Tags

, ,

Kompas
Selasa, 4 November 2008 | 01:26 WIB

JAKARTA, SENIN–Yayasan Kelola mengundang organisasi lokal masyarakat, kelompok budaya, organisasi adat masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan percontohan Inisiatif Komunitas Kreatif dengan cara mengirimkan gagasan inovatif dan orisinil dalam menggunakan kebudayaan dalam upaya memberdayakan masyarakat dan mengentaskan kemiskinan atau gagasan yang dapat mendukung kegiatan PNPM Mandiri dengan menggunakan pendekatan budaya.

Inisiatif Komunitas Kreatif muncul karena banyak orang melihat kemiskinan hanya dengan kacamata ekonomi saja, di mana kekurangan uang dipandang menjadi satu-satunya masalah orang miskin. Padahal kemiskinan bukan hanya sekedar kondisi ekonomi dan tidak semua masyarakat miskin adalah miskin dalam arti yang sama. Maka strategi penanggulangan kemiskinan Indonesia di tahun 2002 pun mulai memandang kemiskinan sebagai fenomena multidimensi.

Penanggulangan kemiskinan tidak lagi bisa hanya mengandalkan bantuan uang semata. Yang dibutuhkan adalah pendekatan yang komprehensif untuk menguatkan masyarakat miskin sehingga memiliki daya untuk meningggalkan kotak kemiskinannya dengan kaki mereka sendiri. Pemikiran inilah yang kemudian menjadi dasar strategi penanggulangan pemerintah sejak tahun 2007 lewat PNPM Mandiri, yaitu Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri.

Sebagai ruh dari program ini, pemberdayaan sudah pasti tidak bisa dilepaskan sebagai proses kebudayaan. Dan janganlah menyempitkan kebudayaan menjadi kesenian. Karena sebetulnya budaya menyangkut pola pikir, perilaku, komunikasi antar sesama manusia, hasil karya seseorang atau masyarakat. Kebudayaan meliputi semua kepercayaan dan nilai-nilai dalam bahasa, ilmu, dan seni; juga menyangkut kebiasaan sosial seperti kebiasaan makan, pakaian, dan rekreasi.

Pemikiran berbasis kebudayaan inilah yang kemudian mendorong lahirnya Inisiatif Komunitas Kreatif bagi PNPM Mandiri. Prinsip dasar Inisiatif Komunitas Kreatif sangat sederhana, yaitu bagaimana PNPM Mandiri dapat membantu masyarakat menemukenali nilai sosial dan ekonomi mereka sendiri lalu, mengubahnya menjadi kekuatan penggerak mereka untuk keluar dari kemiskinannya – dengan langkah mereka sendiri.

Pendekatan budaya yang digunakan dalam Inisiatif Komunitas Kreatif adalah Pendekatan Berpikir Aset (Asset-Based Thinking) atau kemampuan melihat diri sendiri dan dunia luar, dengan mata terarah pada kekuatan dan potensi yang ada. Pendekatan ini mencoba memanfaatkan potensi lokal untuk mengembangkan masyarakat dalam pembangunan, sehingga mereka menjadi bagian dari pembangunan itu sendiri dan terlibat aktif di dalamnya.

Sebagai kegiatan percontohan, Yayasan Kelola dengan memperoleh bantuan pendanaan dari Japan Social Development Fund (JSDF) melalui Bank Dunia sejak Mei 2008 mulai melaksanakan inisiatif ini di 30 kecamatan di tiga provinsi yaitu Sumatra Barat, Jawa Tengah dan Nusa Tenggara Timur.

Bantuan hibah kreatif akan diberikan kepada kegiatan-kegiatan berbasis masyarakat yang efektif,inovatif yang memenuhi kriteria sebagai berikut:

  1. Kegiatan ini dapat diikuti oleh organisasi lokal masyarakat, organisasi non pemerintah/ lembaga keswadayaan masyarakat, kelompok budaya, organisasi masyarakat adat, organisasi perempuan, lembaga pendidikan yang memiliki “track record” yang tidak tercela baik sepanjang berhubungan dengan Yayasan Kelola maupun dengan lembaga donor lainnya yang berlokasi di Nusa Tenggara Timur, Sumatra Barat, dan Jawa Tengah.
  2. Kegiatan yang diajukan harus berfokus pada pembangunan berbasis masyarakat dan pengentasan kemiskinan, dengan menggunakan pendekatan budaya dalam pelaksanaannya.
  3. Kegiatan yang diajukan dapat berbentuk kegiatan yang sama sekali baru dan tidak terkait dengan PNPM Mandiri atau kegiatan yang diajukan dapat juga terkait dengan pelaksanaan PNPM Mandiri di lokasi kegiatan percontohan .
  4. Kegiatan yang diajukan harus inovatif, berkelanjutan, memiliki dampak yang cepat kepada masyarakat, dapat direplikasi, mempromosikan kesetaran gender, tidak memiliki dampak negatif pada lingkungan. Dapat merupakan kegiatan yang sama sekali baru atau didasarkan pada praktek-praktek atau kegiatan kultural yang sudah ada.
  5. Kegiatan yang diajukan tidak mendiskriminasikan kelompok manapun dalam masyarakat.
  6. Kegiatan yang diajukan dapat menciptakan jaringan kepada kelompok marjinal
  7. Kegiatan yang diusulkan harus mengembangkan nilai sosial dan ekonomis kebudayaan
  8. Kegiatan disusun, dikembangkan dan dilakukan oleh masyarakat sehingga mendapat dukungan dari komunitas/masyarakat (dibuktikan dengan notulensi proses yang bersifat mendukung dan mengukuhkan usulan kegiatan tersebut)
  9. Setiap kelompok hanya boleh mengirimkan satu buah usulan kegiatan
  10. Kegiatan yang diajukan tidak dalam proses atau sedang mendapat bantuan dari lembaga lain.
  11. Usulan kegiatan yang dikirimkan harus mengikuti format proposal yang telah ditentukan oleh Kelola.
  12. Hibah Kreatif yang diperoleh harus digunakan untuk membiayai pelaksanaan sebagian atau seluruh kegiatan yang tercantum dalam usulan kegiatan dan tidak boleh digunakan untuk membayar biaya-biaya operasional tertentu, seperti gaji staf dan sewa kantor (informasi lengkap dapat dilihat pada format proposal).

Yayasan Kelola berharap bantuan akan diberikan kepada dua sampai lima kegiatan per provinsi. Batas waktu akhir penerimaan proposal adalah 8 November 2008.
Anda yang berminat untuk mendapatkan informasi lengkap mengenai Request For Proposal untuk wilayah Jawa Tengah, Sumatra Barat, dan Nusa Tenggara Timur dapat menghubungi email: dayabudaya@kelola.or.id dengan mencantumkan Permohonan Informasi Request for Proposal pada subject email atau dapat melihat ke website kami di: www.dayabudaya.blogspot.com.