Tags

, , ,

Masyarakat Bali dikenal akrab dengan adat, seni, dan budaya. Setiap hari mereka larut dengan berbagai upacara adat dan agama di sela-sela kesibukan kerja atau profesi yang digelutinya. Sebab itu belakangan Bali, dan Denpasar khususnya, telah mendapat julukan ‘Kota Kreatif’. Memang tidak salah jika ada yang mengatakan setiap orang Bali adalah seniman, karena dekat dengan multiaktivitas yang membuatnya selalu bersinggungan dengan berbagai bentuk seni penciptaan. Wujud nyata dari multiaktivitas itu bisa berupa ukiran, lukisan, tari, musik tradisional, juga berbagai kelengkapan upacara, yang semuanya memerlukan sentuhan estetika.
Ketika kosa kata ekonomi kreatif bergulir, sebagian warga Bali sadar bahwa mereka telah melakukan kegiatan ekonomi kreatif sejak lama.
Hasilnya, tentu bisa dilihat dari aktivitas pariwisata, yang terbukti telah menjadikan Bali pulau terindah di dunia. Apalagi ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mencanangkan Tahun Indonesia Kreatif 2009, dengan harapan industri kreatif menjadi salah satu penyelamat ekonomi nasional yang sedang terpukul krisis.

Wali Kota Denpasar Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra bahkan menilai pesta kesenian Bali (PKB), acara tahunan yang sudah digelar lebih dari seperempat abad itu adalah tulang punggung ekonomi kreatif sesungguhnya. “Hasil karya para pelaku ekonomi kreatif di Bali memenuhi etalase di kios-kios kecil hingga butik bertaraf internasional, dan tak akan henti berkembang,” kata Rai Mantra belum lama ini.

Pemkot meretas jalan
Pemkot Denpasar pun tak mau kehilangan momentum itu. Berbagai acara yang telah digelar seperti Denpasar Sight Seeing dan Gajah Mada Town Festival akan diberi suntikan, agar agenda tahunan itu lebih besar di masa mendatang.

Pemkot juga akan membangun jalur napak tilas bagi wisatawan agar mengenal lebih dalam Puputan Badung, kisah heroik di sepanjang Jl. Veteran, Gajah Mada, Sumatera., Hasanudin, Thamrin, dan menuju 0 Km Denpasar, di depan Jaya Sabha, rumah jabatan Gubernur Bali.
Pemkot bahkan didukung British Council, yang bakal mewujudkan sebuah jaringan kota kreatif di Asia. Pihak swasta yang terdiri dari para pekerja kreatif yang tergabung dalam Komunitas Kreatif Bali, ikut ambil bagian mendukung kota budaya ini menggali kembali potensi kreatifnya, dengan memetakan lokasi, dan jenis produk kreatif.

Koordinator Komunitas Kreatif Bali Arif ‘Ayip’ Budiman mengatakan akan mengkampanyekan sikap bangga produk lokal (proud with local brand) dengan tujuan menciptakan banyak merek baru yang berkualitas melalui program wirausahawan kreatif.
“Kami juga akan membantu program komunitas yang sudah ada, agar digelar lebih baik dan memiliki manfaat bagi masyarakat,” kata Ayip dari Matamera Communication ini.

Komunitas ini akan mengembangkan tempat-tempat aktivitas seni dan kreatif yang telah ada sebelumnya, menjadi klaster kreatif yang dapat menampung aspirasi warga dan pelajar, dari berbagai disiplin ilmu dan profesi. Profesi kreatif Yang menarik, komunitas ini segera bekerja sama dengan sekolah dan institusi pendidikan untuk membuat program guest lecture, yang menghadirkan para profesional di bidang seni dan kreatif. Program ini juga mengkampanyekan profesi kreatif di SMP maupun SMA.

Pegiat komunitas lainnya, Yoke Darmawan, secara khusus mempresentasikan program Creative Entrepreneur Forum yang akan digelar mulai April 2009. Program ini adalah sebuah model yang menjadikan karya seni dan kreativitas memiliki daya jual dan nilai ekonomi tinggi.
Nampaknya saat ini, kewirausahaan adalah atribut yang harus dimiliki para insan kreatif, agar lebih mandiri serta proaktif, sehingga menjadi sebuah profesi yang penting dan bernilai. (redaksi.sby@bisnis.co.id)
OLEH EMA SUKARELAWANTO
Kontributor Bisnis Indonesia

© Copyright 2001 Bisnis Indonesia.