Tags

, ,

Oleh Luh De Suryani dimuat di www.balebengong.net

Semangku sup hangat menjadi menu pembuka dialog santai, Soup Chat, antar pekerja kreatif di Bali, Jumat (29/8) lalu di Renon, Denpasar. Sekitar 30 orang dari berbagai profesi dan latar belakang pekerjaan berdiri menyimak presentasi dari komunitas penyuka olahraga paragliding sambil menyeruput sup sayur yang gurih.

Tony dari Komunitas Paragliding menjelaskan potensi olahraga paralayang ini dikembangkan di Bali. Tony yang juga atlet paragliding Bali ini menjelaskan cara kerja alat-alat olahraga paragliding dan bagaimana industri ini telah berkembang di Bali. “Awalnya hanya hobi menjadi bisnis baru,” ujar Toni yang melakukan bisnis paraglidingnya di kawasan Jimbaran, Kabupaten Badung ini.

Presentasi dari berbagai kegiatan baru di Bali adalah menu utama Soup Chat yang dilakukan setiap bulan. Ini adalah langkah awal untuk membangun industri kreatif di Bali. “Berbagai hidangan utama bergulir dari mulai presentasi kisah jalan-jalan, karya arsitektur, pengamatan kota tua, musik hidup, sulap, logika ilusi, dan lainnya,” kata Fransiska Prihadi, salah satu penggagas Soup Chat ini.

Salah satu menu utama Soup Chat yang mendapat tanggapan luas adalah ide untuk membentuk Bali Creative Community (BCC) yang dipresentasikan Arif Budiman, seorang desainer grafis.
Indonesia sendiri baru tahun ini mempersiapkan potensi industri kreatif ini. Pada awal Agustus lalu dihelat Pameran Ekonomi Kreatif Indonesia 2008 di Jakarta. Kegiatan ini menunjang peluncuran Cetak Biru Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2009 – 2025 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 4 Juni lalu.

Arif  Budiman, pencetus Bali Creative Community yang akrab dipanggil Ayip ini mengatakan industri kreatif yang modal utamanya adalah manusia kini menjadi destinasi dan reperesentasi bangsa di dunia global. ”Kita perlu event yang konsisten untuk memunculkannya sebagai destinasi mendampingi pariwisata,” kata Ayip, Direktur Creative Matamera Communication yang juga mengikuti Pameran Ekonomi Kreatif itu.

Banyak produk kreatif yang sudah menjadi ikon Bali namun belum dimaksimalkan sebagai destinasi. Misalnya Majalah Bogbog, majalah kartun bilingual pertama di Indonesia sebagai medium komunikasi baru atau Suicide Glam, merek pakaian rock and roll yang sudag masuk pasar internasional.

Suicide Glam sebagai industri fashion berupaya menciptakan brand dengan menyatakan produknya adalah hasil handmade. “Semua produk dibuat di Bali dengan cara yang adil, humanitarian working condition, dan dikerjakan secara detail,” ujar Rudolf Dethu, pemilik label ini yang juga mantan manajer grup musik Superman is Dead.

Ada lagi Suarti Jewellery, kelompok musik Superman is Dead, arsitektur karya Popo Danes, Ubud Writers and Readers Festival, dan lainnya.

Industri kreatif ini di sejumlah negara maju seperti Inggris dan Jepang menjadi penggerak peningkatan pendapatan masyarakatnya. Ada enam hal yang mendorongnya, yakni pertumbuhan signifikan pendapatan per kapita penduduk, dampak sosialnya yang masif seperti pemeraatan kesejahteraan dan tumbuhnya toleransi sosial.

Inggris, misalnya, negara dimana industri ini begitu dibanggakan pemerintahnya mampu menyumbang lebih dari 8% pendapatan nasionalnya. Serta membuka lebih dari dua juta lapangan pekerjaan per tahun.

Sementara Korea Selatan kini memprioritaskan industri kreatif sebagai penyokong pendapatan nasional. Mereka fokus di bidang industri game, animasi digital, informasi teknologi, dan mobile content.

Potensi sumber daya kreatif ini telah memberikan kontribusi yang cukup besar pada produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Menurut Departemen Perdagangan dari total PDB nasional pada 2006, industri kreatif  menyumbang 104,8 triliun rupiah atau 5,7%. Dari jumlah itu, tiga industri terbesar di bidang ini yang berkontribusi besar pada PDB Indonesia adalah fashion (30%), Kerajinan (23%), dan periklanan (18%). Lainnya adalah penerbitan dan percetakan, media, televisi, desain, arsitektur.

Sementara kontribusi PDB Bali menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Bali terbesar masih di bidang perdagangan, hotel, dan restoran (33%) . Disusul bidang pertanian, peternakan, dan perikanan.

Pengangguran juga menjadi masalah besar di Bali, karena jumlahnya semakin banyak. Menurut data BPS Bali, per Februari 2008 ini saja terdapat 95.500 orang pengangguran terbuka di Bali.

Industri kreatif diyakini memunculkan penciptaan iklim bisnis yang mengembangkan banyak lapangan usaha baru, sebagai sumber daya terbarukan, membentuk citra dan identitas bangsa, serta memunculkan branding destination. “Bali perlu mengkolaborasikan industri ini dengan pariwisata agar tercipta multiflier effect dan mengurangi eksploitasi sumber daya alam bagi pembangunan pariwisata yang masif,” kata Ayip. [b]