Tags

OBRAL Edisi Mei 2011
(Obrolan Pra Rabu Malam)

Bali Creative Community dan Danes Art Veranda
menghadirkan tamu pengelana Agustinus Wibowo
Yang akan sharing mengenai perjalanan Ke negeri-negeri Asia Tengah
Ia adalah seorang backpacker, penulis dan fotografer
Di Usianya yang 29 tahun, ia habiskan waktunya mengenali pelosok Asia
dengan kereta, bis, taxi, ojek, keledai dan berjalan kaki.
Apa gerangan yang diimpikannya? Global citizen?

Hadirlah OBRAL Edisi Mei 2011
di Danes Art Veranda
Jalan Hayam Wuruk 159, Denpasar
Hari Selasa 10 Mei 2011 pukul 19.00 Wita

Kita simak kisahnya, kita lihat rekaman fotonya
Kita tanya impiannya.

 

Keluar dari Khayalan Indonesia

Mungkin kita menyimpan mimpi menyambangi negeri-negeri yang jauh. Ke bandar-bandar yang sama sekali tak mirip dengan asal sendiri.

Apa yang kita cari? Membuat hati, tubuh, dan jiwa bersenyawa dengan debar semesta? Apakah sebuah perjalanan membuat Anda menjadi bagian dari kegelisahan global?

Agustinus Wibowo mendatangi tempat-tempat terpencil di dunia. Seperti desa di Indonesia, predikat terpencil berarti tempat itu sulit dijangkau, akses modernitas rendah. Dia melangkah ke negeri-negeri di Asia Tengah yang tidak menjual pesonanya lewat kartu pos: Tajikistan, Kirgizstan, Kazakhstan, Uzbekistan, Turkmenistan. Agus membukukan pengalamannya dalam Garis Batas, setebal 510 halaman yang kaya sarat karya fotografi.

Ketika Uni Soviet teriris, maka teriris pula sejarah negara-negara Stan. Pahlawan, kebanggaan dan segala warisan masa lalu diperebutkan. Tajikistan, misalnya, tidak punya sejarah panjang karena dibentuk Stalin untuk memecah Uzbekistan. Namun penduduk negeri ini gemar mengingkari fakta sejarah. Agustinus harus tertipu oleh ilusi sejarah kota Istaravshan di Tajikistan Utara. Tak ada mesjid kuno, seperti yang dia fantasikan tentang kota yang mengklaim sejarahnya sudah 2500 tahun.

Setiap bangsa mungkin perlu menghidupkan kebanggaannya, meski dibangun dari puing-puing ilusi. Seperti Indonesia yang sebenarnya disatukan oleh kesamaan sebagai jajahan Belanda. Maka tepat bila Andreas Harsono dalam pengantarnya untuk Garis Batas menyebut Agustinus berani keluar dari kahayalan soal Indonesia lalu mempertanyakan diri keberadaan dia sendiri.

Membaca tulisan Agustinus seperti tersedot seperti ke petualangan Karl May tanpa pretensi-pretensi berat. Agus tidak punya misi serius seperti perdamaian dunia atau mengecam penindasan atas suatu bangsa seperti yang dilakukan Karl May. Dia rajin melempar pertanyaan-pertanyaan tentang kemerdekaan, sejarah, atau agama. Semua itu terjadi lewat interaksi dengan penduduk setempat.

Interaksi itu membuat penuturannya menjadi basah, tidak seperti kisah pelancong yang hanya mengandalkan deksripsi subjektifnya. Agustinus punya trik menawar polisi bertubuh gendut yang memanfaatkan bulan Ramadan untuk memalak dengan menyebut diri miskin. Aparat korup ada dimana saja.

Dia juga harus merogoh koceknya yang pas-pasan untuk visa atau ongkos bermalam yang jumlahnya kerap tak masuk akal. Namun dia sadar frustrasi turis tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan yang dialami setiap hari oleh pendudul lokal.

Agus tidak membuat petualangannya sebagai sebuah pengalaman yang heroik. Karena perjalanan itu tidak selamanya menyenangkan hati. Kerap Agus melontarkan gerundelan, yang justru terbaca lucu. Pada pembukaan Garis Batas, Agus membuat metafora tentang keledai sebagai makhluk yang bodoh menjadi relevan. Menunggang keledai adalah pengalaman yang mengesalkan. Tapi hewan itu sangat dibutuhkan oleh para kafilah di Afghanistan.

Agustinus tidak membuat Garis Batas menjadi sebuah panduan wisata atau referensi bagi pembaca yang ingin mengecap pengalaman sama. Sebuah hotel di Tajikistan dia gambarkan: bangunan raksasa buruk rupa di tengah kota yang arsitekturnya mengingatkan pada gaya birokrasi komunisme: besar, membosankan, menakutkan.

Garis Batas adalah catatan-catatan Agustinus ketika mengelilingi Asia Tengah yang dimulai tahun 2006 dan berakhir pada 2007. Garis Batas bisa dianggap sebagai sekuel dari Selimut Debu yang memuat kisah Agus di Afghanistan. Dia pernah bekerja sebagai fotografer di negeri yang belum sepenuhnya terbebas dari perang itu.

Negeri-negeri Stan di mata Agustinus begitu gemerlap. Dia melihatnya dari Afghan yang hanya berbatasan selebar sungai. 20 meter.

Batas-batas negeri kerap sangat tipis. Tapi melewati batas itu begitu banyak hal yang berbeda. Agustinus menghadirkan narasi tentang pemuda Afghan yang akan sekolah ke seberang, melewati garis batas sungai Amu Darya. Berangkat dengan cambang di dagu, kopiah, jubah panjang kedodoran, dan celana kombor mirip pakaian Aladdin. Begitu tiba di Tajikistan, mereka segera mengenakan jas, dasi, kemeja, sepatu dan tas kerja. Karena yang kode pakaian yang berlaku di negeri seberang adalah modernitas ala Eropa yang diperkenalkan Rusia.

Bagi Tajikistan sungai adalah sumber energi, sehingga rumah mereka bisa diterangi lampu listrik. Sementara bagi orang Afghan yang hidup dengan pelita di malam hari, arus sungai tinggal menjadi pembatas. Pemisah takdir.

Ditulis oleh: Alfred Pasifico