp;auser=0&amp;oid=161409784449&amp;id=646354459"><img src="http://photos-a.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs252.snc1/9921_183573544459_646354459_3752667_823713_n.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div><em>&#8220;Rolling Stone Music Biz Tour 2009&#8243;</em><br />
<em>The Rock &amp; Roll Workshop on Music Business</em></p>
<p>1. Salatiga, Jawa Tengah &#8211; 12 Oktober / Universitas Kristen Satya Wacana<br />
2. Semarang, Jawa Tengah &#8211; 16 Oktober / Universitas Diponegoro<br />
3. Yogyakarta &#8211; 16 Oktober / UPN Veteran<br />
4. Jakarta &#8211; 19 Oktober / STEKPI<br />
5. Depok &#8211; 21 Oktober / Universitas Indonesia<br />
6. Malang, Jawa Timur &#8211; 28 Oktober / Universitas Brawijaya<br />
7. Denpasar, Bali &#8211; 30 Oktober / Danes Art Veranda<br />
8. Bandung, Jawa Barat &#8211; 9 November / Institut Teknologi Bandung</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=3752668&amp;op=1&amp;view=all&amp;subj=161409784449&amp;aid=-1&amp;auser=0&amp;oid=161409784449&amp;id=646354459"><img src="http://photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs272.snc1/9921_183574034459_646354459_3752668_3677953_n.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div><em>Narasumber</em><br />
1. James F. Sundah (penulis lagu legendaris) ~ Topik: &#8220;Basic Knowledge of Music Business &amp; Music Industry&#8221;<br />
2. Fariz RM (penyanyi/penulis lagu legendaris) ~ Topik: &#8220;What Musicians/Artist Should Know To Break the Mainstream Music Scene&#8221;<br />
3. Ari Lasso (penyanyi/penulis lagu populer) ~ Topik: &#8220;What Musicians/Artist Should Know To Break the Mainstream Music Scene&#8221;<br />
4. Glenn Fredly (penyanyi/penulis lagu populer) ~ Topik: &#8220;What Musicians/Artist Should Know To Break the Mainstream Music Scene&#8221;<br />
5. Irfan Aulia (pentolan/gitaris/penulis lagu Samsons) ~ Topik: &#8220;What Musicians/Artist Should Know To Break the Mainstream Music Scene&#8221;<br />
6. Dhani Pette (manajer Gigi/Samsons) ~ Topik: &#8220;Basic Knowledge of Music Artist Management&#8221;<br />
7. Aldo Sianturi (Managing Director Aksara Records) ~ Topik: &#8220;Basic Knowledge of Record Labels &amp; How to Get Signed&#8221;</p>
<p><em>Moderator</em><br />
1. Andy F. Noya (CEO Rolling Stone) *hanya di ITB<br />
2. Wendi Putranto (Editor Rolling Stone)<br />
3. Marlowe Bandem (Bali Creative Community) *hanya di Bali</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=3752669&amp;op=1&amp;view=all&amp;subj=161409784449&amp;aid=-1&amp;auser=0&amp;oid=161409784449&amp;id=646354459"><img src="http://photos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs272.snc1/9921_183574434459_646354459_3752669_3274925_n.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<p><em>Musik Hidup</em><br />
1. Endah N&#8217; Rhesa (di semua kota, kecuali Bali)<br />
2. Wiwiek N&#8217; Friends (Salatiga)<br />
3. Frau (Yogyakarta)<br />
4. OK Karaoke (Semarang)<br />
5. Bite (Jakarta &amp; Depok)<br />
6. The Morning After (Malang)<br />
7. Hanamura, D&#8217;Kantin, Belog Personal (Bali)</p>
<p>*Sambil menunggu acara ini tiba di Bali, ayo konsumsi juga asupan bergizi bagi isi kepala lalu menjadi pribadi cerdas mandiri: <a title="http://www.rudolfdethu.com/2009/09/07/strategi-band-lokal-go-national" href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=161409784449&amp;h=0a5e69c98c21e08a67a26001172e262e&amp;url=http%3A%2F%2Fwww.rudolfdethu.com%2F2009%2F09%2F07%2Fstrategi-band-lokal-go-national" target="_blank">Strategi Band Lokal Go National</a></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1337/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1337/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1337/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1337/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1337/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1337/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1337/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1337/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1337/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/komunitaskreatifbali.wordpress.com/1337/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=komunitaskreatifbali.wordpress.com&blog=4712064&post=1337&subd=komunitaskreatifbali&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/2009/10/22/seminar-bisnis-musik-bedah-buku-rolling-stone-music-biz/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/65488fdfd5916a82de09de279559ebe9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">balcom</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://photos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs266.snc1/9331_183552074459_646354459_3752482_1958127_n.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs266.snc1/9331_183552619459_646354459_3752483_314970_n.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://photos-a.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs252.snc1/9921_183573544459_646354459_3752667_823713_n.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs272.snc1/9921_183574034459_646354459_3752668_3677953_n.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://photos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs272.snc1/9921_183574434459_646354459_3752669_3274925_n.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>