Tags

, ,

Kelas Menulis Jurnalisme Warga
January 14th, 2010
Gunakan Kekuatan Tanganmu !
Gunakan Kekuatan Tanganmu !
Gunakan Kekuatan Tanganmu!

Sebab dengan tulisan-tulisan, kamu bisa mengabarkan banyak hal. Cerita pribadi, tempat bersantai, masalah kota, sampai curhat.Apa saja bisa kamu tulis ala Jurnalisme Warga, di mana warga tak hanya jadi objek berita tapi sekaligus penulisnya.

Tak usah takut tulisanmu tidak menarik. Menulis itu karena kebiasaan, bukan hanya soal berbakat atau tidak. Kini waktunya kamu belajar. Sebab Sloka Institute pengelola blog jurnalisme warga Bale Bengong, akan mengadakan Kelas Menulis Jurnalisme Warga.

Materinya tentang teori dasar jurnalistik seperti menulis berita langsung dan berita kisah maupun tentang jurnalisme warga. Bukan hanya belajar teori, peserta akan langsung praktik menulis dipandu pemateri dan fasilitator berpengalaman.

Kapan?
Jumat-Sabtu, 22-23 Januari dan 29-30 Januari 2010
Pukul : 13.00-16.00  WITA

Di mana?
Kantor Sloka Institute
Jalan Noja Ayung No 3 Gatsu Timur Denpasar

Cara Daftarnya?

  1. Kelas menulis terbuka untuk siapa saja yang tertarik mengikuti dan lolos seleksi. Tidak dipungut bayaran.
  2. Calon peserta mengirimkan tulisan sepanjang sekitar 500 kata tentang alasan tertarik mengikuti pelatihan serta apa rencananya untuk mengembangkan jurnalisme warga.
  3. Bersedia menjadi kontributor portal jurnalisme warga, http://www.balebengong.net
  4. Pendaftaran akan ditutup pada 20 Januari 2010 pukul 20.00 WITA.

Pemateri:

  1. Rofiqi Hasan (Koresponden TEMPO, Ketua AJI Denpasar)
  2. Hari Puspita (Redaktur Radar Bali)

Fasilitator:
Anton Muhajir dan Luh De Suriyani (Wartawan Freelance dan Pengelola Bale Bengong)
Informasi dan Pendaftaran
Intan Paramitha – Sloka Institute
Jl Noja Ayung No 3 Gatsu Timur Denpasar
Telp. 0361 – 7989495 (luhde), 462976, HP: 08179701808 (intan)

Email info@sloka.or.id, intan@sloka.or.id
Website: http://www.sloka.or.id, http://www.balebengong.net
Luh De Suriyani
http://lodegen.wordpress.com/

Profil Sloka Institute
Lembaga Pengembangan Media, Jurnalisme, dan Informasi

Latar Belakang
Undang-undang Pokok Pers No 40 Tahun 1999 melahirkan adanya kebebasan pers di Indonesia. Tidak perlunya Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) untuk mendirikan usaha penerbitan mengakibatkan lonjakan jumlah penerbitan di Indonesia. Berdasarkan data Dewan Pers, pada masa Orde Baru ketika SIUPP masih diberlakukan, hanya ada 321 usaha media. Namun pada 1999, jumlahnya mencapai 856. Kondisi serupa juga terjadi di Bali. Sebelum 1999, hanya ada 12 media di Bali baik harian, mingguan, dwi-mingguan, maupun bulanan. Namun, menurut Badan Informasi dan Telekomunikasi Bali, pada 2004 lalu terdapat 32 media yang terbit di Bali.

Meningkatnya jumlah usaha penerbitan ini diikuti pula kebebasan untuk menyampaikan berita. Media massa tidak lagi takut untuk menyampaikan kritik pada penguasa. Tema-tema yang dulu dianggap tabu, kini bisa diberitakan dengan bebas.

Namun ada pola yang mulai terlihat bahwa pemberitaan media massa di Bali, terutama di media harian, hanya berputar pada pemilik modal politis, ekonomi, maupun sosial. Berita di media lokal pun didominasi sumber dari pemerintah, DPRD, polisi, rumah sakit, pengadilan, dan seterusnya. Berita tentang kepentingan dan persoalan publik sehari-hari kurang mendapat tempat di media massa mainstream dibanding isu politik dan kriminal. Hal ini terjadi akibat kurangnya keterlibatan publik dalam mengawasi atau bahkan memproduksi dan mengelola infomasi sendiri.

Padahal keterlibatan publik dalam kebebasan informasi adalah salah satu syarat demokratisasi. Keterlibatan publik mengelola informasi merupakan praktik dari hak publik atas informasi, di mana publik tidak hanya mengonsumsi tapi memproduksi dan mengelola informasinya sendiri. Hak atas informasi itu merupakan bagian dari hak asasi manusia sebagaimana disebut dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) sebagai satu di antara 30 HAM lain. Indonesia sendiri sudah mengakui hak atas informasi itu sebagaimana disebut dalam Undang-undang Dasar 1945 Pasal 28F.

Sloka Institute dibentuk untuk mendukung dan memperjuangkan hak publik atas informasi. Cita-cita ini dilakukan melalui menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang media dan jurnalisme serta mendorong keterlibatan publik atas pengelolaan informasi.

Secara legal, Sloka Institute berakta notaris sebagai yayasan sejak 27 Maret 2007 di notaris Wayan Nuaja, SH.

Visi
Memperjuangkan hak publik atas informasi

Misi
1. Menumbuhkan kesadaran publik terhadap hak atas informasi
2. Meningkatkan kapasitas publik dalam hal media, jurnalisme, dan informasi
3. Mendorong keterlibatan publik atas pengelolaan informasi
4. Memediasi kepentingan publik dengan media