Tags

,

Ebullience lahir dari kesempatan yang diberikan oleh Pemkot Denpasar dalam acara Denpasar Festival yang mengusung tema “Embracing Tomorrow” atau “Menyongsong Masa Depan gemilang” yang direspon utamanya oleh para seniman Denpasar menjadi sebuah “energy” yang berdimensi semangat, mempersatukan dan menjadi simbol kebersamaan yang kuat dalam membaca dinamika kota Denpasar.

Wujud art installation merangkum 4 hal yaitu Space, Sound, Visual dan Motion  merupakan ekspresi kolaborasi yang jumlah totalnya terdiri dari 24 orang seniman berbagai bidang mulai dari siswa siswi SMU, mahasiswa hingga artis profesional. karya ini membingkai semangat peserta kolaborasi dalam pemaknaan Menyongsong Masa Depan gemilang.


Ebullience, simbol pemersatu energi dan semangat rancangan A.A. Yoka Sara

Pada pembukaan Denpasar Festival Senin 28 Desember 2009 Ebullience menjadi tonggak penting sinergi masyarakat dan pemerintah memasuki bahtera dan dinamika kota yang mengakomodasi kekinian berpijak pada keluhuran budaya Denpasar. Setelah dibuka dengan tarian kontemporer Sura dengan kain Endek hasil eksplorasi Arsawan merespon soundscape I Wayan Gde Yudane acara bergulir dengan penggoresan kuas diatas kanvas oleh Bapak Wakil Gubernur Bali A.A. Puspayoga dan Bapak Walikota Denpasar I.B. Rai Dharmawijaya Mantra beserta pejabat lainnya yang langsung menandai sinergi energi dalam Ebullience dimana seniman Made Budhiana selama lebih dari 4 jam merespon garis tersebut menjadi sebuah karya “Gelora, Denyut Nadi, Nafas Kota Denpasar.” dalam 4 bidang kanvas.



Pelukis Made Budhiana lebih dari 4 jam menyelsaikan lukisannya di depan publik Denpasar

Disaksikan ratusan pasang mata pada acara pembukaan yang tetap berdiri di depan atraksi Made budhiana hingga usai di area Ebullience mengundang aneka reaksi namun hal ini yang menjadi penting ketika sebuah ranah apresiasi pada sebuah proses menjadi referensi penting bagi mereka tentang dimensi dinamika yang dapat memacu lahirnya kebaruan dalam aktifitas warga kota. Seniman Tan Lioe Ie secara spontan naik ke panggung lukis Made Budhiana dan membawakan bait puisinya seusai Made Budhiana membubuhkan tanda tangan tanda berakhirnya karya seni yang dibuatnya saat itu.


Instalasi karya Siswa siswi SMUN 1 Denpasar


Instalasi karya Mahasiswa Arsitektur Universitas Udayana

Wujud Ebullience di alun alun kota Denpasar ini menjadi sebuah interaksi yang memiliki pesan sebuah rencana dan proses sebagai komunikasi yang penting dalam memaknai sebuah cita-cita. Selain A.A. Yoka Sara, Made Budhiana, I Wayan Gde Yudane, Arsawan dan Sura pada sisi Ebullience dapat kita nikmati karya instalasi dari Mahasiswa Arsitektur Universitas Udayana dan Siswa SMUN 1 Denpasar, dan pada dua sisi bidang Ebullience akan diproyeksikan karya-karya motion graphics dari Ridwan Rudianto, Erick Est, Kas, Ayip, Marlowe dan Siswa SMUN 1 Denpasar setiap malamnya hingga tanggal 31 Desember 2009.

Ebullience memang tidak berbicara soal karya seni semata, ia adalah sebuah babak baru dan semangat meluap yang menjadi tonggak kiprah masyarakat dalam pembangunan sebuah kota di masa yang sangat dinamis ini. Narasi ini dibawakan dalam rangkaian tulisan oleh Aridus, Marlowe Bandem dan Rudolf Dethu.

Selengkapnya tentang Ebullience dapat dilihat di situs Ebullience