as064l
Salah satu busana yang menggunakan pewarna alam oleh Achmad Sopandi

Asosiasi Desainer Grafis (ADGI) Bali Chapter kembali menggelar Base Genep #3 pada tanggal 26 February 2009 bertempat di “Kedai 99′ jln Tukad Unda VI, Renon. Jam 19.00 Wita. Base Genep adalah sharing discussion ala Adgi Chapter Bali dengan mengundang nara sumber yang dapat memperkaya khazanah dan referensi kita dalam berkreasi dilanjutkan dengan makan malam dengan membayar Rp 10.000,-. Calon tamu Adgi dalam Base Genep #3 ini adalah Achmad Sopandi. Seorang Pelukis, petualang, periset, pengajar yang telah 10 tahun belakangan menjadi pengajar di Malaysia. Ketertarikannya pada suku-suku terasing dan asli di pelosok Nusantara menjadi inspirasi bagi karya-karyanya. Termasuk mendalami pewarnaan alam yang ditekuninya lebih dari 10 tahun. Baginya mengeksplorasi kekayaan alam Indonesia adalah wajib hukumnya sebelum diriset oleh bangsa lain dan menjadi kekayaan yang sia-sia. Pengalamannya ingin dibagi dengan sharing dalam bingkai tema: Menggerus Batu Menoreh Warna.

ACHMAD SOPANDI: ALAM ADALAH GURUKU, MENGGERUS BATU MENOREH WARNA

Bagi saya melukis ya melukis, yang pasti setiap petualangan bisa melahirkan karya. Dorongan melukis acapkali muncul menggelegak sebagai spirit petualangan. Selain berkesenian, saya juga aktif menekuni dunia riset, karena bagi saya antara seni dan riset merupakan kesatuan kreatif. Saat ini, selain tetap melukis, berpetualang, menulis, meneliti saya tengah mempersiapkan disertasi Ph.D tentang lukisan gua purba dengan judul “Ekspresi Budaya Masyarakat Prasejarah di Malaysia Melalui Lukisan Gua”.

PERJALANAN MENGUAK BELANTARA SARAWAK

“Discovery Sarawak” adalah pameran yang mengetengahkan sebuah episode dari kehidupan, yang secara khusus saya beri tema “gali tradisi Sarawak”. Pameran ini merupakan manifestasi dan interpretasi saya tentang khazanah budaya berbagai etnik, yang sekaligus juga merefleksikan kegemaran bertualang dan merekam catatan perjalanan melalui coretan yang ditorehkan di atas berbagai permukaan misalnya kulit kayu, kayu dan batu. Pameran kali ini berupaya mengetengahkan simbol-simbol etnik yang saya gali dari berbagai seni purba Sarawak, Malaysia.
Karya-karya seni yang saya ungkapkan ini lahir dari ketertarikan saya selama meleburkan diri dengan kehidupan masyarakat pedalaman Sarawak, khususnya yang berkaitan dengan upacara ritual masyarakat Iban, Kenyah, Orang Ulu, Penan, Bidayuh, Kelabit. Upaya peleburan yang saya lakukan merefleksikan bentuk rupa dalam berbagai coraknya. Berbagai citra dan spirit gambar etnik Sarawak, atau perlambang yang ada dalam perbendaharaan budaya Bumi Kenyalang saya coba ungkapkan dalam konteks percaturan seni rupa masa kini. Dari sanalah upaya itu saya lakukan dengan menggerus batu, menoreh warna, dan tentu juga berguru kepada alam. Warna merah, didapatkan dari batu hematit, hitam dari arang, dan warna putih dari kulit kerang yang saya ramu khusus dengan air kelapa dan cuka makan, menjadi formula warna “Eco-Color Sopandi” semuanya saya lakukan melalui penelitian di berbagai situs pra sejarah di berbagai tempat di kawasan hutan hujan tropik.”Eco-color Sopandi” ini memiliki kegunaan antara lain sebagai pewarna tekstil, dekorasi tembok bangunan, pengganti cat warna dalam lukisan, dan untuk terapi rumah sakit. Semangat belantara etnik yang saya hadirkan ini semoga dapat dinikmati oleh masyarakat di bumi tercinta.

Proses kreatifitas saya dalam melakukan pembelajaran budaya, adat-istiadat, ritual dan warna alam akan saya sebarluaskan dalam bentuk forum sharing untuk mengajak masyarakat lebih arif dalam menghargai warisan budaya alam, lingkungan dan nenek moyang. Segala kalangan masyarakat saya undang untuk berkreasi mengungkap imajinasi warna dan media dengan bahan yang tersedia melimpah disekitar kita. Ramah Lingkungan, terapi jiwa, memacu kreatifitas, melestarikan jagad raya, semua pasti bisa…!

BIODATA
Sopandi lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, 15 Februari 1958. Sejak muda gemar melukis. Gemar berpetualang ke alam bebas, dan untuk mengaktualisasikan kegiatannya, ia bergabung dengan organisasi Merbabu Mountainer Club (MERMOUNC).
Selama bergabung dalam organisasi tersebut ia memperoleh pengalaman batin dalam membentuk kepribadiannya. Ia juga masuk dalam pergaulan suku-suku terpencil seperti Badui. Bahkan ia dianggap sebagai “anak angkat Badui”. Selama bermukim di Malaysia ia juga meneliti dan meleburkan diri dalam kehidupan pedalaman di Semenanjung Malaysia, Sabah dan Sarawak. Di tempat itu ia menemukan rahasia warna purba dari berbagai gua pra sejarah yang digunakannya untuk berkarya seni rupa dan seni terapan lainnya.

Selulus dari SMAN 1 Tasikmalaya ia menempuh kuliah di Sekolah Tinggi Seni Rupa “ASRI” Yogyakarta, disini ia mendirikan “SASENITALA ASRI”, dan memperoleh gelar sarjana pada tahun 1981. Kemudian hijrah ke Jakarta dan hingga kini menjadi dosen di Universitas Negeri Jakarta Fakultas Bahasa dan Seni Jurusan Seni Rupa.
Puluhan kali ikut pameran bersama di dalam dan luar negeri (sejak tahun 1975), dua puluh kali pameran tunggal. Sebagian besar bertema lingkungan hidup dan penghormatan kepada warisan budaya etnik Nusantara serta warna dari alam.

Sopandi memiliki sejumlah penghargaan untuk seni rupa. Diantaranya hadiah seni lukis cat air dan sketsa terbaik dari STSRI “ASRI” Yogyakarta 1977. Hadiah beasiswa dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI tahun 1980. Penghargaan Mahasiswa Teladan STSRI “ASRI” 1981, dan Mahasiswa Teladan Nasional 1981. Pada tahun yang sama mendapat penghargaan seni lukis terbaik dalam Dies Natalis STSRI “ASRI” XXXI.

Ia Juga mengerjakan art work di dalam dan luar negeri. Seperti, Monumen
“Kalpataru” di Pangandaran dan Riverbank di Amerika. Art Work Bank Industri
jalan Asia Afrika Bandung. Bank Pasifik jalan Slipi Jakarta, Bank HSBC jalan
Sudirman Jakarta, Hotel Four Seasons di Jimbaran Bali dan Kuda Huraa’ Maldives.
Juga art work untuk Hospital Slim River, Perak, Malaysia. Lobi Perpustakaan UPSI Tanjong Malim, Perak, Malaysia dan Arca Batu Pasir di Sarawak Cultural Village, Kuching, Malaysia “International Symposium Stone Sculture”.

Karyanya dalam seri Etno Batik adalah penggunaan warna alam pada tekstil serat dibawakan dalam fashion show di WORLD ECO-FIBER AND TEXTILE (WEFT) FORUM 2008. Kini karyanya sedang dipamerkan di Gaya Fusion Gallery Sayan bersama perupa Indonesia dan Malaysia.

Bagi yang berminat dapat mengkonfirmasikan kehadirannya ke Erris 087861188509.