Tags

,

10 Februari 2010
Art Cafe Seminyak

Bertempat di Art Cafe Seminyak, OBRAL (Obrolan Rabu Malam) edisi Rabu, 10 Februari 2010 mengetengahkan tema Passion for Fashion di mana dua narasumber yang tak asing lagi di kancah seni mode yaitu Ali Charisma dan I Gusti Made Arsawan hadir dan berbagi cerita tentang kekhasan kreativitas mereka masing-masing.
Koleksi Ali Charisma La-Mer di Hong Kong Fashion Week for Fall/Winter 2010


Tenun Ikat Penatih karya I Gusti Made Arsawan

Ali Charisma yang baru saja kembali dari memamerkan koleksi Fall/Winter 2010-2011 di perhelatan bergengsi Hong Kong Fashion Week dikenal sebagai seorang fashion designer bervisi konsisten dalam memadukan kepentingan bisnis dan daya ciptanya yang beragam. Sedangkan, I Gusti Made Arsawan adalah seorang penggiat kreativitas tenun ikat dari desa Penatih yang juga terkenal sebagai pemilik dan pengelola Kebun Alam Bale Timbang, sebuah sentra budaya kuliner khas Bali dengan sentuhan “back to nature” di seputaran Jalan Trengguli Penatih, Denpasar Utara.

Yoke Darmawan selaku host mewakili Komunitas Kreatif Bali, membuka acara sharing yang bersahaja malam itu dengan memaparkan ihwal kontribusi PDB Industri Kreatif pada tahun 2006 sebesar 5.67% dari total PDB Nasional. Bila dihitung berdasarkan harga konstan tahun 2000 maka kontribusi PDB Industri Kreatif adalah 104,787 triliun rupiah, sebuah nominal yang relatif tinggi dalam perkembangan Ekonomi Kreatif di nusantara.

Yoke lanjut memaparkan bahwa dari presentase kontribusi PDB Industri Kreatif di atas, subsektornya yang mendominasi adalah Fashion (kreasi desain pakaian, desain alas kaki, desain aksesoris mode, termasuk pula produksi pakaian mode dan aksesorisnya berikut konsultansi dan distibusi lini produk fashion) sebesar 43.71% atau 45.8 triliun rupiah lebih. Kemudian lanjut didominasi subsektor Kerajinan (25.51% atau 26.7 triliun rupiah) dan subsektor Periklanan sebesar 7.93% atau sekitar 8.3 triliun rupiah. Nominal yang cukup substansial dari subsektor Fashion tentunya tak hanya menandakan kemampuan industri mode Indonesia untuk merangsang dan memenuhi demand, namun juga menggambarkan sinergi lintas industri yang tinggi serta kompetitifnya segenap potensi dan sumber daya industri mode di tanah air.

Ali Charisma yang juga merupakan ketua Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (AAPMI) Bali mengiyakan bahwa memang betul sinergitas merupakan modal bagi pengembangan lebih lanjut mode Indonesia, terutama dalam konteks persaingan internasional. Ia menceritakan bagaimana persiapan menjelang Hong Kong Fashion Week betul-betul menyita waktu dan perhatiannya akan detail; tidak hanya dalam konteks tema koleksi yang hendak diperagakan, keragaman koleksi, display pameran serta sistem administrasi produk dan buyers, namun juga akan hal-hal yang bersifat kolaboratif seperti kerjasama dengan model, fotografer dan make-up artis baik saat penyiapan promo katalog maupun saat koleksinya melenggok manis di atas catwalk. Jelas harus ada kemampuan mumpuni dari para kolaborator untuk memahami dan mengelevasi hasil karyanya sebagai desainer demi terwujudnya kesatuan citra koleksi seperti yang diharapkan.

Arsawan pun mengatakan bahwa sinergi terutama berdasarkan pengalamannya memenuhi demand pariwisata akan tekstil tradisional Bali terutama kain endek adalah hal yang tak bisa diingkari. Ia pun mengutarakan bagaimana indutri tekstil tradisonal itu pun sama; penuh tingkatan baik haute couture, ready to wear dan mass market yang kesemuanya mesti didasari keseimbangan antara idealisme kreatif dan kenyataan bisnis. Tidak hanya bicara marketing mix, tapi Arsawan juga menegaskan hal itu mesti didasari dialog dan shared interest demi terjaganya komitmen stakeholders baik dari pemerintah sampai pengepul, dari supplier sampai retail sales force.

Ditanya mengenai kita-kiat untuk tetap survive dan business expansion, kedua narasumber sepakat bahwa keberlanjutan bisa digaransi selama ada komitmen terus menerus akan inovasi. Menurut mereka inovasi harus hadir sebagai hal yang natural dalam bisnis, dan inovasi yang dimaksud berkaitan erat dengan pola pikir yang teguh dan runut serta sikap berani demi bergulirnya tawaran produk dan layanan yang khas di tengah gelombang ketidakpastian yang pasti dalam siklus bisnis.

Arsawan mencontohkan, ketika pasar pariwisata menjadi jenuh akibat kiblat bisnis yang mengutamakan quantity over quality – profit over people, kreativitas pun enggan hinggap dalam benaknya, yang tak lama kemudian secara berlipat-lipat menurunkan omzetnya. Terhenyak, ia me-reboot pola pikirnya dan mulai memformulasi teknik baru dalam proses pembuatan kain endek berikut khazanah motif dan coraknya. Ia keluar dari kelaziman endek Bali, dan memulai bertaruh: nothing to lose. Revitalisasi ia lakoni, ia buat jalur distribusi baru, “bermain” di ranah middle to high-end market dengan tawaran produk yang penuh tendensi akan tone warna dan desain yang berbeda dan unik. Ia baca yang tak terbaca pesaingnya, Ia tidak lagi semata-mata bertarung di pasar oleh-oleh penuh carut marut middleman dengan presentase komisi yang tinggi, namun ia melangkah maju dengan karya seni yang sampai-sampai penamaan (brand) ia luputkan. Walau demikian, BOOM! bisnisnya mengeliat menggurita kembali.

Ali Charisma pun menambahkan bahwa yang fashionable bukan berarti mesti trendy, sekaligus tak mesti sok berbeda. Baginya, inovasi ada pada setiap spektrum kreativitasnya baik sebagai aksen-aksen kecil dalam desain maupun pada formulasi strategi bisnisnya. Ia memberi contoh bahwa walau koleksinya amat variatif dari yang lembut sederhana sampai yang vokal penuh hasrat, benang merah inovasinya adalah pada pencitraan kreativitasnya yang teguh akan harmoni dan keanggunan.

Yang menarik kemudian adalah ketika para narasumber membahas bahwa ada masanya mereka mengarungi kegagalan; sukses yang tertunda. Arsawan dengan jenaka mengulas setelah periode BOOM Bali ada BOM Bali yang membuatnya bertekuk lutut. Sempat ia hibernasi lebih dari 3 tahun, kontemplasi mencari jalan keluar dari tantangan berat tersebut. Begitu pula Charisma menceritakan bagaimana ia seringkali berkehendak memindahkan produksi ke negara China dengan alih keterbatasan supply maupun efisiensi. Kedua narasumber menjelaskan kegagalan adalah motivasi dan mesti diminimalisir melalui sikap jangan mudah terlena, selalu upayakan model bisnis baru, berdayakan ICT, aplikasikan metode manajemen mutakhir, tingkatkan efisiensi lingkungan bisnis dan pastikan partisipasi aktif dari para stakeholders.

Ditilik lebih jauh, kreativitas, originalitas dan personal mastery para narasumber tak jauh dari kemampuan mereka menghadirkan ide-ide segar yang unik untuk produk, jasa dan bisnisnya. Ini lanjut dieksekusi dengan rasa empati yang tulus akan kebutuhan pelanggannya. Ini bisa saja adalah rahasia mereka untuk tetap bertahan dan selalu unggul.

Tak terasa malam semakin larut, suasana Obral yang intim mesti disudahi. Sebelum acara ditutup oleh rekan Eko Prabowo, Arief ‘Ayip’ Budiman berkesempatan mempresentasikan peran dan pencapaian Komunitas Kreatif Bali selama ini beserta harapannya akan kreativitas di masa mendatang. Menjelang bubaran, saya sempat bertanya kepada Ali Charisma, “Are we in Bali fashionable enough?” Ia hanya menjawab dengan kerlingan mata berbinar dan senyum lebar.

Are we?

Denpasar, 12 Februari 2010
Marlowe Bandem
Ketua Komunitas Kreatif Bali

PS. Komunitas Kreatif Bali menyampaikan terima kasih setulusnya kepada Ali Charisma, I Gusti Made Arsawan, AyLin Kanginnadhi dan Art Cafe Seminyak, semua rekan dan undangan yang telah menyempatkan hadir berbagi senda gurau dan pengalaman. Sampai bertemu di OBRAL berikutnya.