Tags

DianInacanoing

Teks Anton Muhajir, Foto Dian Ina

Dian Inawati, anggota Bali Blogger Communty (BBC), saat ini sedang di Belanda. Selama tiga minggu Dia Ina, begitu panggilan akrabnya, tak hanya bisa jalan-jalan menikmati Belanda dan beberapa negara sekitarnya seperti Swiss dan Perancis, manajer galeri Komaneka di Ubud Bali ini sekalian belajar tentang seni rupa dan budaya Eropa.

Kesempatan yang termasuk langka ini diperoleh Dian Ina setelah dia menang lomba blog yang diadakan Neso Indonesia, lembaga non profit yang didanai pemerintah Belanda untuk menjadi perwakilan pendidikan tinggi Belanda. Lembaga ini bekerja sama dengan Dagdigdug menyelenggarakan Kompetisi Blog Studi di Belanda pada 15 Maret hingga 30 April 2009 lalu.

“Aku girang sejagat raya,” tulisnya lewat YM, layanan chatting dari Yahoo.

Kemenangan Dian Ina ini diperoleh setelah dua minggu sebelumnya dia tidak lolos seleksi beasiswa Stuned meski dia sudah diterima di Universitas Maastricht. “Jadi mungkin emang dikasihnya percobaan dulu,” katanya soal kemenangan tersebut.

Tulisan Dian Ina tentang Pak Jenggot dianggap sebagai tulisan terbaik di kategori blogger dari sekitar 500 blogger yang ikut lomba. Inilah cuplikan sebagian tulisan dari blognya tersebut.

Namanya Pak Janggut.. Ia adalah tokoh ciptaan Piet Wijn dan Thom Roep, pembuat komik dan penulis cerita dari Belanda. Bersama Pak Janggut dan buntelan ajaibnya saya berkelana mengelilingi Eropa, Jepang, Afrika, Amerika dan bahkan Negeri Satwa.

Tak hanya orang-orang yang kami temui, Pak Janggut juga membawa saya menelusuri keindahan alam dan kekayaan plasma nutfah yang beragam di berbagai belahan dunia. Tak seorang pun dapat menyangkal betapa cerita Pak Janggut mengandung nilai pendidikan dan moral yang sangat kaya. Nirkekerasan, anti perbudakan, anti rasialisme, sensitif gender, kemurahan hati untuk berbagi, pelajaran tentang karma, usaha untuk menghadapi dan mengalahkan rasa takut, hanyalah sebagian dari sekian banyak nilai-nilai yang bisa dipelajari dari cerita ini.

Dalam semangat yang sama, saya menangkap hal-hal serupa juga ditawarkan oleh pendidikan di Belanda. Tentu dengan kedalaman dan penekanan tertentu pada beberapa hal. Pendidikan yang berkualitas akan memberikan pengetahuan dan wawasan memadai untuk berhubungan dan bersaing di tingkat global.

Tulisan yang dimuat pada tanggal 29 April 2009, sehari sebelum batas akhir lomba, itulah yang membawa Dian Ina mengikuti summer course di Utrecht Summer School, Utrecht,  Belanda selama dua minggu.

Dian bercerita. Sejak sampai di Belanda 6 Juli lalu, dia ikut kuliah seperti mahasiswa pada umumnya. Dia ikut kelas, mengerjakan tugas, presentasi, dan debat tentang european culture and identity. Di luar urusan serius itu, dia juga keliling ke beberapa kota seperti Utrecht, Amsterdam, The Hague, Maastricht, dan lainnya. Dia juga akan jalan-jalan ke Swiss dan Perancis. Bikin iri..

*Menyeka air liur dulu.. :)

Karena cinta mati sama seni, maka alumni Hubungan Internasional Universitas Gajah Mada ini, pun lebih banyak berkunjung ke museum, termasuk Vincent van Gogh Museum di Amsterdam.

Belum lengkap? Dia juga mendapat kejutan besar. Tanggal 20 Juli nanti grup U2 akan konser di Amsterdam Arena. Tiketnya sudah habis sejak berbulan-bulan lalu. “Dan entah gimana, ada mhs indonesia yang berhasil dapat tiket dari orang di Gronigen yang gak jadi pergi. Jadi aku kayaknya nonton U2 tgl 20 ini..”