silent

Oleh: Cok Sawitri

Tanggal 26 Maret 2008 nanti masyarakat Bali akan merayakan pergantian tahun Icaka, memasuki tahun 1931, berwatak gajah-kumba, jatuh di bulan Kadasa (eka sukla paksa Waisak), yang berakar dari tradisi penobatan Raja Kaniskha I ditahun 78 Masehi,yang digunakan sebagai awal hitungan Icaka; merujuk pula pada era majapahit yang menggunakan icaka sebagai kalendernya dengan penyebutan nama-nama bulan yang berbeda;Kasanga ke Kadasa disebut dengan nama Caitra ke Waisaka.

Tradisi nyepi di bali juga berakar pada tradisi yang lebih tua dari majapahit, berbagai desa tua, yang ada sebelum era Kadiri dan majapahit hingga sekarang masih melaksanakan nyepi desa yang terbagi ke nyepi luh (nyepi bagi kaum perempuan); nyepi muani (bagi kaum laki-laki), kemudian nyepi ka uma, dst: di desa-desa adat yang memiliki usana (tatakrama klan udayana) juga melaksanakan upacara-upacara ngusaba dan nyepi desa. Tradisi nyepi dari guru wisesa (pemerintah) inilah yang disebut oleh masyarakat bali sebagai nyepi nasional, karena berkaitan dengan pemberian hak libur bagi kegiataan keagamaan. Nyepi ini dahulunya dirayakan dengan tapa brata yang berbeda-beda; kini seluruh masyarakat bali mensepakati untuk menggunakan kelengkapan tapa brata penyepian yakni: pertama,amati Geni, tidak menyalakan api serta tidak mengobarkan hawa nafsu, kedua amati karya, yaitu tidak melakukan kegiatan kerja jasmani melainkan meningkatkan kegiatan menyucikan rohani, ketiga amati lelungaan, yaitu tidak bepergian melainkan melakukan mawas diri, dan keempat amati lelanguan, yaitu tidak mengobarkan kesenangan melainkan melakukan pemusatan pikiran terhadap Ida Sanghyang Widhi.

Idealnya nyepi ditujukan dalam kerangka penyucian bhuwana agung dan bhuwana alit (makro dan mikrokosmos), mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan lahir batin (jagadhita dan moksa) berlandaskan satyam (kebenaran), siwam (kesucian), dan sundaram (keharmonisan-keindahan). Di sisi lain dalam tradisi sastra, nyepi adalah proses memahami awal kehadiran semesta yang bertitik dari kegelapan, kemudian pusaran-pusaran air yang lama-lama mengental, menjadi bumi, dimana cahaya pertama adalah hidup itu sendiri. Dalam proses hidup, sang bayi dalam rahim sang ibu pun demikian keadaannya; sedangkan dari sisi spiritual, umat hindu adalah penganut siwa budha; yang muaranya dari tri paksa: waisnawa, siwa dan budha: yang secara variatif akan ditemukan pula sekte-sekte kuna: sekte indra di tenganan, dst.

Dalam konteksnya kini nyepi mendapatkan padanan kemanfaatan yakni: betapa pengobatan kepada bhuwana itu ternyata dapat dilakukan dengan brata penyepian. Bertemulah kearifan timur dengan keresahan global dalam persoalan lingkungan. Namun sunya sebagi tujuan menjalankan dharma, menetapkan surga adalah persinggahan, tidaklah sebagai tujuan. Sebab hidup adalah proses. Yang dulu, kini dan nanti sebenarnya bertumpukan dalam putaran hidup seseorang. Di situlah nyepi menjadi sangat kontemplatif: sejenak memahami ketika mengawali itu yang ‘diam yang relatif, itu yang gelap dia juga relatif, semuanya dalam tata krama hubungan antar manusia didharmakan, dijalankan sebagai aturan: kemudian menjadi pegangan ketika memulai ‘keterjagaan awal”. Nyepi selalu mendatangkan hentakan di malam hari, desau senyap di siang hari. Karena itu, saat panca dasi Krsna Paksa Caitra, saat bulan mati: pencaruan dilaksanakan. Mengingatkan unsur phisik dalam bhuwana alit dan bhuwana agung: pancamahabhuta itu yang ada dalam koneksi yang bertitian dalam karmanya hidup sebagai wujud. Dengan bahagia: selamat nyepi; ngiring nutug surya, ngalap sunya…nunas ampura saking suksmaning kayun.