Tags

,

logo-berbagi-tak-pernah-rugiSloka Institute, lembaga nirlaba pengembangan media, jurnalisme, dan informasi di Bali mendukung Bali Blogger Community (BBC) untuk kegiatan Berbagi Tak Pernah rugi. Kegiatan pertama adalah, pelatihan teknologi informasi dan komputer untuk anak-anak di Sanggar Anak Tangguh, Guwang, Sukawati, Gianyar.

Kegiatan akan dilaksanakan pada Minggu, 7 dan 14 Juni ini, pukul 09.00-12 Wita. Minggu pertama berupa pelatihan sedangkan pada minggu kedua evaluasi sekaligus kopdar dan jalan-jalan eksplorasi Guwang, salah satu bengkel kesenian di Bali.

Kontribusi yang dibutuhkan sebanyak-banyaknya adalah relawan pendamping pelatihan, pinjaman laptop sekitar 20 unit, koneksi internet, konsumsi, souvenir, dan lainnya. Perusahaan atau individu yang berminat mendukung program eksplorasi anak berbasisi teknologi ini , bisa kontak di halaman ini.

Bantuan bisa berupa materi atau barang, serta skill. Akan ada apresiasi dari program ini, yang bisa didiskusikan.

Ini adalah kegiatan kali kesekian dari Bali Blogger Community, dalam rangka peningkatan kapasitas dan pengembangan kampanye kebebasan informasi.

Sekitar 50 anak SD (training komputer) dan remaja usia SLTP (internet) di Sanggar Anak Tangguh, telah diobservasi kebutuhannya akan teknologi informasi melalui kuesioner yang dilakukan Agus Dana, Koordinator Harian Sloka Institute dan aktivis BBC.

Hasil observasi kebutuhan mereka soal IT yang belum terpenuhi adalah kemampuan mengoperasikan komputer yang aplikatif, manajemen pengarsipan, pencarian data di internet, dan lainnya. jadi, inilah yang akan difasilitasi.

Walau internet sudah di genggaman Anda saat ini, percayalah masih banyak yang bahkan bermimpi untuk bisa mempunyai email atau memegang mouse komputer. Cobalah tengok tetangga sebelah Anda di rumah. Apakah pernah coba berbagi informasi?

Kami masih membutuhkan saran atau ide dari Anda untuk kesinambungan dan kualitas program ini. More blogging, more information, more power. [b]

 

Tentang Sloka Institute

Lembaga Pengembangan Media, Jurnalisme, dan Informasi

Latar Belakang
Undang-undang Pokok Pers No 40 Tahun 1999 melahirkan adanya kebebasan pers di Indonesia. Tidak perlunya Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) untuk mendirikan usaha penerbitan mengakibatkan lonjakan jumlah penerbitan di Indonesia. Berdasarkan data Dewan Pers, pada masa Orde Baru ketika SIUPP masih diberlakukan, hanya ada 321 usaha media. Namun pada 1999, jumlahnya mencapai 856. Kondisi serupa juga terjadi di Bali. Sebelum 1999, hanya ada 12 media di Bali baik harian, mingguan, dwi-mingguan, maupun bulanan. Namun, menurut Badan Informasi dan Telekomunikasi Bali, pada 2004 lalu terdapat 32 media yang terbit di Bali.

Meningkatnya jumlah usaha penerbitan ini diikuti pula kebebasan untuk menyampaikan berita. Media massa tidak lagi takut untuk menyampaikan kritik pada penguasa. Tema-tema yang dulu dianggap tabu, kini bisa diberitakan dengan bebas.

Namun ada pola yang mulai terlihat bahwa pemberitaan media massa di Bali, terutama di media harian, hanya berputar pada pemilik modal politis, ekonomi, maupun sosial. Berita di media lokal pun didominasi sumber dari pemerintah, DPRD, polisi, rumah sakit, pengadilan, dan seterusnya. Berita tentang kepentingan dan persoalan publik sehari-hari kurang mendapat tempat di media massa mainstream dibanding isu politik dan kriminal. Hal ini terjadi akibat kurangnya keterlibatan publik dalam mengawasi atau bahkan memproduksi dan mengelola infomasi sendiri.

Padahal keterlibatan publik dalam kebebasan informasi adalah salah satu syarat demokratisasi. Keterlibatan publik mengelola informasi merupakan praktik dari hak publik atas informasi, di mana publik tidak hanya mengonsumsi tapi memproduksi dan mengelola informasinya sendiri. Hak atas informasi itu merupakan bagian dari hak asasi manusia sebagaimana disebut dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) sebagai satu di antara 30 HAM lain. Indonesia sendiri sudah mengakui hak atas informasi itu sebagaimana disebut dalam Undang-undang Dasar 1945 Pasal 28F.

Sloka Institute dibentuk untuk mendukung dan memperjuangkan hak publik atas informasi. Cita-cita ini dilakukan melalui menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang media dan jurnalisme serta mendorong keterlibatan publik atas pengelolaan informasi.

Secara legal, Sloka Institute berakta notaris sebagai yayasan sejak 27 Maret 2007 di notaris Wayan Nuaja, SH.

Visi
Memperjuangkan hak publik atas informasi

Misi
1. Menumbuhkan kesadaran publik terhadap hak atas informasi
2. Meningkatkan kapasitas publik dalam hal media, jurnalisme, dan informasi
3. Mendorong keterlibatan publik atas pengelolaan informasi
4. Memediasi kepentingan publik dengan media