Tags

,

Semangat paguyuban yang diusung komunitas memang model ampuh yang membuka tabir sekat-sekat entah status, jarak ataupun tingkatan tertentu yang biasanya menjadi jurang pemisah. Yang tengah terjadi dengan upaya komunitas kreatif di Indonesia adalah semangat membagi kreatifitas sebagai titik balik pemberdayaan, entah pemberdayaan individu, komunitas maupun ekonomi. Bermodalkan niat serta pandangan positip bahwa setiap rintangan dapat dilalui bersama, geliat komunitas kreatif semakin membahana. Sense of belonging, sense of togetherness dan trustworthiness adalah tiga sekawan yang mengiringi semangat kebangkitan komunitas lewat kreatifitas ini. Benarkah ?

Ketika Indonesia memasuki babak ekonomi gelombang ke empat yang dicanangkan oleh SBY Agustus lalu mewakili Negara RI maka sebetulnya geliat komunitas telah tumbuh sebelumnya itu. Rangkaian aktifitas komunitas berbarengan dengan program yang dijalankan pemerintah menggulirkan creative economy memompa semangat baru yang digeber dengan serangkaian kampanye melalui pameran dan acara. Dan lewat perjuangan komunitas kreatif di Bandung lewat Helar Festival dengan 31 mata acara seakan membuktikan bagaimana “sihir” komunitas benar adanya.

“Jika sebelumnya kita mengenal triple ABG yaitu Academician, Business dan Governmment yang harus menopang berlangsungnya creative economy secara berkelanjutan, maka triple helix ini kini harus punya satu teman baru yaitu civil society alias komunitas untuk mencapai tujuan lebih cepat dan membumi”. Hal ini diucapkan oleh Irvan Noe’man, salah soerang penggagas Indonesia Design Power dan kini juga bergiat di Creative Center Indonesia. Bahkan dalam pesan singkatnya ia menulis “perlu segera dibuat manifesto komunitas kreatif Indonesia”. Pesan yang sangat masuk diakal jika melihat geografis Indonesia dengan kemajemukannya kalau harus terus menunggu komando dan mulainya pemerintah –terutama di daerah- membuat kebijakan konstruktif menjalankan program ekonomi kreatif ini.

Maka Bandung dan Bali yang membangun jejaringnya secara casual lewat sms, facebook, email dan sesekali ngopi bareng ini meyakini keragaman dapat memperkaya komunitas kreatif dan berbagi pengalaman serta pengetahuan harus dilanjutkan ke jenjang yang lebih nyata lagi yaitu bertukar program. Rangkaian inilah yang tengah menjadi topic hangat mengawali jejaring komunitas kreatif Bandung dan Bali.

Di sela pekerjaannya sebagai arsitek dalam lawatannya ke Bali Ridwan Kamil menyempatkan bertemu dengan perwakilan komunitas kreatif bali dan pada akhir pertemuan meyakini jaringan komunitas ini harus dibangun menjadi lebih konstruktif agar manfaatnya dapat dinikmati secara nyata. Ia berujar, “Kini Bandung membina persahabatan dan jejaring dengan 20-an creative city di dunia dan akan terjadi sebuah proses yang baik karena kita akan saling mengunjungi dan bertukar program. Asia Creative Entrepreneur Network yang diresmikan di Bandung Agustus lalu merupakan momen penting untuk para insan kreatif Indonesia berkiprah dalam kreatifitas yang lebih bernilai melalui jaringan”. Bahkan Ridwan menawarkan Komunitas Kreatif Bali menjadi tuan rumah untuk pertemuan Creative Entrepreneur sedunia pada Maret 2009.
Bukan hanya Ridwan Kamil selaku ketua Bandung Creative City Forum, tapi lewat komunikasi Facebook Gustaff Hariman Siregar selaku direktur Common Room dan Andarmanik dari komunitas Jendela Ide juga mendorong segera dijalinnya jejaring komunitas yang lebih nyata. Kedua orang yang disebutkan itu termasuk tim Bandung Creative City yang juga masing-masing memiliki komunitas, visi dan harapan yang besar dalam memberdayakan peran komunitas. “kuncinya setiap orang harus berbagi peran” kata Ridwan Kamil ketika ditanya bagaimana komunitasnya bekerja.

Dan Bali, komunitas kreatifnya -di sela persiapannya menggelar acara Bali Creative Power- terus melakukan sosialisasi dengan berbagai komunitas kreatif dan asosiasi profesi kreatif untuk membuat komunitas lebih luas manfaatnya. Selain itu aktif mengikuti acara-acara yang diadakan oleh pemerintah pada Pekan Produk Budaya Indonesia di Jakarta Juni 2008 dan Pameran Ekonomi Kreatif Indonesia Bisa di Jakarta Agustus 2008 juga bulan depan menjadi peserta pada Zona Kreatif Industri Indonesia pada acara Trade Expo Indonesia 2008 di Kemayoran Jakarta. Bahkan kini tengah mempersiapkan kerjasama jaringan dengan komunitas kreatif di Bangkok, Thailand dengan membuat Bangkok-Bali Creative Network dimana pada bulan Oktober 2008 ini Bali diberi “ruang” untuk mempresentasikan program dan karya-karya kreatif dan programnya pada Bangkok Design Festival demikian pula pada saatnya nanti Bali “menjamu” mereka dalam acara yang akan diadakan di Bali.

Jika jejaring komunitas ini dapat berjalan tentunya akan bertambah seru dan menarik. Bukan lagi sekadar bertukar pengalaman atau pengetahuan tetapi membuka jaringan yang lebih luas lewat persinggungan aktifitasnya memberikan kemudahan sebagai promosi dan bisnisnya.

Membangkitkan kinerja komunitas dan tetap menjalankan kreatifitas yang telah dimiliki adalah dua hal berbeda namun dijalankan secara beriringan. Keduanya saling “menunggangi” dan memberi manfaat. Yang satu membangun social capital, satunya lagi membangun entrepreneurship dan keduanya pantas saling menjaga keserasian. Bergabung dalam komunitas kreatif untuk lebih memantapkan potensi yang telah dimiliki oleh individu, institusi maupun komunitas masing-masing. Jadi, mari bersama kita songsong esok yang lebih baik itu….“The greatest danger for most of us is not that our aim is too high and we miss it, but that it is too low and we reach it.” (Michael Angelo)