Tags

,

Anti Konflik Indonesia – Malaysia

Akhir-akhir ini kita terkompori oleh isu anti-Malaysia, yang belakangan mencuat lagi lewat Tari Pendet (tari tradisional daerah Bali) yang dipakai oleh Discovery Channel untuk promo tourism Malaysia, lalu isu ini menjalar, mengupas luka-luka lama seperti kasus Reog Ponorogo, Batik, Ambalat, TKI, dll. Entah siapa yang menuangkan liquid Zippo ke dalam api tensi yang kerlap-kerlip ini menjadi api unggun yang riuh santer dibicarakan baik di internet hingga lesehan trotoar. Ada yang bikin militan club segala dengan aksi sweeping warga negara Malaysia di Jakarta, yang kalau dipikir-pikir sebagai aksi memalukan karena menebar imej bangsa ini adalah bangsa tukang berantem jaman pendekar golok naga. Nasionalisme sih penting, tapi sebaiknya diwujudkan dengan cara lain yang lebih cerdas, bukan melestarikan cara barbar!

Jangan mencampur masalah politik dengan sikap prejudis terhadap masyarakat sipil.
Hentikan main cap seenaknya. Ketidaksetujuan terhadap suatu kebijakan negara bukan berarti menyalahkan seluruh warga negaranya!

Cobalah perbanyak introspeksi ketimbang sikap reaktif yang berlebihan…

Dunia saat ini menghadapi masalah global yang lebih darurat daripada isu kecil tensi serumpun ini. Kita bersama menghadapi krisis nutrisi, pemanasan global, perubahan iklim, krisis energi, sampah, bencana alam, penyakit, dan lain-lain, yang membutuhkan kerjasama global seluruh umat manusia di dunia tanpa filter agama, warga negara, ras, dan latar belakang atau atribut apapun. Jangan biarkan isu tensi serumpun ini membuang-buang tenaga kalian yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk kerjasama global. Dunia sekarang udah fucked up, saudara! Dengan kerjasama seluruh umat manusia di dunia, maka kemungkinan (saya ulangi, KEMUNGKINAN, karena kronisnya penyakit bumi kita tercinta ini) terbukanya pintu ke arah perbaikan akan terjadi. Kerjasama global ini hanya bisa terjadi dengan ‘lem super’ organik bernama CINTA. Mulailah dengan dirimu sendiri dan lingkungan di sekitarmu… act local, think global!

poster-MY-ID-web

Saya juga seorang seniman (musisi), yang mencoba mengambil perspektif dari bidangnya. Seniman sebagai penyunjung tinggi karya seni, yang mendedikasi hidupnya untuk pengembangan seni, sepantasnya berpikir ‘everyone deserves art’. Sadar kalau suatu produk seni/budaya yang bagus pasti akan ditiru banyak orang, dan menghargai fenomena itu dengan pikiran positif. Coba bayangkan: Orang barat menggugat kita karena kita pakai dasi dan jas, atau Cina menggugat kita karena pertunjukan Barong Sai yang kerap dipentaskan WNI etnis Tionghoa, atau orang India menggugat Bali karena banyak ikon seni yang menggunakan nama-nama tokoh mereka, atau menggugat Wayang karena memakai cerita Ramayana atau Mahabharata, atau Timur Tengah menggugat Indonesia karena banyak yang pakai jilbab, atau Seattle menggugat Navicula karena musiknya ‘Grunge’! Nggak asik kan?
Sekali lagi… introspeksi!

Daripada jadi provokator tindak kekerasan, mari sama-sama jadi aktivis perdamaian global. Rock n’ Roll tercipta untuk kebebasan berpikir, anti-perang, cinta, dan kebersamaan.
Peace, Love, and Rock N’ Roll!!

– Robi Navicula
(yang ‘meng-klaim’ ideologi John Lennon, lengkap dengan kaca mata bulatnya)