Tags

Ayu Laksmi

Kompas | Sabtu, 14 November 2009 | 03:00 WIB

Putu Fajar Arcana

Sejak tahun 2004 Ayu Laksmi seperti menemukan titik balik dalam karier bermusiknya. Ia merasa hidup telah cukup memberi pelajaran penting ketika beredar dari panggung ke panggung sejak usia 4 tahun. ”Mengapa saya harus menoleh keluar terus, sementara sesungguhnya apa yang saya punya adalah anugerah yang luar biasa dari Tuhan,” tutur Ayu, Kamis (12/11). Apa yang diungkapkan perempuan bernama lengkap I Gusti Ayu Laksmiyani ini tak lain dari inti ajaran Tat Twam Asi dalam Hindu, untuk menerima orang lain dan diri sendiri sebagaimana adanya. Maka, ketika didaulat untuk berdendang saat ia hadir dalam jumpa pers peresmian Bentara Budaya Bali dan Festival Bambu, Selasa (3/11), Ayu hanya meminta para wartawan dan seniman untuk memukul-mukul bambu. Tak ketinggalan, perupa Made Wianta dan Nyoman Erawan secara spontan turut memukul bambu. Lalu mengalirlah tembang ”Tat Twam Asi” ciptaan Ayu. Ia tampak khusyuk, tidak terganggu karena ketiadaan alat musik serta kondisi sistem tata suara (sound system) yang kacau.

”Saya tidak ingin banyak menuntut sehingga membuat segala sesuatu jadi rumit. Kalau tidak ada alat musik, saya masih punya diri saya untuk bernyanyi,” ujar Ayu seusai berdendang. Apa yang ditunjukkan penyanyi kelahiran Singaraja, Bali, ini tak lain dari perilaku ikhlas, sebuah ajaran hidup yang mudah dibicarakan tetapi terasa berat jika dipraktikkan. ”Semasih kita banyak menuntut pasti tidak akan bisa ikhlas,” ucap Ayu.

Kesadaran

Apa yang dicapai Ayu Laksmi bermula dari kesadaran yang diam-diam menyusup di dalam hidupnya. Selama menekuni profesi sebagai penyanyi, ia sudah begitu banyak membawakan lagu-lagu, terutama rock, karya para musisi asing. Ayu mengaku lelah dan jenuh mengikuti kinerja industri yang mendikte. Oleh karena itu, ia selalu berkata, ”Izinkan saya memilih lagu saya sebelum saya penuhi permintaan Anda.” Maka ia mulai belajar menembangkan gegitaan, bait-bait puisi yang terdapat dalam kitab-kitab Hindu.

Tembang-tembang gegitaan yang banyak diambil dari kitab Arjuna Wiwaha tak hanya berisi nyanyian pujian kepada Semesta yang memberi hidup alam dan manusia, tetapi mengandung pedoman moral untuk menjalani hidup. Setelah berkonsultasi dengan beberapa orang suci, Ayu menggubah ”Wirama Totaka” dan ”Wirama Swandewi” dari kitab Arjuna Wiwaha menjadi lagu dengan iringan alat-alat musik modern. Bersama kelompok musik Tropical Transit, Ayu mulai merambah panggung festival dan acara-acara yang bernuansa religi.

”Saya mewirama saja. Menembang bait-bait dalam kitab suci itu membutuhkan kesabaran, tidak boleh meledak, karena chord-nya cuma satu, pemusik juga harus menahan diri. Di situlah saya diajarkan untuk sabar…,” kata istri dari Steven van Lierde, lelaki asal Belgia tetapi sudah menetap di Bali selama 16 tahun, ini.

Dalam tataran itu, perempuan yang suka mengenakan busana putih ini telah menjadikan musik populer sebagai wahana kontemplasi. Lewat musik dan gegitaan yang ia lantunkan, Ayu mengajak semua orang untuk kembali kepada kearifan lokal. ”Yang saya belum berani, membawa alat-alat band ini ke pura,” tutur Ayu Laksmi.

Selama ini, ajaran-ajaran moral yang terdapat dalam nyanyian kitab suci di Bali senantiasa disiarkan dengan metode dan media konvensional. Aktivitas menembang tidak banyak menarik minat generasi terkini. ”Saya ingin mendekatkan mereka dengan ajaran menggunakan media yang populer,” kata Ayu.

Vegetarian

Setelah beberapa tahun menembangkan pujian-pujian kepada kebesaran Semesta, banyak orang mengira Ayu menjalani laku vegetarian. ”Banyak sekali orang bilang saya vegetarian,” kata sarjana hukum lulusan Universitas Udayana ini.

Lantaran makin banyak orang yang beranggapan begitu, Ayu menganggapnya sebagai petunjuk. ”Itu mungkin isyarat bagi saya untuk benar-benar menjalani laku vegetarian. Maka, sejak dua tahun lalu saya total vegetarian,” kata Ayu. Laku ini ia jalani tanpa motivasi spiritual. ”Saya hanya belajar mengendalikan diri saja,” katanya. Buat Ayu, menjadi vegetarian tak harus dihubungkan dengan kepercayaan atau peningkatan spiritualitas hidup manusia.

Pada era 1980-an, Ayu Laksmi malang melintang dalam dunia musik rock Indonesia. Ia berkeliling dari panggung ke panggung untuk meneriakkan, ”You want to rock…”. Bahkan, bersama dua kakaknya, Partiwi dan Ayu Wedayanti, dia sempat membentuk The Ayu Sisters yang pernah dinobatkan sebagai Best Performers dalam arena Bintang Radio dan Televisi tingkat nasional tahun 1983. Meski bergelimang di panggung hiburan, baru tahun 1991 ia melahirkan album solo. ”Itu satu-satunya album solo saya,” ujarnya. Tak banyak pula yang tahu bahwa Ayu pernah mengisi vokal lagu ”Hello Sobat” (Harry Sabar) untuk soundtrack film Catatan Si Boy II. Ia juga mengisi vokal soundtrack film Asmara. Bahkan, perempuan bertubuh langsing ini pernah memutuskan menetap di Jakarta tahun 1988-1990. ”Saya ingin serius di jalur hiburan,” kenangnya.

Bali selalu menariknya untuk kembali. Ketika pulang kampung, ia harus memulai segala sesuatunya dari nol. ”Saya mulai bernyanyi dari kafe ke kafe, lalu mendirikan restoran, kemudian berlayar ke Karibia dan menjadi penyanyi di kapal pesiar. Saya bernyanyi dalam bahasa Perancis, Inggris, dan Spanyol,” katanya.

Semua itu dipandang Ayu sebagai proses menuju pencapaiannya sekarang ini. Ketika mengikuti perjalanan film Under the Tree (Garin Nugroho) yang ia bintangi dalam Tokyo International Film Festival, Ayu didaulat menyanyi. ”Tidak ada alat musik sama sekali, tetapi saya tidak panik. Kembali saya menembangkan gegitaan itu saja…,” ujarnya.

Pelajaran penting dari seluruh rangkaian perjalanan kariernya sebagai penyanyi, meski ia mulai dari jalur industri hiburan, tumbuhnya kesadaran untuk kembali ke ranah musik sebagai nyanyian pengagungan Semesta. Bermusik pada hakikatnya melantunkan persembahan, sebagaimana terdapat dalam agama. ”Syukur-syukur bisa mengabarkan ajaran moral yang universal kepada semua pendengar saya,” kata Ayu.

Kini, perempuan yang selalu bertutur santun ini sedang mempersiapkan album solo bernuansa religi. Semua lagunya ia ciptakan sendiri dalam bahasa ”gado-gado”, antara Bali, Inggris, dan Indonesia. Katanya, itu sebagai upaya melakukan universalisasi terhadap ajaran-ajaran moral yang terkandung di dalamnya.

I GUSTI AYU LAKSMIYANI

• Lahir: Singaraja, 25 November 1967 • Pendidikan: Sarjana Hukum Universitas Udayana, Denpasar • Suami: Steven van Lierde • Karier: 1) Penyanyi sejak usia 4 tahun 2) Membentuk The Ayu Sisters bersama dua kakaknya, Partiwi dan Ayu Wedayanti 3) Best Performers bersama The Ayu Sisters dalam arena Bintang Radio dan Televisi tingkat nasional tahun 1983 4) Top 7 dalam Indonesian Rock Festival tahun 1987