Tags

, , ,


Insan kreatif terkesiap beberapa minggu lalu mendapat kiriman email nan memilukan berjudul “Kisah Sedih Dari Bali”. Hampir di seluruh milis beredar dan segera menjadi sebuah perdebatan hangat. Berikut petikan emailnya:

Kisah sedih dialami Desak Suarti, seorang pengrajin perak dari Gianyar, Bali. Pada mulanya, Desak menjual karyanya kepada seorang konsumen di luar negeri. Orang ini kemudian mematenkan desain tersebut. Beberapa waktu kemudian, Desak hendak mengekspor kembali karyanya. Tiba-tiba, ia dituduh melanggar Trade Related Intellectual Property Rights (TRIPs). Wanita inipun harus berurusan dengan WTO.

“Susah sekarang, kami semuanya khawatir, jangan-jangan nanti beberapa motif asli Bali seperti `patra punggal’, `batun poh’, dan beberapa motif lainnya juga dipatenkan” kata Desak Suarti dalam sebuah wawancara.

Kisah sedih Desak Suarti ternyata tidak berhenti sampai di sana. Ratusan pengrajin, seniman, serta desainer di Bali kini resah menyusul dipatenkannya beberapa motif desain asli Bali oleh warga negara asing. Tindakan warga asing yang mempatenkan desain warisan leluhur orang Bali ini membuat seniman, pengrajin, serta desainer takut untuk berkarya.

Email itu adalah bagian kampanye perlindungan budaya yang dilakukan Indonesian Archipelago Culture Initiatives (IACI). Pada saat bersamaan memang sedang berjalan sidang gugatan masalah hak cipta desain perhiasan perak di pengadilan negeri Denpasar dan segera membuat HAKI menjadi sebuah pertanyaan besar bagi banyak kalangan terutama insan kreatif dan masyarakat pengerajin. Berikut petikan berita yang dilansir http://www.kompas.com :

Hak Kekayaan Intelektual
BEREBUT HASIL KREASI PERAJIN PERAK BALI
Minggu, 21 September 2008 | 00:55 WIB

Dengan mata berkaca-kaca, Ketut Deni Aryasa (32) di depan majelis hakim Pengadilan Negeri Denpasar, Bali, Rabu (17/9), memohon agar dibebaskan dari segala tuduhan menjiplak hasil karya perhiasan perak yang diklaim milik warga Amerika Serikat.

”Ini sungguh menyakitkan hati. Peradilan saya juga menyakiti masyarakat Bali, khususnya perajin perak. Orang-orang asinglah yang meniru dan menjiplak hasil karya kami,” kata Deni di depan majelis hakim.

Deni terancam hukuman dua tahun penjara dan denda Rp 5 juta. Ia disidangkan sejak bulan Juni 2008 dengan dakwaan melanggar Pasal 72 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta.

Adalah PT Karya Tangan Indah (KTI), perusahaan milik warga Amerika Serikat, yang melaporkan bahwa Deni menjiplak dan memperbanyak perhiasan motif batu kali yang telah didaftarkan di Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Padahal, perhiasan milik Deni disebut crocodile, idenya diambil dari corak kulit buaya. Secara kasatmata, saat kedua motif diperbandingkan di depan persidangan, sama sekali tidak mirip.

Motif batu kali milik KTI berbentuk oval mulus yang disusun berimpitan, sedangkan motif crocodile milik Deni seperti kulit buaya dengan bentuk tidak rata sehingga seperti berserat-serat. ”Saya bingung di mana kemiripannya,” ujar Deni.

Motif crocodile Deni juga telah terdaftar di Ditjen HKI tahun 2004. Artinya, kedua motif sama-sama diakui hak ciptanya.

Tahun 2000-2003, arsitek lulusan Universitas Udayana yang berdarah campuran Belanda-Cina dari ibu dan Bali dari ayah ini memang bekerja di PT KTI. Namun, ia mengaku tidak bekerja di bagian desain motif, tetapi di desain multimedia.

Salah satu saksi ahli di persidangan, Tjokorda Udiana Nindia Pemayun SSn SH MHum, dosen Institut Seni Indonesia Denpasar, menyatakan, hasil karya dari ide dasar yang berbeda tidak mungkin membuat hasil yang sama. Semua dipengaruhi oleh unsur substansial produk, seperti jenis material, proses penuangan, motif, dan tekstur.

Dampak dari kasus Deni, ribuan perajin perak Bali resah. Saat ini diperkirakan lebih dari 1.800 motif perhiasan perak Bali sudah diklaim hak ciptanya oleh warga asing, baik di Indonesia maupun di luar negeri.

Produk sejumlah perajin perhiasan perak sudah sering ditolak oleh negara tujuan ekspor dengan alasan melanggar hak cipta. Padahal, motif produk kerajinan mereka sudah dipakai sejak tahun 1970-an.

Para perajin perak kecewa terhadap pemerintah yang kurang proaktif dalam melindungi produk lokal. Ketika ada kasus di pengadilan dan ratusan orang meminta perlindungan, baru pemerintah dan wakil rakyat seperti tersadar dan bergerak.

Wakil Ketua Asosiasi Perajin Perak Bali Nyoman Mudita menyatakan, kasus ini menjadi momentum penting bagi pemerintah dan wakil rakyat. ”Kami meminta pemerintah mengayomi kami dari kekuatan kapitalis asing. Ada baiknya pemerintah mengecek ulang daftar hak cipta orang asing yang terdaftar di Indonesia. Jangan-jangan ada pencurian motif lokal,” ujarnya.

Bahkan, kata Mudita, ada motif tradisional Bali, seperti Batun Timun, Batun Poh, Kuping Guling, Parta Ulanda, dan Jawan, sudah didaftarkan pihak asing.

Di Desa Celuk, Kabupaten Gianyar, lebih dari 1.000 warganya menjadi perajin perak. Di sepanjang jalan di Celuk banyak galeri ataupun perajin yang tengah mengerjakan perhiasan perak.

Data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali menunjukkan, ekspor kerajinan perak sepanjang Januari-Juli 2008 hanya Rp 60 miliar. Padahal, pada periode yang sama tahun lalu mencapai Rp 1,4 triliun.

Gubernur Bali Made Mangku Pastika dan Bupati Gianyar Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati mengakui, pemerintah belum memberi perhatian cukup terkait hak kekayaan intelektual para perajin perak Bali.

Keduanya berjanji akan membentuk tim khusus guna menginventarisasi seluruh motif kerajinan perak Bali. (Ayu Sulistyowati)

Gubernur Bali Made Mangku Pastika bereaksi dan terjadi pertemuan dengan pihak yang tengah “bertikai” untuk mendengar dan menanyakan langsung kronologis permasalahannya. Ia mengatakan pihaknya bakal membentuk tim khusus untuk menangani masalah pencurian motif Bali oleh orang asing. “Itu harus kita bentuk untuk melakukan pencegahan,” tegasnya. Benarkah turun tangannya Mangku Pastika sebuah wujud berbenah bagi masalah hak cipta dimana Bali sangat rawan dengan kasus semacam ini ? Atau ini babak lain memasuki carut marutnya dunia “HAKI”

Mari melek HAKI, agar kita yakin bagaimana sesungguhnya fungsi dan perannya bagi kreatifitas yang telah diciptakan. Apakah benar hak cipta dibuat untuk melindungi kreatifitas atau hanya skenario global yang diciptakan untuk “menjajah” kembali Negara-negara dunia ke tiga.

Insan kreatif yang selalu mencipta tentulah galau berada dalam situasi semacam ini. Tapi jangan terburu bingung, ingin memperoleh referensi sebelum kita bertindak ? Hadiri acara diskusi yang diadakan oleh Walhi Bali dan Yayasan Manikaya Kauci dibawah ini :

“SKENARIO GLOBAL MENJERAT PENGERAJIN KECIL BALI”

Latar belakang

Saat ini pengerajin perak di Bali merasakan sebuah keresahan yang sama karena banyak motif-motof kerajinan Bali telah didaftarkan hak cipta oleh pengusaha asing seperti: pepatraan, jawan, jawan keplak, motif rantai tulang naga, motif dayak dan sebagainya yang sebenarnya merupakan hasil karya budaya bangsa yang telah diwariskan secara turun temurun.

Selain itu ketakutan untuk berkreatifitas juga disebabkan oleh terjadinya kriminalisasi dan gugatan hukum terhadap pengerajin kecil karena dianggap melanggar hak atas kekayaan intelektual (HAKI). Meski penindakan hukum terhadap pengerajin ini terlihat legal karena diatur dalam UU HAKI, namun kita tidak bisa menungkiri bahwa lahirnya peraturan yang berkarakter liberal-induvidualistik ini merupakan skenario global.

Kelemahan masyarakat sipil untuk membaca politik hukum, didesakkan oleh kapitalisme global dan kemudian diberlakukan kepada rakyat-rakyat kecil dinegara berkembang, telah memuluskan jalan pengerukan keuntungan bagi korporasi (TNC/MNC) dengan jalan menindas hak-hak kolektif rakyat. Jika tidak terjadi kesadaran kolektif untuk melawan perampokan aset-aset kolektif rakyat ini, maka kriminalisasi, penindasan pengerajin kecil demi melipatgandakan keuntungan dengan berkedok HAKI akan terus menerus terjadi. Tinggal kemudian pertanyaannya adalah, siapa korban berikutnya?

Atas dasar keprihatinan atas kondisi ini, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Bali dan Yayasan Manikaya Kauci (YMK) dengan dukungan dari Third World Network memfasilitasi diskusi terkait isu tersebut diatas.

Maksud dan Tujuan

  1. Disemininasi informasi tentang skenario global dalam penjajahan kembali negara-negara berkembang
  2. Melahirkan kesadaran agar rakyat kecil di negara berkembang bangkit melawan skenario global yang menindas
  3. Melindungi segenap hak kekayaan kolektif yang diwariskan oleh para leluhur sebagai hak atas budaya

Bentuk Kegiatan

Diskusi sambil menunggu berbuka puasa bersama (ngebuburit) bertema ”Skenario Global Menjerat Pengerajin Kecil Bali” dengan mitra diskusi:

1.    Hira Jhamtani (Peneliti Bidang Globalisasi dan Lingkungan Hidup di Bali)
2.    I Nyoman Mudita (Wakil Ketua Asosiasi Perak Bali)

Moderator: Ni Nyoman Sri Widhiyanti

Waktu dan Tempat
Hari/ tanggal : Selasa, 23 September 2008
Waktu           : 15.00 wita
Tempat         : Sekretariat Yayasan Manika Kauci. Jl. Noja, Gang 37 No. 16 Denpasar – Bali
Telp. (0361) 249630

Pelaksana

Acara ini dilaksanakan oleh WALHI Bali dan Yayasan Manikaya Kauci dengan dukungan dari Third World Network (TWN)