Tags

, , , ,

cef-e-fliers

Kita semua pasti pernah mendengar ungkapan seseorang bahwa dalam hidupnya sama sekali bukan sukses dalam materi atau kaya yang menjadi tujuan. Katanya, tujuannya adalah dapat hidup dengan bahagia dan serba berkecukupan. Memang setiap orang berhak menentukan bagaimana hidupnya harus dijalankan dan apa tujuannya, namun hidup demikian dinamisnya sehingga strategi manusia menjalani hidupnya harus turut dalam irama jamannya.

Ukuran sukses dalam kehidupan barangkali memang bukan hanya pencapaian dalam materi semata. Kepuasan untuk dapat berbagi dan kepuasan dapat berkreasi sesuai dengan bidang keahlian kita juga sangat penting untuk hadir melengkapi ukuran sukses yang ujungnya adalah soal kebahagiaan.

Jika kita melihat situasi yang saat ini tengah terjadi memang telah mengalami banyak perubahan. Siapa nyana kalau bidang kreatifitas yang dulunya “dituduh” tak bernilai dan membanggakan justru kini menjadi incaran banyak orang. Cita-cita menjadi dokter atau insinyur yang dulunya menjadi incaran kini telah tergantikan dengan hasrat menjadi “entrepreneur”. Memilih menjadi musisi, sutradara, kameraman, desainer, dan beragam bidang kreatif kini dijadikan impian dan pilihan bukan hanya sebagai pekerjaan namun sebagai sebuah bisnis.

Para insan kreatif yang berusaha dengan karya kreatifnya bekerja secara mandiri dan independen kini dapat menikmati hasil dan manfaatnya atas penghargaan konsumen terhadap karyanya yang terus membaik. Watak kreatif dan naluri mandirinya menjadi modal untuk menapaki tahap demi tahap dunia asing bernama “bisnis”, walau tanpa pendidikan formal soal management dan bisnis, tak jarang beroleh sukses dan reputasinya demikian besar serta berpengaruh. Di sisi yang lain tentu saja banyak juga yang kurang sukses disebabkan lebih banyak “trial & error” dalam menangani hal diluar bidang kreatif yang dikuasainya.

Atas pemikiran prospek dan demikian banyaknya pilihan orang akan dunia kreatif sebagai bisnis ini maka Bali Creative Community meluncurkan “Bali Creative Entrepreneurs Forum”. Program ini diagendakan sebagai upaya mendorong munculnya insan-insan kreatif yang mandiri dan dapat menjadikan value dari kreatifitas yang diciptakannya. Forum ini akan menjadi arena menumbuhkan semangat kewirausahaan, mendorong peningkatan kreatifitas serta produktifitas, menjembatani dalam jaringan baik untuk meningkatkan kapasitas maupun memperluas jangkauan usaha atau bahkan sederhananya adalah forum tempat bertukar pikiran sesama creative entrepreneur. Wujudnya beragam, bisa berupa workshop, talkshow, diskusi, magang, program inkubasi bahkan hingga eksibisi atau trade show.

Acara peluncuran program “Bali Creative Entrepreneur Forum” ini akan diselenggarakan pada hari Sabtu 25 April 2009 dengan menggelar beberapa mata acara diantaranya adalah workshop creative entrepreneur dengan menampilkan nara sumber yang kompeten dan mewakili creative entrepreneur yang telah sukses yang akan memberikan materi yang praktis dan inspiratif perihal bisnis kreatif yaitu Bapak Aldi untuk hal bisnis secara mendasar, Mas Wiwid C59 Bandung dan arsitek Popo Danes mengenai “Creativitie Entrepreneur Behaviour”. Acara lainnya adalah Talk Show dengan tema “Menguak bisnis kreatif di era ekonomi kreatif” dengan menampilkan nara sumber Robin Malau untuk topik industri musik dan Rio Helmi yang menapaki suksesnya melalui dunia fotografi. Di sela itu akan dipresentasikan juga mengenai gagasan Denpasar Creative City 2010 dan Presentasi dan sosialisasi kompetisi International Young Creative Entrepreneurs yang diselenggarakan oleh British Council.

Usai workshop dan talk show akan digelar Pecha Kucha Night yang pertama di Bali. Pecha Kucha Night adalah sebuah bentuk presentasi dimana siapapun dari profesi dan bidang keahlian yang berbeda dapat menyampaikan gagasan kreatif atau proyek kreatifnya dengan suasana yang casual, menghibur dan menyenangkan. Pecha Kucha Night adalah sebuah acara non komersil yang sangat independen. Acara Pecha Kucha Night pertama kali dibuat oleh Astrid Klein dan Mark Dytham, keduanya adalah co-founder Klein-Dytham Architecture (KDa), sebuah biro arsitek di Tokyo yang percaya bahwa kreatifitas akan berkembang jika kita saling belajar dan bertukar ide kreatif. Dalam Pecha Kucha Night difokuskan bagaimana orang-orang berlatar kreatif diberi ruang untuk bertemu, menyampaikan gagasan kreatifnya di depan publik dan belajar dari pemikiran dan gagasan orang lain.

Yang unik dari Pecha Kucha Night  yang telah digelar di lebih dari 182 kota di dunia adalah formatnya yang harus disajikan dalam 20 frame presentasi dimana setiap frame akan tampil 20 detik. Jadi jika berminat untuk membagi gagasan dan proyek kreatifnya kepada publik silakan mengemas dan sajikan semenarik mungkin dengan dilengkapi gambar, ilustrasi, foto dan layout ala Anda. Presentasi ini tidak boleh bernuansa politik, suku, ras dan agama.

Acara ini juga merupakan gathering bagi komunitas dan asosiasi dimana encananya beberapa asosiasi baik yang langsung merupakan organisasi kreatif seperti Asosiasi Designer Grafis Indonesia (Adgi) Bali Chapter, Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) daerah Bali, Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) Bali, Bali Blogger Community akan turut meramaikan acara ini. Tak ketinggalan juga Asosiasi Pasar Tani (Aspartan) Bali yang akan menampilkan traditional & heritage food untuk dinikmati.

Seluruh rangkaian acara dalam launching “Bali Creative Entrepreneur Forum” ini tentu saja dipersembahkan untuk mewujudkan “Bali Creative Destination” dimana peran serta kreatif masyarakatnya diwujudkan dalam berbagai upaya nyata dan berdimensi serta bernilai ekonomi. Acara ini merupakan program Komunitas Kreatif Bali bekerjasama dengan Pemerintah Kota Denpasar dalam menyambut Denpasar Creative City pada tahun Indonesia Kreatif 2009.

Bagi yang berminat menjadi peserta workshop, menjadi sponsor dan donatur, terlibat dalam acara ini, mengisi acara pertunjukan kreatif, menjadi peserta Pecha Kucha Night atau menjadi volunteer agar menghubungi Dayu 085237397723