Tags

, , , , , , ,

IMG_1281

Ternyata banyak hal terungkap dari acara OBRAL yang digelar Bali Creative Community, Selain peserta yang sangat beragam dari mahasiswa, pekerja kreatif, insan pariwisata, ekspatriat dan tentu saja dari komunitas-komunitas yang ada di Bali. Memang ini bukan sembarang obral. “Obrolan Rabu Malam” ini dilakukan sebagai ajang ngumpul antar komunitas di Bali mengupayakan interaksi untuk membangun jejaring perkawananan yang guyub, kreatif dan produktif.

IMG_1293

OBRAL perdana digelar di di Warung Lapau jalan By Pass Ngurah Rai 178 AB Sanur, Rabu (3/6/2009), menampilkan obrolan tentang “Forum dan diskusi seru di Bali”. Untuk acara ini yang hadir adalah Ridwan dari Soup Chat, komunitas yang memelopori diskusi kreatif dengan nara sumber yang beragam; Eris dari Adgi Bali Chapter, komunitas atau asosiasi profesi yang sukses dengan konsep “mebasa genep”. Mebasa genep adalah isatilah bali yang berarti berbumbu lengkap. Istilah ini digunakan oleh untuk menunjukkan keragaman pemikiran, hobi dan profesi berpadu harmonis di komunitas Adgi Bali Chapter; Jeff dari Bedo komunitas yang konsisten melakukan “sharing discussion” tiap bulan dgn topik yang berbeda-beda namun lebih menyentuh bidang mutakhir yang hubungannya erat dengan kepentingan para anggotanya; Disamping itu hadir pula Rudolf Dethu mewakili ForrestClub yang semakin bergiat dengan ragam aktifitas yang “berbudaya”

Setelah acara dibuka, ternyata sangat menggembirakan bahwa antusiasme peserta yang hadir demikian besar,  beberapa designer dan penggiat kreatif ekspatriat nampak hadir malam itu. Bahkan lighting designer Warisan Angelo didaulat memberikan “cerita pembuka” dimana pada intinya mengisahkan kesannya yang mendalam pada “The Tribes” sebagai model learning community yang sangat penting. Tribes merupakan kumpulan “suku” yang memiliki minat membangun kebersamaan yang produktif serta menjunjung nilai-nilai kesetaraan.  “A New Way of Learning and Being Together” adalah motto dari The Tribe yang sangat inspiratif. Ia berharap acara OBRAL ini mampu mencairkan komunitas yang ada menjadi sebuah arena yang saling berbagi dan memperkaya wawasan.

Berikut giliran mereka yang menjadi topik bahasan soal “Forum dan Diskusi seru di Bali”. Dimulai dengan Ridwan mewakili SoupChat yang dirintisnya bersama teman-temannya dan kini sudah memasuki SoupChat yang ke-25. Pada paparannya, SoupChat adalah arena berbagi yang menghadirkan tamu seseorang yang memiliki passion dalam profesi maupun aktifitasnya. Sang tamu akan bercerita tentang apa dan mengapa perihal aktifitasnya, lalu dilanjutkan dengan diskusi santai. Namun yang menarik adalah setiap mengawali acaranya dimulai dengan ritual makan semangkuk sup yang menandakan kehangatan dan keakraban. Tempat SoupChat selalu berpindah dan tidak melulu harus mendengar serta diskusi, SoupChat yan terakhir adalah bagaimana peserta diperkenalkan kepada Tango Dance sekaligus mempraktekannya.

IMG_1287 IMG_1298
IMG_1303 IMG_1324
IMG_1321 IMG_1326

Setelah Ridwan giliran Jeff dari BEDO menceritakan “Sharing Discussion” yang menjadi agenda bulanan dengan menghadirkan topik hangat soal yang berhubungan dengan bisnis, manajemen maupun marketing. BEDO adalah yayasan yang bergiat pada pengembangan usaha kecil dan menengah di Bali untuk memiliki daya saing internasional. Jeff menyampaikan juga mengenai anggota BEDO yang sangat beragam baik ekspatriat maupun pebisnis lokal sehingga menjadi sebuah arena yang menarik untuk berjejaring. Pada sharing discussionnya yang terakhir BEDO menghadirkan model brand lokal yang sukses dalam tema “How to create a strong brand” yang menampilkan Surfer Girl dan Sour Sally.

Eris dari Adgi Bali Chapter adalah giliran berikut yang memaparkan mengenai diskusi “Mebase Genep” yang belakangan semakin diminati. Mebase Genep adalah format diskusi casual yang sangat spontan mengingat nara sumbernya adalah mereka-siapapun dari kalangan pekerja kreatif atau mewakili sebuah profesi-yang tengah ada di Bali dan didaulat alias “ditodong” untuk berbagi baik dengan anggota Adgi Bali Chapter maupun peserta umum yang hadir. Mebase Genep selain simbol soal citarasa yang lengkap bentukan aneka bumbu yang sangat khas di Bali juga adalah kiasan soal bagaimana referensi kita diperkaya dengan tamu-tamu yang ditodong dalam acara Mebase Genep ini. Dan memang dalam setiap acara selalu disertai makan malam berbumbu “Mebase Genep”. Dalam Mebase Genep terakhir yang dilakukan 29 Mei lalu tamunya adalah M. Bundhowi, seorang perupa dan digital artis yang sangat inspiratif.

Berikutnya Rudolf Dethu berbagi soal ForrestClub yang merupakan debut club sosial yang mempersilakan komunitas apa saja untuk beraktifitas “yang berbudaya” di Forrest Club yang selama ini lebih dikenal sebagai markasnya Suicide Glam. Bahkan Dethu mengundang untuk hadir dalam acara diskusi “Music Indie” pada hari Minggu 7 Juni jam 5 sore dengan menampilkan David Karto (DeMajors), David Tarigan (Aksara Record) dan Robin Malau (Musikator). Acara juga akan dimeriahkan penampilan beberapa band indie local yang berkualitas.

Sebagai pelengkap kesempatan diberikan juga kepada hadirin yang ingin berbagi soal minat dan pekerjaannya. Ada Lina PW yang mempresentasikan upayanya bersama teman-teman SMAnya menerbitkan majalah gratisan DeGenk yang menyasar anak sekolah maupun mahasiswa awal. Hobby dan minat Lina semenjak sekolah di SMA kini berlanjut ketika mereka berkuliah dengan semangat dan visinya yang lebih baik. Yang menarik ada juga Von Hatch dari Yayasan Mekar Bhuana yang bercerita tentang upayanya dalam preservasi gamelan dan tarian Bali yang bersejarah. Pemirsa yang rata rata orang Indonesia menjadi malu demi melihat antusiasme dan passion dari Von ini.

Beberapa pertanyaan merespon geliat forum dan diskusi yang terjadi ini menunjukan sebuah harapan akan terciptanya komunitas dan masyarakat yang mampu lebih baik lagi dan memiliki banyak referensi berguna yang sangat praktis untuk membekali langkah ke depan. Ada usulan juga agar skedul dari demikian banyaknya aktifitas ini dapat diatur sehingga tidak “bertabrakan” dan dapat saling memperkaya anggota komunitas lain dengan kehadirannya. Bahkan muncul sebuah usulan jika suatu saat semua forum diskusi ini membuat satu diskusi komunitas bersama dengan topik yang menarik.

IMG_1330 IMG_1332
IMG_1334 IMG_1263

OBRAL akan di selenggarakan secara reguler setiap bulan pada hari Rabu pekan pertama. Acara ini  juga diramaikan dengan obralan barang sepeti buku, kaset, CD, barang-barang koleksi, karya seni, desain, dan lain-lain dengan harga “miring” yang penjualannya tidak dikenai biaya apa pun alias direct selling. MAlam Obral pertama diramaikan dengan aneka buku dan majalah desain serta majalah lainnya yang dijual sangat “miring” koleksi mobil-mobilan skala yang unik, Kaos dan pin, Green USB Flash karya Jeff, Aneka koleksi Poster dari Toko Gambar juga art work dan ilustrasi artis. Selain aktifitas jual-beli, beberapa tenant juga melakukan barter barang yang diminatinya.

OBRAL bulan Juli tentu akan tambah seru, tempatnya akan selalu berpindah. Bisa di Warung, Gallery, Taman atau tempat lain yang memungkinkan menyambung tali silaturahmi dan keakraban. Pemilihan tempat dilakukan bersama-sama atas usulan siapa saja. Yang penting, si pemilik tempat tidak berkeberatan. Konsep presentasi, bukan serius macam seminar atau diskusi-diskusi formal lainnya, tetapi bersahutan seperti jika sedang ngobrol biasa. Yang utama dalam ajang ini adalah setiap obrolan bersifat konstruktif untuk semua…

Bali Creative Community membuat OBRAl sebagai agenda mensupport keberadaan komunitas agar lebih bergiat dengan program-program yang telah digagasnya, plus melakukan jejaring yang akan memperluas aktifitas yang mengarah kepada kolaborasi bahkan bisnis. Upaya ini tidak terlepas dari visi Bali Creative Community memberikan kontribusi bagi terwujudnya “Bali Creative Destination”. (abe/jjb + Ay)

Obralperdana