Tags

,

“Tidak ada yang salah dengan perubahan, selama arahnya benar”
Winston Churchill (Perdana Menteri Inggris, 1874-1965)

Kerianganku menyongsong sua dengan beberapa karib sembari menikmati santap siang di Warung Tresni (baca: tipat kuah Drupadi) tak kuasa sembunyikan gelisah di benak saat kusadari terpampangnya sekian banyak foto-foto berukuran lebar di sekeliling warung.

Betul, ada tawaran visual yang berbeda kali ini di bidang tembok warung yang identik dengan obrolan hangat Putu Indrawan (pembetot bass band legendaris Harley Angels – si empunya warung) berikut suguhan tipat kuah bumbu Bali yang khas, pedas dan gurih. Lusinan foto band Harley Angels termasuk juga foto-foto tokoh musik Indonesia berbagai generasi, poster-poster even berkesenian, sampai kalender Bali pun tergantikan oleh jepretan-jepretan momen tentang Bali, dari enam pewarta foto yang terangkum dalam pameran fotografi Bali Jani (Bali saat ini) persembahan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Denpasar dari 9 s/d 15 Januari 2009.

Kegelisahanku berlanjut, semata-mata bukan karena tak sempat hadir, mengumbar sapa, dan berbagi cerita saat pembukaan pameran tersebut, namun justru karena ramainya citra tentang ranah fisikal-mentalitet Bali yang menyeruak dari juktoposisi foto-foto pada bidang-bidang lebar yang terpajang di sekeliling warung. Seketika, karya-karya tersebut mengusik keacuhanku akan Bali selama ini.


Kuamati lebih dekat, satu per satu. Masing-masing pewarta foto yang terdiri dari I Nyoman Budhiana (LKBN ANTARA Bali), Made Nagi (European Pressphoto Agency), Yuda A. Riyianto (Harian Nusa Bali), Zul T. Edoardo (The Jakarta Post), Johannes P. Christo (The Jakarta Globe), dan Miftahuddin Halim (Harian Radar Bali) hadir berkreasi, mengetengahkan kekaryaan dalam bingkai sub-tema yang personal; yang secara independen maupun kolektif mencoba mengetengahkan kekritisan (baca: kebanggaan sekaligus kegalauan) akan evolusi dan revolusi kebudayaan Bali.

Hal inilah yang membuat saya tresni dengan daya ungkap Bali Jani yang terbingkai lewat genre foto jurnalistik mengingat aliran seni fotografi ini berperan penting dalam penikmatan dan penelaahan lebih mendalam terhadap peristiwa dan fenomena yang berlangsung dalam keseharian kita. Terlebih lagi ketika bidikan lensa para pewarta foto muda ini melingkup ranah sosial-budaya-ekologi Bali yang bisa dikatakan bergulir cepat di segala aspek kehidupan akibat dera(s)nya pariwisata massal dan percepatan globalisasi. Memang tak mesti utuh, namun Bali Jani hadir lebih dari cukup sebagai sebuah penalaran yang bersifat kesaksian, kenangan dan kritik tentang keseharian Bali yang dinamis.

Dari sekian karya yang dihadirkan, kesemuanya memang bicara mengenai “modernitas yang Bali”, kenyataan bahwa keterbukaan sepanjang hayat Bali terhadap berbagai pengaruh global selalu merangsang munculnya ketegangan kreativitas, tarik-menarik, saling mengakrabi, dan silang pengaruh antara keluhuran tradisionalitas dan kedinamisan modernitas – yang kian hari menimbulkan kegundahan akan elastisitas masa lalu Bali yang kerap diromantisasi dengan kemungkinan-kemungkinan masa depannya yang mesti pragmatis.


Ambil contoh, karya dari Made Nagi, fotografer yang baru saja usai melakoni pameran tunggalnya BaliGraphy, dan pameran kelompok BLIPfest at Alila Ubud: Imagemakers of the Future. Disini, lewat seri karya Tiada Hari Tanpa Festival ia berkehendak mengungkap carut-marut di balik merebaknya beragam festival seni dan budaya Bali yang pada awalnya bervisikan sebagai pemetaan, perayaan dan tolok ukur akan kegairahan dan kreativitas lokal dalam memberdayakan segenap potensinya, ternyata ujung-ujungnya malah back to square one mengkomodifikasi ranah seni-budaya Bali hanya demi kepentingan-kepentingan sesaat.

Saya simak lebih lanjut, manusia Bali memang mempunyai kesepakatan bersama yang unik dalam menentukan mana yang sakral mana yang profan, namun komodifikasi seni dan budaya dalam konteks sebuah festival budaya (perhelatan beragam even dari konser musik populer sampai prosesi ritual, dari berbagai perlombaan sampai penikmatan fenomena alam) kerap tak terhindarkan karena ketidakberdayaan kita mengenyahkan asumsi bahwa pariwisata pasti membawa berlimpah rejeki, kekayaan yang secara bertahap akan mempromosikan pecerahan lokalitas dan pada akhirnya kemakmuran bagi penduduk lokal. Masalahnya, setelah itu kita seringkali jatuh, tertimpa tangga dan berlumuran daki akibat keterbatasan pemahaman yang larut menempelkan dan menghubung-hubungkan citra seni dan budaya sebagai strategi marketing yang sebenarnya hanya didasari oleh semangat praktis, murah, gampangan; yang penting ramai dan bisa berlangsung (seadanya). Hati-hati, pencitraan serampangan terhadap tradisi dan warisan budaya sebuah lokalitas, berikut manusianya akan berujung pada kepalsuan manusia dan budayanya yang secara langsung dan tidak langsung akan menggerus sebenar-benarnya kreativitas kultural, membingungkan publik serta mendistorsi imaji dan informasi kebudayaan (Bali) yang seutuhnya.

Sementara itu, Yuda A. Riyanto lewat seri karya Yang Tradisional, Yang Neo Liberal mengungkapkan pula ihwal Bali sebagai perkulakan dan pasar yang prospektif, besar, dan carut marut. Fotografer yang kerap berpameran di Surabaya ini, melihat bahwa masyarakat dan ekonomi pedesaan Bali mengalami perubahan semenjak pariwisata budaya dan budaya pariwisata merasuki segela elemen kehidupannya. Pasar, sebagai ajang transaksi dan kompetisi bermunculan dimana-mana – apalagi pasar produk seni – dengan kata kunci “oleh-oleh khas Bali”. Publik dibombardir dengan berbagai tawaran produk yang tak seluruhnya Bali, dari topeng Kamen Rider Black (Satria Baja Hitam) sampai topeng Rangda, dari wayang kertas tokoh pewayangan sampai boneka tali si bocah Pinocchio, di gang-gang pengap pasar tradisional dan kaki lima dadakan di areal luar pura saat odalan. Di tengah riuh ekonomi kerakyatan semua orang tak takut berlaku menjadi entrepreneur.


Kemudian lewat serial foto yang disusun bak panorama “Bumi Villa”, Zul T. Edoardo mengemukakan perhatiannya akan “indeks ekonomi jalur cepat” Bali, di mana Bali terus-menerus menyesakkan pembangunan infrastruktur – banyak diantaranya generik – tanpa sedikit pun mengacu pada RTRW yang jelas. Edoardo mewartakan bagaimana terpinggirkannya ruang publik dan ruang hijau akibat desakan hunian bergaya town-houses minimalis yang merebak, menjamur. Sistem kekerabatan irigasi tradisional subak terpinggirkan oleh fasilitas umum dalam kompleks perumahan nan moderen yang dipasarkan dengan silang sengkarut slogan bertabur janji kemewahan, kenyamanan, dan keuntungan investasi. Masyarakat Bali asyik menjadi pelaku sekaligus korban dari propaganda tentang kemakmuran yang rentan menghilangkan jati diri dan kearifan lokal. Masyarakat pedesaan berbondong-bondong mencari KPR di kota, sedangkan dana pensiun masyarakat luar negeri berikut kaum kota sibuk berkonspirasi menghabiskan “paru-paru alam” di pedesaan. Sudah waktnya refleksi, karena sawah ladang hijau yang hari ini menjadi pemandangan di depan hunian-hunian moderen itu dalam sekejap akan juga menjadi belantara beton yang tak akan menyapa balik penuh kehangatan.

Saat berlalunya hari, seri karya Dua Sisi dari Johannes P. Christo nampaknya menjadi favorit sekian banyak pengunjung pameran. Ia dengan jenaka menggelitik dan mengungkap harmonisasi gaya hidup yang berbeda di Bali. Foto seorang remaja hitam legam dengan rambut terurai berwarna pirang yang sedang khusyuk maturan semakin menegaskan kontak modernitas yang bersahaja dengan relung terdalam budaya Bali. Punk dan pura, mohawk dan udeng saling mengakrabi, tidak berbenturan. Gelegar konser dengan lirik-lirik penuh hujatan akan kehidupan sosial yang konvensional dan budaya popular silih berganti dengan alunan doa menyanjung kebesaran Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Karya-karya Christo membuat saya tertegun, mudah-mudahan fenomena ini bukan hanya sebuah fashion statement yang mengindikasikan sekecap sikap berontak, anti otoritas ataupun sikap teguh memperkokoh akar budaya dan adat istiadat Bali.

Miftahuddin Halim, fotografer Radar Bali yang sedang menjalani persidangan perdana kasus pemukulannya oleh seorang pengusaha, tampil dengan tema Biduk Cinta, Silang Bangsa yang asyik mengisahkan tentang universalitas cinta dan Bali sebagai muara perjodohan antarbangsa. Keterbukaan Bali dengan pesatnya perkembangan budaya, iptek dan beragam hal lainnya bisa menjadi alasan maraknya perkawinan campuran ini. Jangankan dewasa ini, perkawinan campuran pun sebenarnya marak di masa silam Bali, seingatku ada perupa asal Belanda Han Snel yang menikahi Ni Made Siti atau perupa Belgia Le Mayeur yang berjodoh dengan Ni Nyoman Polok, penari Legong terkenal dari banjar Kelandis, kesemuanya menyiratkan kisah percintaan abadi yang tak surut oleh perbedaan dan waktu. Halim menegaskan bahwa isu-isu yang berdampak pada perkawinan campuran seperti halnya isu sosial, budaya, agama, spiritual sampai penyesuaian diri dalam komunikasi tidak jauh dari kompleksitas yang di hadapi pulau Bali sebagai ruang sosial yang terbuka.

Sembari menikmati kopi dan menyambung pembicaraan dengan karibku tentang archiving lewat fotografi, perhatianku tersita pada karya Tumpek Landep Kontemporer oleh I Nyoman Budhiana, pewarta foto asal Gianyar yang merekam suasana hari raya Tumpek Landep yang penuh ritual pemujaan terhadap Sang Hyang Pasupati, penganugerah ketajaman pikir dan kedalaman rasa. Menarik, karena di saat Bali penuh sesak oleh trotoar, berjibunnya toko kelontong, rumah makan, bus pariwisata ataupun sliwar-sliwer kendaraan bermotor, ternyata aspek-aspek spiritual dan budaya Hindu Bali masih tetap berlangsung khidmat dan lekat di hati. Pada hari raya Tumpek Landep, masyarakat Bali tak saja menyempatkan diri menghaturkan canang berikut banten, memercikkan air suci, dan mendoakan pusaka turun-temurun, senjata dan peralatan lainnya yang terbuat dari metal, namun lanjut mengembangkan pemahamannya akan makna hari suci ini dengan menghiasi mobil, motor dan peralatan teknologi lainnya dengan rangkaian janur dan sesajen. Saya pikir, ruwatan kendaraan ini tak lain didasari penghayatan kontekstual untuk memohon kepada penguasa jagat raya agar semua hasil olah pikir manusia bisa berfungsi tepat guna dan bermakna bagi kehidupan.

Bali Jani memang secara substansial menggambarkan the changing times, citra bali dan masyarakatnya yang terus berubah. Ini juga upaya penting bagi visual archiving tentang Bali tanpa mesti banyak merisaukan teknik fotografi maupun cetaknya. Memang Bali Jani berbicara pada tatanan good photography (gambar yang menarik) dan tak sepenuhnya bicara mengenai right photography (gambar yang benar dari perspektif kemahiran teknik). Walau begitu Bali Jani jelas menarik dan tepat daya mengingat karya-karya yang hadir memenuhi aspek rentang waktu (dimana imaji yang terekam mempunyai arti dan berhubungan dengan sebuah peristiwa atau fenomena); aspek objektivitas (imaji-imaji yang dicitrakan adalah wajar dan akurat tentang peristiwa yang terjadi baik dari aspek konten maupun nuansa); dan aspek narasi (juktoposisi foto-foto yang saling berhubungan dan mengugah pemahaman lebih lanjut tentang sebuah fenomena).

Rofiqi Hasan selaku ketua AJI tepat mengatakan bahwa jurnalis, termasuk fotografernya memang harus profesional, membuka diri dan melakoni interaksi untuk membedah fakta-fakta sosial. Tentunya ini merujuk pada nilai penting fotografi dalam kehidupan, karena kalau saja bukan karena fotografi, saya, anda dan kita tak akan pernah bisa mengingat momen dan sejarah. Fotografi save moments from being lost forever. Mudah-mudahan Bali Jani juga menjadi refleksi bagi media di Bali untuk memberi ruang yang patut bagi pemberitaan yang jauh dari kesan artifisial dan seremonial. Akhir kata, bidikan lensa Bali Jani telah menjadi upaya perluasan wawasan yang tidak saja merupakan wacana pemikiran, tetapi juga wacana kreatif.

Hari ini hari yang menarik.
Sembari pulang menikmati riuhnya ruas jalan Drupadi, saya larut bertanya dalam hati tentang apa yang akan kita hadapi sepuluh tahun mendatang. Semoga keseimbangan lekat di Bali selamanya.

Denpasar, 10 Januari 2010

Marlowe Bandem
Ketua Komunitas Kreatif Bali dan co-organizer BLIPfest (Bali Photography Festival) 2010