Rasanya baru kemarin saya jumpa Ridwan Kamil alias Kang Emil di Bali ditemani Pak Rana Wiarcha dari IAI Bali. Mendengarkan kisah semangat komunitas kreatif di Bandung menggelar Helar Festival dengan sukses. Sukses karena membawa spirit komunitas kreatif disana secara kolektif memperjuangkan apa yang mereka sebut “Bandung Emerging Creative City”. Biar Cuma 1,5 jam perlawatannya ke Bali untuk kerja, kang Emil masih mau berbagi dan meluangkan waktunya ketemu.

Sebelum usai, masih sempat supportnya diberikan buat komunitas kreatif Bali agar bisa eksis dan kompak. Terima kasih telah berbagi dan menyemangati kita di Bali!.

Setelah kembali ke Bandung di Facebook sempat dia menulis pesan singkatnya: “Ayo kang, semangat” tapi di statusnya di FB dia menulis: Ridwan is writing ‘sad but true story’ behind helarfest. never give up guys!. Lha emang ada apa ya? Semuanya jadi jelas setelah dia mengirimkan tulisan ini :

‘HIDUP ADALAH UDUNAN’
SEKELUMIT DUKA HELARFEST 2008.

*M. Ridwan Kamil

[1] Kekhawatiran di Sabtu mendung itu akhirnya terjadi juga. Jam 5 sore acara konser musik Bandung Youth Park Fest dihentikan polisi. Alasannya tidak jelas. Seluruh panitia bingung dan panik, terutama sang ketua panitia, Edi Brokoli. Bagaimana tidak, belasan ribu penonton yang datang di lapangan Saparua masih berjubel dan bersemangat, berharap aksi panggung terus berlanjut hingga larut malam. Namun harapan mereka pupus sudah, karena polisi bersikukuh.

Panitia dengan keberanian seadanya langsung bergerak menggiring kerumunan massa untuk bubar. Di tengah keriuhan mengamankan itu seorang panitia, Fian, menjadi korban. Ia terjatuh dari pagar pengaman dengan kepala dibawah. Kakinya cedera dan satu telinganya tidak bisa mendengar. Diluar dugaan, belasan ribu remaja tanggung itu bubar dengan tertib. Tidak ada kerusuhan.

Acara konser 40-an band yang direncanakan untuk menutup Helarfest, festival terbesar kreativitas anak muda Bandung, menjadi anti klimaks. Harapan menjadikan hari itu menjadi momen kebangkitan kreativitas musik underground di Bandung pupus sudah. Ada yang merampoknya.

Selidik punya selidik, ternyata sore itu ada orang teramat penting sedang melawat ke kota kembang untuk acara perhelatan perkawinan. Prosedur pengamanan memaksa polisi untuk menghalau kerumunan dalam radius tertentu dari jalur rombongan Presiden Republik ini. Ya betul, karena SBY lewat untuk resepsi, maka acara kreativitas yang disiapkan berbulan-bulan dibubarkan paksa.

Kini Edi dan sahabat-sahabatnya harus menanggung rugi moril materil. Padahal acara yang tidak bersponsor ini didanai dari hasil pinjaman dan saweran (bahasa Sunda = udunan) para pekerja kreatif Bandung. Ada pinjaman uang pribadi dan orang tua. Ada sisihan uang nonton dan pacaran. Ada pinjaman tanpa bunga dari kas beragam perusahaan kreatif. Bahkan, ada yang rela melego motor Harley Davidson kesayangannya untuk dijadikan agunan. Bubarnya acara sebelum waktunya ini mengakibatkan panitia dililit hutang beberapa ratus juta rupiah yang tidak semestinya.

Prosedur paranoid keamanan di negeri keruh ini ternyata telah merampok energi kreativitas dan memutus keriangan ribuan hati. Menyakitkan dan mengiris hati.

***

[2] Saweran dalam bentuk urun rembuk ide, waktu dan uang adalah semangat ‘survival’ para pekerja kreatif di Tatar Parayangan ini. Komunitas musik cadas di Bandung yang menyelenggarakan konser Death Fest 3 yang diemohi sponsor adalah contohnya. Tidak ada bantuan pemerintah dan sponsor, masyarakat umum pun bergerak membantu. Pak Yusep, pedagang beras di pasar Guntur di Garut, ikhlas menyisihkan keuntungan jualan berasnya untuk konser kreatif ini. “Ini buat bantu-bantu biaya sound system,” ujarnya. Di minggu yang sama, komunitas Arsitektur juga menunjukan solidaritasnya dengan menyisihkan sebagian uang sponsor seminar arsitektur untuk membantu komunitas Death Metal yang jumlahnya 30-an ini (melebihi Jepang atau Amerika yang hanya belasan).

Acara-acara kreatif anak muda Bandung dalam payung Helarfest yang berjumlah 31 acara ini umumnya dilaksanakan dengan modal seadanya. Namun kebersamaan alhamdulillah mengalahkan keputusasaan. Bantuan dana dari pemerintah yang diharapkan hadir ternyata hampir semuanya meleset. Dana bantuan resmi dari Pemerintah Kota Bandung ternyata baru akan diusahakan cair bulan Oktober depan. Janji Gubernur Jawa Barat yang baru pun, ternyata nol besar. “Kasnya kosong,” kilah bendaharanya. Satu-satunya bantuan datang dari Menteri Mari Pangestu, itu pun baru dibayarkan setengahnya dan datang di saat acara Helarfest sudah selesai.

Namun kesuksesan hidup harus dimulai dari kegigihan, bukan dengan keluhan. Dengan segala kekurangannya, Helarfest berhasil menorehkan psikologis positif bagi masyarakat kota Bandung. Dibalik berita-berita negatif tentang Bandung (macet, sampah, kualitas lingkungan), isu kreativitas dan Helarfest ternyata menjadi satu-satunya berita baik (kompas, sabtu 4/9).

Minggu ini adalah minggu-minggu Edi Brokoli dan para sahabatnya di Bandung Creative City Forum (BCCF) bekerja keras untuk mengembalikan hutang dan pinjaman yang cukup besar. Jika anda punya ide kreatif untuk membantu Edi Brokoli silakan kontak di 0817832346. Karena hidup adalah kebersamaan.

Tulisan ini didedikasikan untuk puluhan Pak Yusep, pedagang beras di pasar Guntur juga untuk belasan Fian yang berkorban untuk sebuah mimpi bersama. Juga untuk api semangat generasi muda Bandung yang tidak boleh padam dan kreativitas yang tidak boleh mati.

Hidup adalah udunan.

***
* M. Ridwan Kamil, Arsitek, Dosen ITB dan Ketua Bandung Creative City Forum.

Kami komunitas kreatif di Bali turut menyesalkan kejadian ini dan berpikir tentang mimpi kreatif apa yang dapat membayarnya…. (Ay)