Tags

, , ,

OTOP, bukan istilah baru yang artinya “On TOP”, tapi ini kisah nyata sebuah program creative industry berbasis komunitas & creative culture di Negara Thailand. OTOP singkatan dari “One Tambon One Product”, Tambon kira-kira artinya setara desa, jadi “satu desa satu produk”. Ini adalah program yang dibuat pemerintah Thailand tahun 2001 untuk para petani Thailand (sensus: 70% sumber mata pencarian masyarakat Thailand adalah bertani) meningkatkan pendapatannya dengan memberikan aktifitas baru membuat kerajinan (tekstil, sulaman, anyaman bamboo, keramik, wood-craft/furniture, dll) di sela masa setelah panen. Ini adalah gagasan pemberdayaan ekonomi daerah rural melalui apa yang mereka sebut “promoting artisanal entrepreneurship”. Setiap desa, tidak harus sama dalam memproduksi kerajinannya tetapi menurut potensi dimana mereka berada baik dalam pengadaan bahan maupun tradisinya. Dengan kata lain produk yang mereka hasilkan benar-benar berdasar orisinalitas, budaya dan tradisi lokalitas. Dan yang mencengangkan adalah resultnya:
Komunitas: Dari 2002 hingga 2004 terjadi peningkatan dari 16.000 desa menjadi 29,000 komunitas pengerajin yang produktif.
Pendapatan: Pendapatan dari penjualan produk program OTOP dari tahun 2002 ke 2004 setara dengan US$ 125 milyar
Penyerapan tenaga kerja: 11,224 orang dan tambahan tenaga kerja baru 8,729 orang
Nilai Penjualan: US$ 874 milyar
Program ini menjadikan status mereka menjadi farmer plus. Yaitu petani yang juga pengusaha kecil industri kreatif1
Kisah sukses, memang tidak selamanya menjadi motivasi. Pasti ada saja alasan kita buat mencelanya. Tapi mari kita berpikir positip, kisah sukses Thailand dengan OTOP seharusnya menginspirasi kita akan potensi kerajinan dan masyarakat di Bali serta peran komunitas untuk bergerak dengan bidang kreatifnya lebih bernilai ekonomi. OTOP memang digagas oleh pemerintah, namun dimensinya menarik dengan melibatkan komunitas petani yang kreatif.
1 www.thaitambon.com

MEMBAGI GAGASAN ERA CREATIVE ECONOMY
Berbagi mengenai komunitas kreatif Bali dengan entry point creative economy memberikan semangat dan gagasan bagi kebanyakan peserta di SoupChat community yang digelar di Djendelo Café Suicide Glam Renon Jumat sore 29 Agustus 2008. Acara yang dihadiri sekitar 20-an orang dari berbagai latar kreatif dan bidang profesi ini mampu membangun diskusi yang menarik.

Berbekal presentasi rangkaian prediksi era ekonomi memasuki era ekonomi kreatif yang berbasis human capital, menunjukan model ekonomi kreatif di Negara-negara lain, aktifitas ekonomi kreatif di Indonesia hingga gagasan pentingnya kreatif ekonomi di Bali yang geliatnya telah ditunjukan dengan aktifitas kreatif dari beberapa creator di Bali semisal Nanoe Biroe, Wayan Balawan, Superman is Dead di bidang musik lalu Suicide Glam dalam fashion brand, Popo Danes, Gde Mahendra dan Yokasara dalam arsitektur, dan banyak lagi bahkan yang belum terpetakan. Pendeknya, melalui pengembangan industri kreatif di Bali bukan hanya berdampak ekonomi melalui pembangunan sumber daya insani tetapi juga kontribusi untuk branding destination Bali melalui “asset insan kreatif dan karya-karyanya” yang menjadi icon pencitraan Bali.




Pemetaan ragam industri kreatif di Bali dan potensinya

MENAWARKAN GAGASAN KOMUNITAS KREATIF BALI
Pada intinya, gagasan creative economy yang ditawarkan dalam membentuk komunitas kreatif di Bali adalah membangun budaya kreatif secara lebih meluas, nurturing local talent dan creative community member to grow, dan menanamkan kewirausahaan serta network bagi para pelaku kreatif. Di Bali, mengembangkan industri kreatif melalui komunitas juga merupakan sebuah upaya mencetak potensi unggul menemani tourism yang terlebih dulu telah membentuk pencitraan Bali.

Dalam diskusi, Robin Malau yang kandidat IYCEY 2006 menyampaikan kesan dan impresinya terhadap tawaran membangun komunitas kreatif dan kesediaan keterlibatannya. Bahkan disampaikannya bahwa konsep ini bukan sekedar tawaran namun sebuah visi yang harus segera dimulai pergerakannya. Catatannya agar menjadi perhatian mengenai citra “pusat” kreatif itu jangan hanya Jakarta dan Bandung juga disampaikannya melihat kepentingan yang lebih luas yaitu Indonesia.

Hal yang terakhir disampaikan Robin sangat beralasan dan dengan inisiatif membangun komunitas kreatif sesungguhnya secara langsung menjawab kekhawatiran itu. Tidak perlu datang tuntutan dari Jakarta terlebih dahulu untuk membuat komunitas kreatif namun secara pro aktif memulai aktifitas dan berjejaring dengan komunitas kreatif di kota lain. Khusus untung jejaring ini memang telah direncanakan mengundang penggiat komunitas kreatif dari Bandung untuk sharing dengan komunitas kreatif di Bali mengenai pengalamannya membuat Helar Festival dan mengusung branding Bandung oleh komunitas kreatif : “Bandung Emerging Creative City”

Luasnya kemungkinan bidang kerja komunitas menjadi pertanyaan Chika selaku salah satu penggagas SoupChat. Pertanyaannya apakah nanti komunitas juga akan menjadi lembaga yang langsung dapat memenuhi kebutuhan tiap individu atau institusi kreatif dalam mengembangkan bisnisnya. Dicontohkan misalnya kebutuhan itu adalah sub system dalam bidang manajemen, pemasaran atau yang lainnya yang dibutuhkan oleh mereka. Siapa yang akan mengerjakannya ?. Digaris bawahi pula bahwa pandangannya sangat realistis terhadap tugas dan tanggung jawab komunitas kreatif nantinya yang dipandangnya sangat berat.

Pertanyaan yang sangat baik ini berpeluang membuka kesadaran kita semua akan dua peran penting kita yaitu pertama, sebagai pelaku kreatif yang memiliki bidang dan profesi kreatif yang telah berjalan untuk lebih baik lagi dan yang kedua adalah peran sebagai anggota komunitas yang memiliki kesadaran pentingnya pergesekan anggota komunitas dalam sharing knowledge dan experience serta mendorong terbentuknya kesadaran dan pemikiran baru mengenai pengembangan profesi kreatif serta penunjangnya. Dengan kata lain dua peran ini menegaskan bahwa komunitas bukan institusi komersil maupun lembaga yang absolut secara langsung berhadapan dengan setiap tuntutan, tetapi lebih kepada pemberdayaan anggota komunitasnya melalui sebuah proses. Komunitas dan forum idealnya berisikan anggota yang masing-masing mewakili bidang keahlian kreatif yang berbeda, latar belakang yang berbeda, pengalaman dan pencapaian berbeda, namun memiliki kesetaraan dalam sharing sehingga transformasi yang terjadi akan mendorong terjadinya pemikiran-pemikiran yang dewasa sesuai dengan pijakan komunitas kreatif yaitu toleran dan mengharagai keberagaman.

Pertanyaan lain dari Ade menyoal basis teknologi yang dimiliki Indonesia (Bali) tidak seperti yang dimiliki Negara lain dalam pengembangan industri kreatifnya saat ini. Misalnya creative content yang saat ini menjadi komoditas di Korea dan jepang disebabkan sebelumnya infrastruktur idustri serta teknologi informasi dan komunikasi telah mereka miliki. Dimensi pertanyaan ini lebih menegaskan pentingnya membuat pemetaan bidang kreatif dan potensi kreatif untuk dikembangkan lebih lanjut. Pemetaan ini yang akan merupakan petunjuk arah kemana komunitas akan mendorong.

Skema interaksi dalam komunitas kreatif

APA TUGAS KOMUNITAS KREATIF ?
Rambu yang harus diingat bagi komunitas sangat jelas : Tidak elitis dan exclusive sehingga hanya bergerak di area tertentu saja dan oleh segelintir orang saja. Diperlukan sebuah komitmen dan pengorbanan tinggi para anggota komunitas untuk memberikan yang terbaik yang dapat dilakukannya dan dipahami oleh yang lainnya sebagai trigger membangun komunitas kreatif yang lebih besar.

Bagaimana dengan posisi pemerintah ? Sejatinya, jika kita selalu menempatkan pemerintah sebagai kata kunci akan menjadi mandul lagi disebabkan pemetaan agenda dan skala prioritas pemerintah demikian rumitnya dan pemahaman strategis belum tentu dikuasai secara cepat. Mencoba mendorong peran pemerintah yang sesungguhnya selaku fasilitator rakyatnya adalah agenda, alangkah baiknya komunitas kreatif berjalan sambil melakukan lobby kepada pemerintah dengan tepat dan bukan memaksa atau menuntut. Kesuksesan komunitas kreatif Bandung membangun akar rumput dalam programnya dengan perhelatan kreatif Helar Festival yang menelorkan branding Bandung yang diterima oleh pemerintah daerahnya sebagai official branding Bandung sekaligus konsep membangun Bandung sebagai creative city menunjukkan hal itu dapat bekerja dengan baik.

Sebagaimana istilah “Triple Helix” dimana dalam menggulirkan creative economy diperlukan peran tiga pihak yaitu pemerintah, swasta dan cendikia yang wajib ditopang oleh masyarakat dan komunitas. Ringkasnya, setiap potensi kreatif difasilitasi oleh pemerintah, didorong bisnis dan kewirausahaannya oleh swasta dan diciptakan mekanisme yang lebih baik mencetak individu-individu kreatif baru oleh akademisi dan cendikia sehingga menjadi sebuah perjalanan yang dinamis dan berkelanjutan.

Sebagai pamungkas, untuk kinerja komunitas dengan baik diperlukan data-data yang diperoleh dari riset dan studi berupa pemetaan baik industri kreatif maupun potensi kreatif bahkan keunggulan dan masalah-masalahnya. Dari simpulan diskusi-diskusi terdahulu telah dapat dikerucutkan arah dan tujuan komunitas yang berdasar kebutuhan dan prioritas.
Dan sekali lagi, ketika disadari bahwa peran komunitas begitu penting, saat itulah harus selalu diingat peran yang sesungguhnya, yaitu : “Open dialogue, the exchange of ideas, and opportunities for discovering new synergies through networking. They are critical to the foundation of growing creative community” (lihat skema interaksi dalam komunitas kreatif)

Sebagian peserta diskusi berlanjut hingga larut, dengan suasana lebih casual dan informal. Munculah berbagai gagasan dan unek-unek yang telah lama terpendam. Mengenai keyakinan dan rasa mampu menuju yang lebih baik, mengenai kekuatan melalui kebersamaan, mengenai rasa percaya diri dan semangat. Malam menyambut Hari Raya Kuningan memang dingin, namun sebelum pulang masing masing antusias bertanya “Kapan kita segera berkumpul lagi ?”.

Ditulis oleh: Ayip
Chief Creative Officer Matamera Communications