Tags

, ,

Ardhi Suryadhi – detikinet

Jakarta – Para pemangku kepentingan di industri kreatif berbasis TIK tanah air kini punya tempat bernaung. Setelah difasilitasi Depkominfo, perkumpulan bernama Masyarakat Industri Kreatif Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia (MIKTI) ini resmi dibentuk.

MIKTI bersifat non profit. Dan sesuai dengan namanya, perkumpulan ini akan terfokus pada kelompok industri yang menghasilkan segala produk/konten dalam bentuk elektronik dan memiliki manfaat.

Kelompok industri kreatif di Indonesia sendiri terbagi atas 14 kelompok yaitu 1. periklanan,2. arsitektur,3. pasar seni dan barang antik,4. kerajinan,5. desain ,6.fesyen ,7. video, film dan fotografi, 8. permainan interaktif, 9. musik, 10. seni pertunjukan, 11. penerbitan dan percetakan, 12. layanan komputer dan piranti lunak, 13. televisi dan radio, 14. riset dan pengembangan.

Organisasi MIKTI terdiri dari Dewan Pengawas dan Dewan Pengurus yang dipimpin oleh Ketua Umumnya, Indra Utoyo. Sementara sebagai pelaksana harian MIKTI akan diserahkan kepada seorang Direktur Eksekutif.

Indra mengatakan bahwa peran TIK untuk membawa negara lebih maju dengan memiliki kekuatan ekonomi sangatlah strategis. “Dan MIKTI hadir untuk menjawab tantangan tersebut,” ujarnya dalam sambutan peresmian MIKTI di Blitz Megaplex Jakarta, Selasa (16/12/2008).

Apalagi, lanjut Indra, setelah dunia dihampiri oleh era teknologi informasi maka selanjutnya akan masuk ke era ekonomi konseptual. “Dimana ide, kreativitas dan konsep menjadi mata uang baru,” tukas pria yang juga menjabat sebagai CIO Telkom ini.

Pembentukan MIKTI sendiri diresmikan oleh Dirjen Aplikasi dan Telematika Depkominfo Cahyana Ahmadjajadi. Dirjen pun berharap bahwa industri kreatif di Indonesia jangan hanya sebatas medioker alias tim penggembira.

“Sebab, di luar sana pasar terbentang sangat luas, dan kita juga harus mempunyai daya saing untuk berkompetisi dengan produk dari negara lain,” pungkasnya.