Tags

, ,

blipfest-alila-invite

Blipfest atau Bali Photo Festival 2010, sebuah dedikasi bagi dunia fotografi Indonesia akan dikemas dalam berbagai acara fotografi dalam berbagai dimensi baik seminar, workshop, pameran dan forum serta lomba. Blipest dimaksud menumbuhkan daya saing fotografer Indonesia di kancah dunia. Blipfest juga memiliki perhatian terhadap talenta fotografer muda untuk eksistensinya yang lebih baik.

Meskipun acaranya baru akan digelar tahun depan pada bulan September-Oktober, namun deklarasinya dengan berbagai agenda kegiatan telah dilakukan semenjak Juli-Agustus 2009 di FGD Expo Jakarta dengan “Go Blip Yourself” dan presentasi di Pecha Kucha Night Bali #2″ di Sanur Village Festival Agustus 2009. Blipfest akan melibatkan fotografer internasional dan mereka yang telah merencanakan hadir memberikan workshop dan berpameran adalah Linda Connor (pengajar di San Francisco Art Institute),  John Stanmeyer (co founder of VII, Time magazine), Raghu Rai (Magnum)

BLIP-Presentation-18

Blipfest yang dikuratori para fotografer Senior Indonesia Rio Helmi, Oscar Motulloh, Firman Ichsan, Darwis Triadi dan Tara Sosrowardoyo ini akan menggelar pre event berikutnya di Alila Ubud pada hari Sabtu 10 Oktober 2009 dengan judul “Imagemakers of The Future” yang menampilkan 11 fotografer muda Indonesia berbakat dan berprestasi.

Beberapa fotografer yang akan tampil dengan karya terbaiknya adalah:

Eric Chang

ERICK CHANG
Eric Chang adalah fotografer muda produktif yang telah mengerjakan banyak proyek semenjak tahun 2005. Ia telah membuat beragam potret – dirigen orkestra, ahli bedah saraf, pemusik tradisional Cina, seniman batik serta tokoh-tokoh seperti Nia Dinata, Ruth Sahanaya dan Sebastian Gunawan. Kliennya beragam pula – Tatler Indonesia, Metro TV dan Novotel. Dia pernah membuat berbagai pameran tunggal, dan pernah menjadi fotografer resmi untuk event-event besar di Jakarta (konser Beyonce, Il Divo). Eric menerima beasiswa di College of Art and Design di Pasadena, California dan akan melanjutkan studinya disitu tahun depan.

Max

TJOKBAGUS KERTHYASA (AKA MAX)
Lahir pada 28 Agustus 1980 di Sidney Australia. Sekolah dasar di North Sidney Demonstration School (1996-1992). SMA di Chatswood High School, Sidney (1992-1997) dan pertama mengenal fotografi lubang jarum sekaligus memproses flm hitam putih di sekolah tersebut pada tahun 1996. Lalu pindah ke Bali di tahun 1997 dan melanjutkan sekolah via koresponden dan lulus tahun 1998.

Setelah lulus SMA sempat bekerja di kapal layar Mediterania di 1999 dan membeli kamera SLR pertama saat berada di pelayaran tersebut. Itulah awal dari kecintaannya kepada fotografi dan setelah melewatkan dua bulan di Eropa dan menghabiskan banyak roll film, ia kembali ke Bali dan memutuskan untuk kuliah.

Namun kecintaannya kepada fotografi terlanjur dalam dan setelah memikirkan secara masak-masak dan mendiskusikannya dengan keluarga, ia mantap kembali ke Sydney Australia untuk belajar fotografi profesional di Institut Teknologi KVB. Selama kuliah, Tjok juga bekerja sebagai asisten freelance untuk beberapa fotografer profesional di Sydney. Kemudian setelah lulus tahun 2002 Tjok melanjutkan bekerja sebagai asisten dan sambil kursus foto hitam putih fine art di studio point light Sydney yang mempertajam keahliannya mengolah foto di kamar gelap sekaligus meningkatkan apresiasinya terhadap fotografi hitam putih.

Sempat kembali ke Bali pada 2002 dimana ia bekerja di sejumlah majalah sebelum kembali ke Sydney untuk mengejar karir. Karena salah satu kecintaan Tjok adalah mencetak foto, ia segera mengambil kesempatan untuk mengambil alih sebuah photo lab di Sydney yang datang saat itu juga. Tjok kemudian menjalankan minilab dan bisnis framing di pusat kota sebelum fotografi digital melumpuhkan bisnis cetak foto.

Meski begitu, ia sempat menjalankan sebuah digital lab lain di Sydney setelah menutup bisnisnya sendiri. Tapi itu tidak lama, karena ia jenuh dan ingin mencari hal baru sehingga ia merencanakan sebuah perjalanan panjang selama tiga bulan ke China utara, Tibet, Nepal dan India. Pada pertengahan 2005 Tjok kembali dari perjalanan yang ternyata menghabiskan waktu selama sembilan bulan. Ia pun lalu meneruskan perjalanannya ke Thailand, Kamboja dan Burma. Dalam perjalanan kali ini, Tjok berkesempatan untuk mendatangi banyak tempat-tempat menarik dan memperoleh banyak pengalaman dalam hal travel fotografi sekaligus street fotografi.

Setelah kembali dari perjalanan panjangnya, Tjok menggelar satu pameran tunggal di Jakarta berjudul “Menyentuh Langit”, dan dua pameran kecil lainnya di Ubud, Bali seraya terus bekerja sebagai fotografer komersil dan mengelola sebuah restoran di Seminyak, Bali.

Eka Nickmatulhuda

EKA NICKMATULHUDA
Eka Nickmatulhuda, yang lebih sering menghilangkan nama “eka” nya untuk akreditasi foto2nya ini, sejak lahir 11 Oktober 1981 silam, menghabiskan sebagian besar waktunya untuk tumbuh dan berkembang di Jakarta. Cape menjadi betawi yang selama 18 tahun kegiatan hidupnya tidak pernah jauh dari rumah membuatnya selalu berpikir, “can i possibly belong to something bigger than this? where i can take more part, where i can stop being a social tool without a use”.

One thing leads to another, akhirnya dia terdampar di Tempo News Room pada akhir 2004, setelah sempat mengecap magang selama dua bulan di Biro Foto Antara untuk tugas akhirnya ketika kuliah di Komunikasi Pembangunan Institut Pertanian Bogor. Menjadi pewarta foto di Tempo (2004-2009) telah membongkar tempurungnya. Ia bisa mengenal banyak orang dari segala lapisan, melihat lebih banyak hal dan terutama, mendapat kesempatan menyegel kehidupan orang-orang itu walau hanya beberapa detik, dengan memotretnya.

Manusia dan kehidupan bagi eka, akan selalu menarik. Banyak sisi, banyak warna, banyak pelajaran di dalamnya. Dan lewat klik2 kameranya, dia bisa dengan jujur mengungkapkan satu sisi. Hebatnya lagi, dia bisa memilih sisi mana yang mau dia hantarkan ke penikmat fotonya. Menjadi kurator beberapa bentuk kehidupan dan mengajak orang lain untuk ikut melihatnya, mengambil pelajaran darinya atau bahkan tergerak untuk melakukan sesuatu setelah melihat karyanya.

Untungnya, untuk terus bisa melakukan hal positif dari memotret foto jurnalistik, ada banyak pewarta foto yang bisa ia jadikan rujukan. Indonesia, menurut eka, penuh dengan pewarta foto yang sangat inspiratif dalam karya2nya. Meski seringkali tersandung di tangan editor, karya2 pewarta foto indonesia tidak pernah surut dengan kreativitas. kunci untuk terus menghasilkan karya yang baik adalah tidak berhenti untuk mau tahu. Sehingga pewarta foto itu akan tidak berhenti belajar, melihat dan berkarya.

andi-ari

ANDI ARI SETIADI
Andi Ari Setiadi lahir di Samarinda pada 1979. Ia lulus dengan predikat siswa terbaik dari Sekolah Desain Interstudi di Jakarta pada 2002. Dalam rentang waktu 2005-2007, ia berpartisipasi dalam masterclass fotografi dengan sejumlah pembimbing. Karya-karya fotonya pernah tampil di sejumlah pameran di Singapura dan Indonesia dan salah satu karyanya juga menjadi sampul buku berjudul “Gempa Indonesia” atau “Indonesia Earthquake”. Andi Ari Setiadi pernah bekerja sebagai desainer grafis dan fotografer di Arga Calista Disain sepanjang tahun 2002-2006 dan sekarang menjadi freelance di Galeri Foto Jurnalistik Antara.

kehidupan manusia adalah sesuatu yang misterius. pertanyaan-pertanyaan tentang dalam diri akan tetap tak terjawab, meskipun pertanyaan itu berdasarkan interpretasi dan kepedulian bahwa kehidupan tidak hanya kontemplasi ataupun imajinasi saja, tapi sebuah realitas dari “jawaban seluruh semesta”.

Made Nagi

MADE NAGI
Tertarik dengan photography semenjak masih sekolah, karena pada dasarnya menyukai berbagai produk seni visual seperti film, lukisan dan tentunya photo. Semasa kuliah mendapat kesempatan berharga untuk menjadi kontributor di koran harian Bali Post sampai akhirnya bergabung sepenuhnya pada tahun 2003. Bekerja selama dua tahun sebagai pewarta foto di koran harian semakin menguatkan kecintaan pada foto jurnalistik.

Tahun 2005 menjadi momen penting dalam karirnya ketika terpilih sebagai salah satu photographer yang disponsori untuk bergabung dalam Bali photo workshop yang diselenggarakan oleh John Stanmeyer dan Gary Knight dari VII Photo Agency. Di tahun yang sama juga mendapat kesempatan untuk bergabung dengan EPA – European Pressphoto Agency sampai sekarang.

Selain Bali Photo Workshop, ia juga berpartisipasi dalam Angkor Photography Festival di Siem Reap, Kamboja di tahun 2007. Ia pun sempat mengkontribusikan karya nya untuk dipamerkan dalam AIDS Photo Exibition “Menyinari Jalan Menuju Masa Depan”, Bali Musseum sekaligus Cultural exibition, “Bangli in Bali”, Jimbaran gallery, keduanya pada tahun 2006. Nagi juga sempat memenangkan sejumlah lomba foto dan menjadi juara kedua di dua lomba foto yaitu Lomba Digital Camera Magazine Photographer of the Year 2007 kategori Street photography dan Photographer Pilihan Tempo 2008 di kategori portrait.

Menurut Nagi, perkembangan photography di Indonesia sangat pesat, banyak muncul photographer muda berbakat, apalagi ditunjang dengan era digital dan akses informasi yang sangat luas. Mudahnya menciptakan karya visual di era digital tentu menjadi tantangan besar untuk menjadi tidak seragam dan menuntut untuk semakin kreatif dalam berkarya.

Sonia Prabowo

SONIA PRABOWO
Sonia Prabowo adalah Sarjana Ekonomi dari Universitas Gajah Mada (UGM) di Yogyakarta dan memulai karirnya sebagai fotografer profesional pada tahun 2005. Kebanyakan kliennya adalah individu atau keluarga yang menginginkan foto keluarga ataupun portrait yang terlihat sensual.
Lain waktu, dia juga menerima permintaan klien lokal maupun luar yang berkaitan dengan industri fashion. Ia pun telah menggarap sejumlah proyek dari industri musik dan pariwisata.

Beberapa tahun belakangan, ia telah menggelar sejumlah pameran seperti “Reflection” di Koong Galery, Jakarta pada 2008, berikut sebuah pameran bertema “Heart Broken” di Galeri Biasa, Yogyakarta pada tahun yang sama. Baru-baru ini, Sonia juga sukses dengan pamerannya, “My Mommy is a Bread Winner” yang digelar di Linggar Seni Galeri, Jakarta.

Ia tertarik di fotografi karena ia seakan bisa mengatakan, “Hey world, beginilah cara saya melihatnya”. Ia percaya, masing-masing orang adalah individu yang unik, oleh karena itu, janganlah takut untuk berbeda.

muradi

MURADI
Muradi, lahir di Tangerang 29 Juni 1981. Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Jakarta. Awalnya mengenal fotografi ketika masuk kelompok mahasiswa pecinta fotografi UNJ (KMPF UNJ) untuk mendukung matakuliah saya. Setelah lulus kuliah pernah menjadi stringer foto di Majalah Tempo dan sekarang di harian Kontan. Dia pernah ikut pameran “Eyemotion” di Oktagon Galeri (2006), pameran bersama ‘Unbreakable’ di Galeri Foto Jurnaliostik Antara, dan ‘The Promise of the City’ di Goethe Institute di Jakarta. Tahun 2007 dia mendapat kesempatan partisipasi dalam workshop yg dipimpin Wolfgang Bellwinkel (Ostkreuz Agency) dan Pete Bialobrrzeski.

“Namun seiring waktu berjalan makna memotret bagi saya sama halnya menggambar atau melukis, sama-sama menuangkan apa yang saya lihat dan apa yang saya pikirkan.”

andika

ANDIKA WAHYU
Andika Wahyu lahir di Kebumen, Jawa Tengah pada 14 Juli 1983. Ketertarikan pada fotografi berawal dari kekaguman pada foto-foto yang terpampang di koran-koran waktu masih di sekolah dasar. Berbagai macam pertanyaan berkecamuk dalam dirinya waktu itu. dan perlahan jawabannya mulai terkuak ketika mulai terlibat lebih dalam dengan fotografi di unit kegiatan mahasiswa (UKM) Fisip Fotografi Club (FFC) Universitas Sebelas Maret Surakarta di awal tahun 2001. Selagi merampungkan studi di jurusan Ilmu Komunikasi UNS, Andika berkesempatan melakukan on job training sebagai fotografer di Tabloid Olahraga BOLA dan Kantor Berita Indonesia ANTARA. Setelah merampungkan studi bergabung dengan Antara Foto-Indonesia Press Photo Agency-sebagai pewarta foto mulai tahun 2006 sampai sekarang.

FOTOGRAFI baginya adalah alat ajaib, sang penghenti dan pembeku waktu, serta media kontemplasi. Tentang fotografi di Indonesia, menurutnya
hanya ingin menekankan bahwa janganlah fotografi hanya dinilai dari aspek estetis saja…perdebatan dan perbincangan aspek estetis telah selesai…menunggu fotografi di Indonesia lebih “berperan” dengan segala kelebihannya agar lebih bisa membawa manfaat bagi masyarakat…

Untuk mengetahui perkembangan Blipfest dapat dilihat di situs Blipfest
Atau bergabung di Fanpage Blipfest di Facebook
dan follow Blipfest di Twitter