Tags

, , ,

kapan-ke-jogja-lagi

Siapa tak kenal Dagadu, merk kaos asli Jogja ? Dalam perjalanan uniknya Dagadu mengalami banyak hal yang menjadikannya saat ini lebih dewasa sebagai brand. Barangkali kita bisa bilang Dagadu tidak (hanya) jualan kaos lagi. Tapi menjual kota Yogyakarta. Buktinya slogannya yang baru bukan “Kapan Beli Kaos Dagadu Lagi ? tapi “Kapan Ke Jogja Lagi ?” Inilah sebuah upaya “naik kelas” dari brand yang sudah menjadi ambassador sebuah destinasi.

Kami akan berbagi tentang kisah Dagadu dengan kiat-kiat menarik dari A. Noor Arief yang merupakan salah seorang pendiri Dagadu dan menjabat sebagai presiden direkturnya saat ini. Walau minggu lalu di akhir bulan Oktober dia datang di Bali, namun wawancara santai ini dilakukan sebelumnya lewat email.

“Creativepreneurship” adalah istilah yang tepat bagi Dagadu yang didirikan secara kolektif di Jogja ini. Kini pertarungan brand Dagadu bukan saja berada pada desainnya kreatif namun strategi dan bisnisnya. Semoga percakapan ini menggugah inspirasi kita.

KKB: Bagaimana asal muasalnya ada gagasan bikin kaos dengan nama DAGADU ? Inspirasinya dari mana ? Mengapa Kaos ?
Arief: Kelompok Dagadu Djokdja berawal dari sekumpulan individu yang memiliki kesamaan minat dalam masalah-masalah kepariwisataan, perkotaan dan apresiasi desain grafis. Hampir seluruh anggotanya adalah mahasiswa dan alumni Teknik Arsitektur Universitas Gadjah Mada.
Nama “Dagadu-Djokdja” sebagai identitas kelompok tersebut baru muncul dan mulai digunakan saat peluncuran perdana produk-produk yang kami pasarkan di Lower Ground Malioboro Mall Yogytakarta, pada 9 Januari 1994. Kegiatan wirausaha yang dilakukan kelompok ini dengan memproduksi dan menjual produk “cinderamata alternatif dari Djokdja” (berupa kaus oblong, gantungan kunci, gambar tempel, topi dan pernak-pernik lain yang memuat rancangan grafis dengan tema-tema kepariwisataan dan lingkungan binaan kota Yogyakarta) pada mulanya lebih sebagai media penyaluran minat dan idealisme untuk menyampaikan gagasan-gagasan mengenai artifak, peristiwa, bahasa, serta living culture yang gayut dengan citra Yogyakarta melalui tampilan rancangan grafis yang menarik dan menggugah.
Nama “Dagadu-Djokdja” digunakan sebagai “merek dagang” sekaligus nama produsennya. Sebagaimana gagasan dan aktivitas spontan yang banyak terjadi pada kelompok ini pada saat memulai kegiatan wirausahanya, nama ini pun muncul tanpa alasan dan latar belakang yang jelas. Munculnya nama “Dagadu-Djokdja” pada saat-saat terakhir menjelang hari pertama penjualan sekadar didorong oleh kebutuhan praktis untuk memberi nama sebutan bagi sebuah produk, sama sekali jauh dari suatu strategi terencana dalam mengembangkan sebuah merek. Serangkaian penjelasan perihal nama tersebut baru disusun belakangan ketika sejumlah orang mulai menanyakan arti ataupun makna di balik nama dan gambar mata yang selalu mengiringinya. Dagadu, yang dalam bahasa slank anak-anak muda Yogyakarta berarti “matamu”, kemudian diberi penjelasan kurnag lebih sebagai berikut.

  1. Dalam wacana desain grafis, figur mata adalah salah satu idiom yang digunakan untuk menggambarkan citra kreativitas. “Dagadu” yang dihadirkan melalui logo berbentuk-dasar mata diharapkan dapat mewakili pandangan kelompok yang selalu berusaha menempatkan kreativitas sebagai aspek utama dalam setiap aktivitasnya.
  2. Citra mata juga diasosiasikan secara bebas dengan aktivitas sightseeing atau “cuci mata dengan berjalan-jalan keliling kota”. Ini diharapkan dapat merepresentasikan kepedulian kelompok ini terhadap masalah-masalah perkotaan dan kepariwisataan.
  3. “Dagadu” sebagai kosa kata yang familiar dalam pergaulan informal di Yogyakarta, pada gilirannya diharapkan dapat mewakili citra produk sebagi cinderamata khas Yogyakarta. Penyertaan kata “Djokdja” sesudah kata “Dagadu” semakin memeperkuat citra ini.

Pertimbangan pemilihan kaos oblong sebagai produk utama tak lepas dari orientasi kegiatan wirausaha ini. Seperti telah diuraikan di muka, kegiatan wirausaha yang cenderung merupakan wahana penyaluran minat ketimbang sarana pencapaian laba, ini mengakibatkan perhatian pada sisi penawaran melebihi perhatian pada sisi permintaan. Pada gilirannya, hal ini berpengaruh pada pemilihan produk utama, yang secara lebih rinci dapat dijelaskan sebagai berikut :

  1. Pertama, pengalaman merancang grafis (yang dapat diterapkan pada media semacam kaos oblong) telah dimiliki oleh para personel kelompok ini berkat kegiatan mereka selama tergabung dalam Keluarga Mahasiswa Teknik Arsitektur UGM,
  2. Kedua, proses produksi kaos oblong cenderung mudah dan murah. Hal ini penting mengingat keterbatasan modal yang ada,
  3. Ketiga, kaos oblong merupakan media yang sangat fleksibel untuk bermain-main dalam mengungkapkan gagasan tematik maupun gagasan visual-grafis.

dagadu-new
KKB: Pada saat itu bagaimana konsep desain kaosnya? Siapa yang mendesainnya ?

Arief: Konsepnya adalah bercerita tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan Jogja. Bagi kami, kota adalah sebuah cerita, dan Dagadu berupaya menuturkan lewat cinderamata yang dibuatnya, terutama oblong.
Seperti telah diuraikan pada bagian sebelumnya, aspek disain pada kegiatan wirausaha ini sangatlah signifikan mengingat peranannya dalam membentuk keunggulan produk. Untuk itu, produk Dagadu Djokdja harus menggunakan strategi disain yang spesifik pula. Secara garis besar, disain-disain yang dirilis oleh Dagadu Djokdja (terutama disain grafisnya) memiliki sejumlah karakteristik antara lain sebagai berikut.

  1. Bergerak dalam khasanah budaya Jogja/Jawa
  2. Mengangkat romantisme kota,
  3. Menampilkan hal-hal keseharian yang bersahaja dan karena itu banyak terlewat dari perhatian melalui interpretasi baru,
  4. Merangsang syaraf humor dan syaraf estetika,
  5. Menertawakan diri sendiri.

KKB: Secara bisnis DAGADU itu katanya unik karena orang se Jogja jualan DAGADU. Tapi katanya yang dijual orang itu “tembakan” alias “bajakannya”. Lho, kok bisa ?
Arief: Itulah yang menyedihkan dari Jogja. Orang2 yang membuat dan menjual barang jiplakan itu mengalami gangguan kepercayaan diri yang akut, sehingga mereka merasa tidak bakal laku kalau mereknya bukan Dagadu. Padahal, mestinya mereka bisa berkreasi dan berkompetisi dengan cara yang lebih sehat dan bermartabat.

KKB: Jadi menurut mas Arief DAGADU itu bisa eksis karena apa?
Arief: Dagadu bisa eksis sampai saat ini hampir 15 tahun, antara lain karena kecerdasan para konsumennya yang bisa membedakan mana barang asli dan mana barang tiruan, he.he.he.
Dan mereka secara sadar telah mengapresiasi upaya2 kreatif yang kami lakukan dalam menghasilkan desain2 tersebut.
Yang kedua, kota Jogja selalu punya cerita baru yang menarik untuk ditunggu-tunggu, ataupun cerita2 lama yang masih tetap asyik untuk dicerna.

KKB: Omzet dan profitnya udah bisa jadi apa mas ?
Arief: Wuah… cem-macem mas, he.he.he. Yang paling penting adalah bahwa selama ini Dagadu sudah bisa memberikan manfaat lahir dan batin bagi orang2 yang terlibat di dalamnya. Para pendirinya, karyawannya, para mitra binaannya, 600an mahasiswa di Jogja yang telah berpartisipasi dalam program Garda Depan selama 10 tahun ini ….

KKB: Lalu apa kiat-kiat DAGADU saat ini memosisikan produknya?
Arief: Posisi Dagadu adalah ”cinderamata dari Jogja”. Sebuah cinderamata haruslah sangat eksklusif hanya bisa didapatkan di lokasi yang direpresentasikannya. Terus terang, strategi tersebut juga datang tanpa kesengajaan. Awalnya, lagi-lagi, keterbatasan sumber-dayalah yang membuat kami tidak membuka gerai atau cabang di banyak lokasi. Ternyata, justru keterbatasan ruang dan lokasi penjualan, terbatasnya persediaan barang, dan membludaknya pembeli mengakibatkan adanya kerumunan besar terutama di masa-masa liburan sekolah. Kerumunan semacam ini segera menjadi fenomena yang banyak dibicarakan, yang berarti juga merupakan publikasi cuma-cuma. Banyaknya liputan media massa terhadap segala sepak terjang yang berkaitan dengan produk Dagadu Djokdja makin menggencarkan publikasi tersebut.

KKB: Siapa yang menciptakan slogan “Kapan Ke Jogja Lagi?”

Arief: Itu hasil kreatifitas kolektif kami di Dagadu…

KKB: Maksudnya apa tuh ?
Arief: “Kapan Ke Jogja Lagi?(KKJL)” adalah langkah kecil dari Dagadu Djokdja untuk mengajak para alumni Jogja datang kembali mengunjungi almamater ini: bersua sobat lama, bertemu teman baru, mengenang cerita lama, merangkai harapan baru. “Kapan Ke Jogja Lagi? (KKJL)” juga hendak mengajak warga kota untuk menjadi tuan rumah yang lebih ramah lagi, dan Jogja menjadi rumah yang lebih nyaman lagi. Lebih humanis lagi. Lagi dan lagi!
Serangkaian kegiatan kita laksanakan untuk mendukung progam KKJL tersebut. Tidak saja berbagai bentuk promosi untuk mengajak orang datang ke Jogja, namun juga berbagai persuasi dan edukasi bagi warga kota Jogja untuk menjadi tuan rumah yang ramah bagi tamu-tamunya.

KKB: Apakah ada kesamaan antara DAGADU yang awal dengan sekarang secara spirit?
Arief: Alhamdulillah, tidak ada yang berubah. Kami sangat serius untuk terus-menerus menjaga semangat bermain2 kami. Semoga masih akan terus bertahan sampai nanti…

KKB: Apa sih cita-cita DAGADU ini menurut yang punyanya…
Arief: sangat simpel. Kami cuma ingin tetap menjadikan kreativitas sebagai aspek utama dalam setiap kegiatan kami, dan memberi manfaat bagi lingkungan yang lebih luas.

KKB: Ok. Terima kasih sharingnya bersama kita. Sukses selalu Dagadu.
Arief: Sama-sama. Salam buat Komunitas Kreatif di Bali, “Kapan Ke Jogja Lagi?”

Nama lengkap:
A. Noor Arief
Jabatan:
Direktur PT Aseli Dagadu Djokdja
Alamat:
Jl. Pakuningratan 15-17 Yogyakarta
Pendidikan:
Arsitektur UGM.
Website:
Dagadu
Kapan Ke Jogja Lagi ?

Lihat juga posting terkait: Semiotika Desain Oblong Dagadu Djokja