Tags

,

MADE Budhiana lebih dulu dikenal sebagai pelukis abstrak. Meski ia masih tetap melukis abstrak, namun ia juga seorang perupa yang kreatif, baik dari aspek gagasan maupun dari aspek eksperimentasi media. Sebagai perupa kreatif, gagasan-gagasannya seringkali tak terduga, spontan dan segar. Ia tak selalu terpaku pada bidang kanvas belaka; melainkan juga memanfaatkan kemungkinan-kemungkinan baru dalam pemanfaatan media lain sebagai ekspresi kreatifnya. Kencederungan ini semakin kuat ketika ia menamatkan studinya dari ISI Yogyakarta pada 1987. Karena itu lebih baik kita menyebutnya sebagai perupa kreatif daripada hanya sekadar pelukis abstrak mengingat perantauan kreatifnya melintasi sekat-sekat seni rupa konvensional..

Dalam permulaan kariernya sebagai perupa pasca-ISI Yogyakarta, Budhiana telah memperlihatkan kecenderungan dan arah baru bagi keseniannya. Dengan memanfaatkan media-media sederhana dan bahkan yang tak berharga sekalipun seperti kertas koran bekas, poster-poster iklan, kardus-kardus, kertas roti, kulit rokok dan benda-benda lainnya, ia meng-create media tersebut menjadi ekspresi artistiknya. Karena itu, salah satu kredo yang paling penting yang ia pegang hingga kini ialah bahwa “keindahan berserak di sekitar kita”. Ia yakin bahwa segala hal  berpeluang untuk dijadikan hasil keindahan jika kita mau kreatif. Ia menghendaki bahwa setiap orang dengan kemampuannya tidak hanya tergantung pada satu hal saja.

Kini tak mudah menandai Budhiana hanya sebagai pelukis abstrak. Ia perupa dengan dinamika yang menyeluruh dari bangunan seni rupa. Ibarat pengetahuan yang mempunyai cabang-cabang ilmu; begitu pula seni rupa yang memiliki beragam aliran, bentuk dan kecenderungan. Budhiana hampir ada di semua wilayah itu. Kecuali sedikit hal yang  dapat dikatakan sebagai pegangan ialah bahwa induk kerupaannya ialah abstrak. Ia tak pernah goyah akan estetik yang dijanjikan oleh bentuk ini. Ketika eforia realisme kembali menyeruak untuk menerjemahkan istilah kontemporer bentukan pasar, ia tetap mengeksrpesikan abstrak dengan keberanian menghadapi seteru dari pasar; tak laku!

Dan Budhiana memilih ‘tak laku’ daripada bersekutu dengan pasar. Perjalanan dan saksi-saksi sejumlah orang membuktikan keyakinannya. Baginya pasar bukanlah penentu; dan abstrak tidak bisa dihakimi estetiknya oleh pasar. Sejarah seni rupa mengatakan; yang tak diterima pada jamannya; bisa jadi diterima pada masa yang akan datang. Representasi ini dibuktikan, antara lain, oleh Van Gogh. Tugas seniman ialah meyakini keseniannya sebagai buah estetik eksistensinya, dan bukan oleh ‘suruhan’ cukong dan apalagi pedagang,  karena ars longa vita brevis;  hidup ini pendek, tapi seni yang bagus dan baik akan langgeng! Budhiana sedang berikhtiar memilih jalan kebaikan dan kebenaran dalam seni rupa.

Dasar kesenian Budhiana ialah kebebasan dan ia tak ingin mengikat-ngikat diri dalam hal apapun, termasuk juga oleh abstrak. Ia melepaskan eksistensi keseniannya dalam perantauan bentuk, warna, tema, dwimatra-trimatra, juga dalam berbagai pikiran-pikiran eksperimental. Kesenian ialah wilayah ‘bermain’, tetapi untuk bisa bermain harus berlaku serius dan mengerti apa yang harus dipersiapkan. Pada kenyataannya tak mudah ‘bermain-main’ untuk mendapatkan ‘permainan yang bagus’. Serius tapi bermain-main, atau bermain-main tapi serius adalah dunia yang dinikmati Budhiana dalam dunia seni rupa. Yang menyenangkan dari semua itu adalah kenyataan bahwa Budhiana selalu kaya akan kejutan bentuk, spontanitas dan kejujuran dalam menuangkan gagasan-gagasannya.

Budhiana menggambar abstrak sama ringannya ketika ia menoreh-noreh kayu atau batu; sama ringannya manakala ia asyik dengan fotografi atau men-shooting para sahabatnya yang sedang melukis atau bermain musik dengan perlatan apa adanya; kali lain ia juga melukis model dengan siapapun berpeluang ‘direkamnya’ hanya dengan menggunakan tinta China sama santainya ketika ia membuat sketsa-sketsa humoris, kartunis, ironik, sinistik; dan begitu penuh percaya diri melukis alam pemandangan di ke mana pun ia pergi (Karangasem, Lombok, pantai pesinggahan klungkung, atau alam panorama mancanegara yang sempat ia kunjungi).

Maka, cakrawala seni rupa Budhiana ialah alam nyata sebagai gagasan dan perantauan serta alam imaji sebagai eksistensi estetik. Ia masuk dan keluar dalam dua  dunia itu sama menariknya bagi banyak orang. Budhiana adalah sosok yang low profile namun menyimpan kontroversi-kontroversi dalam dua dunia itu (pribadi dan estetik). Maka menjadi menarik jika mengetahui sejauh apa cakrawala rupa yang ia ekspresikan selama ini.

SEMUA karir dan kiprah seni rupanya itu amat berharga untuk dibiarkan begitu saja. Maka atas dorongan sejumlah sahabatnya, perupa kelahiran Denpasar 27 Maret 1959 ini akhirnya membukukan perjalanan karier dan kiprah keseniannya dalam buku bertrajuk MELINTAS CAKRAWALA (CROSSING THE HORIZON) yang ditulis oleh I Wayan Suardika dan diterbitkan oleh Matamerabook; diluncurkan bertepatan dengan pembukaan pameran tunggalnya dengan judul yang sama dengan bukunya di Maha Art Gallery, Sanur, Denpasar, 26 Mei 2010. Buku MELINTAS CAKRAWALA merangkum perjalanan kreatif Budhiana, bermula dari masa kanak-kanak yang telah memperlihatkan talenta menggambar, masa sekolah menengah, masa studi seni di ISI Yogyakarta, keseniannya pascastudi ISI Yogyakarta, perantauannya ke mancenagara hingga sejumlah harapan dan impiannya yang ia semai hingga kini di rumah/studio kesayangannya, Snerayuza.

INFORMASI MENGENAI MADE BUDHIANA
Hubungi:
Yuanita Ramadhani
Tel: 03619979529
Email: ita.ramadhani@gmail.com