Tags

,

bale-timbang2
Riak kreatifitas di Tanah Dewata memang sangat dinamis. Inspirasi adalah bagian yang melekat menghidupi simpul-simpul kreatifitas manusianya atau siapapun yang berada disana. Segera setelah agenda demi agenda aktifitas insan kreatif di Bali semakin diintensifkan untuk lebih bernilai, semakin marak program-program baru yang menawarkan partisipasi nyata.

Minggu 8 Februari 2009 bertempat di Bale Timbang, sebuah tempat yang merupakan kemasan kreatif kuliner di Bali yang menawarkan suasana kontemplatif dengan landsekap hijau dan ruang yang menyatu dengan alam, sekumpulan insan kreatif berkumpul. Mereka –sebagian besar- adalah para free-lancer di bidang kreatif mulai dari graphic designer, web designer, animator, videographer, photographer, dan beberapa bidang lain. Sore hingga malam yang cerah itu memang bukan acara kumpul-kumpul biasa, agenda utamanya adalah menyampaikan inisiatif pembentukan komunitas yang platformnya “membangun jejaring bisnis industri kreatif berbasis komunitas”. Penggagasnya adalah Deva Group dibawah arahan Suwitra yang memiliki visi “Menembus Batas untuk Membangun integritas”.

Setelah melalui perkenalan antar undangan disampaikan beberapa hal sehubungan pentingnya membangun model jaringan baru dalam bisnis kreatif terutama hal yang dapat meningkatkan manfaat dari jasa bidang kreatif melalui pembangunan manusianya. Disamping penguasaan keahlian bidang kreatif, seseorang yang memilih profesi kreatif perlu memiliki kemampuan lain yang dapat menunjang keahliannya menjadi lebih sempurna. Diantaranya dalah pemahaman soal kewirausahaan dan manajemen yang kerap jika diabaikan menjadi factor penghambat bagi kreatifitas tersebut untuk diapresiasi lebih bernilai lagi.

Salah satu model yang akan diintensifkan oleh komunitas ini adalah membuat manajemen keahlian kreatif terutama bagi free-lancer untuk menjadi sources bagi siapa saja yang mmerlukannya. Wujud nyatanya akan dibuat sebuah virtual management yang juga dapat berfungsi sebagai media komunikasi sekaligus showcase karya para kreator yang tergabung di dalamnya. Kebutuhan dinamis bagi sebuah perusahaan kreatif modern adalah efesiensi dalam organisasinya, dan keberadaan komunitas ini akan menjadi mitra strategisnya dalam memenuhi pekerjaan yang disesuaikan kebutuhan dan kondisinya berdasarkan proyek yang tengah digarapnya. Hal itu disampaikan oleh Suwitra dan Ayip yang diundang untuk sharing soal manfaat dan jejaring komunitas kreatif.

Mengenai bidang keahlian lain yang patut diketahui para insan kreatif , malam itu hadir pula Bagia, Dewa dan Arsawan yang masing-masing memberikan sharing soal pengalaman dan profesinya. Bagia yang berlatar belakang konsultan bisnis ini menyampaikan bagaimana sebuah peluang kreatif dapat lebih bernilai lagi dengan penganan pada sisi bisnis yang tepat. Sedang Arsawan yang merupakan pemilik Bale Timbang yang juga seorang textile designer ini menyampaikan perlunya insan kreatif yang akan menjalankan profesinya mengetahui positioningnya secara jelas akan berada dimana dan membawaknnya dengan baik dengan melakukan banyak telaah referensi sehingga mampu melekatkan semangat kewirausahaan dalam profesinya.

Sebagai penutup dalam pertemuan tersebut Suwitra mengarisbawahi perihal tindak lanjut pembentukan komunitas ini menjadi sebuah progress sampai mampu mewujudkannya menjadi nyata. Suwitra juga menjelaskan bahwa komunitas ini nantinya adalah sebuah komponen yang harus mampu berjejaring dengan komunitas lain termasuk dengan Komunitas Kreatif Bali yang berperan mendorong terjadinya inisiatif dan melakukan jejaring komunitas secara lebih meluas. Malam itu memang malam kreatif sekelompok pengamen jalanan yang kreatif menemani hingga acara usai.