Tags

head1

Diselenggarakan oleh Undiksha, Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja, didukung oleh Yayasan Pelestarian Warisan Budaya Bali Utara (Bali), RRI,Yayasan  Irama, BAKE society (Belanda).

Undiksha, Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja menyelenggarakan Konferensi dan Festival International yang pertama tentang Identitas Budaya Bali Utara atau Buleleng . Baik Konperensi maupun Festival  tersebut akan mengambil tempat di Singaraja. Tujuan penyelenggaraan Konferensi dan Festival ini tiada lain untuk menggali / mendapatkan kembali Warisan Budaya Bali Utara atau Buleleng, menjelaskan, mendiskusikan dan menunjukkan serta merangsang adanya revitalisasi / pemberdayaan  identitas kesenian kawasan Buleleng, Bali Utara antara lain berupa seni pertunjukan Bali Utara pada khususnya.

Kegiatan unggulan termasuk di antaranya Gong Mabarung ( pentas pertunjukan 2 kelompok kesenian gamelan) antara Kelompok  Buleleng Barat (Dauh Enjung) dan Buleleng Timur (Dangin Enjung), malam pertunjukan kesenian sakral dan langka, penampilan  karya-karya seni kreasi baru dan kontemporer dan Pagelaran seni yang akan menampilkan seniman tua.  Dalam hubungan dengan penyelenggaraan konperensi, presentasi makalah disertai penampilan akan dikemas dengan menonjolkan  ciri khas Bali Utara dalam bentuk  seni pertunjukan serta interaksinya dengan Bali Selatan.   Konferensi ini juga akan menandai dibukanya  “Akar Budaya Bali Utara”, yang menampilkan  foto-foto lama mengenai parba,  gambar, prasi dan karya lain  yang telah lama tersimpan di perpustakaan-perpustakaan di negeri Belanda.

Kami masih membuka peluang bagi adanya sumbangan presentasi bagi konferensi ini. Silahkan anda mencermati program kegiatan konperensi seperti tertera di bawah ini, guna mendapatkan inspirasi ide pemikiran. Kami sangat berharap para seniman dan akademisi seni  di bidang ini akan  bisa  berperan-serta. Harapan lainnya tentulah  agar  kalangan seniman dan pemerhati remaja akan bisa hadir dalam  jumlah yang cukup besar.

Silahkan dicatat bahwa  tanggal resmi dari konperensi ini adalah tanggal 29 Juli sampai dengan 2 Agustus 2009. Kami menyarankan dengan sangat agar anda bisa  datang pada tanggal 29 Juli. Resepsi dan pendaftaran  akan diselenggarakan pada 29 Juli malam, saat mana akan ada  pidato pembukaan yang diikuti dengan  santap malam dan  penampilan pertunjukan malam pertama. Dengan demikian  anda akan merasa segar untuk mengikuti sesi-sesi yang diselenggarakan mulai 30 Juli 2009. Dan jangan lupa anda bisa  mengikuti  kunjungan budaya pada Minggu 2 Agustus 2009 ke tempat-tempat yang telah ditentukan.

Konperensi
Konperensi 4 hari dengan dwi bahasa (Indonesia dan Inggris)  yang diselenggarakan oleh Undiksha (sebagai tuan rumah)  akan mengetengahkan pembicara utama  serta pemakalah    berkenaan dengan berbagai thema dan topik.  Sesi konperensi ini akan  memusatkan perhatiannya kepada penemuan (kembali)  warisan budaya Buleleng serta bagian Bali yang lainnya, serta bertujuan untuk menjelaskan, mendiskusikan serta mengangkat ke permukaan identitas seni budaya  yang ada dan  untuk merangsang adanya  revitalisasi atau pemberdayaan seni-seni pertunjukan khususnya.

Dua pembicara utama akan mengetengahkan kebudayaan Bali Utara dilihat  dari pandangan kalangan orang dalam dan orang luar bali Utara. I Gede Dharna, budayawan, pengarang dan  penulis  naskah drama dari Sukasada, akan berbicara mengenai Kebudayaan lokal  Buleleng serta ciri-ciri khasnya. Prof Dr I Wayan Dibia (ISI, GEOKS Singapadu) akan  berbicara mengeai Makna dari Kebudayaan Bali Utara bagi  Budaya Bali secara keseluruhan, yang akan menjawab  pertanyaan bagaimana cara memberdayakan kembali Gong Kebyar Bali Utara.

Sesi-sesi:
Sesi mengenai Musik dan Tari  akan dipusatkan   kepada  sejumlah topik  yang berhubungan dengan  musik dan tari gaya Buleleng, termasukl  asal muasal dari    terbentuknya  seni “paduan suara” sebagai yang ditunjukkan  oleh  latar belakang budaya dan sejarah dari Genjek. Sesi ini juga akan melibatkan partisipasi dari sejumlah seniman tua.
Sebagai pengantar mengenai  para seniman ini, silahkan  anda membuka halaman Buleleng .
Pemakalah : Prof. Dr I Made Bandem (Kaja Kelod), Prof. Dr. Pande Made Sukerta SKar (gong kebyar), Éric Vandal (gong kebyar), A.A. Bulan Trisna Djelantik (legong Karangasem/Singaraja), Henrice Vonck (gender wayang Tejakula), Vaughan Hatch (karawitan gong kuna dan tari ) serta Paddy Sandino (gong kebyar) akan ikut meramaikan presentasi  dalam konperensi ini.

Sementara itu Arsitektur Bali Utara dengan ciri khasnya akan dibahas  pada Seski khusus  dengan presentasi dari   Popo Danes (arsitek).

Koleksi  tentang seni Bali Utara dan peninggalannya, seperti yang telah tersimpan di  berbagai universitas dan museum di Belanda akan menjadi salah satu topik hangat yang tidak terlewatkan untuk dibahas juga. Perpustakaan Universitas  Leiden  yang memiliki koleksi Van de Tuuk terdiri dari tidak hanya lontar-lontar dan transliterasi teks di atas  kertas, tetapi juga  termasuk di antaranya adalah koleksi lukisan dan gambar tradisional yang dibuat antara 1880 sampai dengan 1994, menampilkan  buah karya seniman I Ketut Gede. Dari  seniman yang sama  akan dapat juga dijumpai  kjarya-karyanya pada koleksi C.M. Pleyte dan W.O.J. Nieuwenkamp. Van der Tuuk juga memiliki koleksi tokoh-tokoh wayang yang kini berada di Museum Ethnograpik di Leiden. Pada Kamus Kawi – Bali – Belanda (1894-1906) ia membuat referensi mengenai tokoh-tokoh wayang khusus yang ada di Buleleng, yang sangat populer ada masanya. C.M. Pleyte sendiri terlibat dalam penyelenggaraan World Exhibition yang diselenggarakan di  Paris tahun 1900. Ia memesan patung-patung kayu, yang sekarang tersimpan di  Tropenmuseum,  Amsterdam, yang menggambarkan para dewa dan tokoh-tokoh protagonis dari epik Mahabharata dan Ramayana untuk keperluan pameran itu. Patung-patung itu dipesan dari seorang  pematung golongan Ida Bagus  di Sawan. Khusus mengenai hal ini akan dipresentasikan oleh : Hedi Hinzler

Suatu diskusi akan diselenggarakan berdasarkan presentasi  mengenai Kesusastraan dan Lontar-lontar Bali Utara  yang disimpan di Gedong Kirtya, yang didirikan oleh I Gusti Putu Djelantik dan Residen Caron di tahun 1928. Penyaji I Dewa Gede Catra, Hedi Hinzler dan Nyoman Rema (Pidpid) akan menggarisbawahi pemaknaan  keberadaan seorang tokoh budayawan  I Gusti Bagus Sugriwa bagi keberlangsungan kehidupan Bahasa Bali. Sugi Lanus dan beberapa  yang lainnya akan mendiskusikan tentang  oeuvre sastra dari almarhum  I Ketut Suwidja, yang pernah menjadi Kepala  Gedong Kirtya. Dr. Hinzler juga akan menyajikan lontar-lontar Bali Utara  yang berisikan notasi musik Bali yang di salin atau ditulis  pada tahun 1926 yang disimpan di Gedong Kirtya.

Fokus pada sesi yang lain adalah mengenai Kebudayaan dan Kepariwisataan, yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat dan pedesaan Bali. Sebagai  suatu hasil kemasyarakatan, industri pariwisata memerlukan  informasi kebudayaan yang terus diperbaharui serta handal sifatnya   untuk menggalang adanya daya tarik bagi upaya peningkatan  arus wisatawan. Tujuan untuk melakukan  kompilasi, pembuatan dokumen, menyebarkan dan  membuat informasi kebudayaan  dalam kaitan dengan kepariwisataan  dirajut dalam satu ruang lingkup  khusus dalam konperensi ini. Penyaji : Prof. Dr Sri Hastanto (professor ISI Surakarta, mantan Dirjen Kebudayaan Depatrtemen Kebudayaan dan Pariwisata, Jakarta ).

Dari perspektif lainnya, tidak bisa diabaikan peranan media, baik elektronik dan cetak dalam menginformasikan dan mengkomunikasikan Kekhasan Budaya ini kepada publik sehingga masyarakat menjadi well-infomed dan bisa mengambil keuntungan dari perbedaan itu guna dipersembahkan bagi kesemarakan Bhineka Seni – Budaya Nusanatara yang adhi luhung ini.. Dalam satu presentasi Direktur Utama RRI – Radio Republik Indonesia Parni Hadi, yang juga pernah menjadi pimpinan media cetak dan Kantor Berita, akan memberikan sumbangan pemikirannya mengenai hal ini.