Wonderground Responsible Lifestyle prototype products exhibition
DANES ART VERANDA 4-7 JUNI 2011


Gate memasuki Pameran Wonderground

Halaman Danes Art Veranda sore menjelang malam itu tampak berbeda, menuju pintu masuk ada semacam gapura tak beraturan yang tersusun dari bekas neon box, kawat pagar, kayu dengan aksesoris rerumputan. Neon box menyala mengekspos tulisan-tulisan dan gambar. Yang paling besar adalah tulisan “Wonderground” dalam bentuk tanda seru dengan lambang daur ulang menggantikan bulatannya. Pemandangan ini menjadi semacam alat hantar menuju pameran prototype produk “lifestyle” karya 18 artis dan desainer Indonesia yang terbuat dari materi limbah dan organik.


Suasana Pameran Wonderground

Karya-karya yang dipamerkan dalam Wonderground adalah cikal bakal kelahiran Nafka, sebuah merek yang hanya menjual dan memroduksi aneka produk berbahan dasar limbah ataupun organik. “Responsible Lifestyle” demikian dalam katalog pameran disebutkan genre yang akan menjadi produk andalan Nafka ini. Nafka mengajak jaringan seniman dan desainer mengkontribusikan desainnya untuk menjadi produk Nafka dimana dalam proses produksinya harus merupakan sinergi bersama perajin atau UKM.


Suasana Pembukaan Pameran Wonderground

Dalam pembukaan yang dilakukan Sabtu, 4 Juni 2011 oleh David B. Berman menyampaikan kekagumannya atas upaya desainer Indonesia mampu mengolah limbah dan materi organic menjadi produk bernilai pakai dan estetik. Pengarang buku “Do Good Design” yang tengah melakukan rangkaian aktifitas “Do Good Indonesia” atas undangan Adgi dan Aikon ini menyampaikan motivasinya bahwa desainer Indonesia tak perlu mengacu pada Milan atau New York karena desainnya memiliki karakter yang mampu tampil lebih baik. Sebelumnya, Arief Ayip Budiman selaku penggagas pameran Wonderground menyampaikan bahwa Nafka adalah sebuah laboratorium kreatif yang memberikan kesempatan desainer mengenali masalah menjadi berkah dengan mengolah limbah.

Wonderground adalah pameran yang langka dan menarik, setidaknya komentar-komentar yang tercetus dari undangan yang hadir malam itu menunjukan rasa optimisnya bahwa pameran ini akan mampu menginspirasi dan memotivasi para desainer bahkan masyarakat untuk turut memikirkan mengolah limbah secara kreatif. Banyak undangan yang hadir juga kalangan arsitek dan desainer yang sibuk mencari informasi bagaimana caranya untuk turut dalam program ini. Bahkan beberapa desainer asing menyampaikan bahwa mereka juga dapat berkiprah jika diperbolehkan. “konsepnya menarik dan pada kenyataannya limbah adalah benda yang berserak di sekitar kita” ujar David seorang desainer asing di Bali. Sementara Paola yang mengurus Yayasan EcoBali yang berkonsentrasi pada pengelolaan limbah menyatakan kesiapannya mensupport limbah bagi desainer dan perajin yang akan mengolahnya.

Ada puluhan karya dari 18 desainer yang masing-masing memiliki daya kreasi dan ungkapan estetis yang berbeda, pun dalam hal pemakaian materi limbah dan organik. Artis dan desainer yang berasal dari Bandung, Jakarta, Yogyakarta dan Bali ini mencoba mengekspresikan tantangan pengolahan menjadi sesuatu yang berbeda. Misalnya Veny Lydiawati yang desainer produk dari Bali menciptakan “Kid’s Dream Lamp” dimana orang tua dan anak bisa menggambar diatasnya dan membuatnya lebih unik. lampu ini membuat anak- anak dapat berkreasi dengan imajinasi diatas lampu mereka sendiri.


Kid’s Dreaming Lamp-Veny Lydiawati

Lampu yang terbuat dari kain t-shirt polyester sisa dari pabrik, kawat besi, mica dan bolam lampu hemat energi ini mudah dipisahkan sehingga mudah di daur ulang kembali.


Kain Bungkisan-Indah Esjepe

Sementara Indah Esjepe, desainer grafis dari Jakarta membuat “Tissue Tempo Doelo alias sapu tangan yang semakin dilupakan karena sudah tergantikan oleh tissue. Dengan desain yang unik dan menarik, Tissue Tempo Doeloe diharapkan bisa membuat orang kembali memilih dan menyukai saputangan dibanding kertas tissue yang kurang ramah lingkungan. Selain itu Indah juga membuat “Kain Bungkisan” atau kepanjangan dari pembungkus bingkisan dan hantaran. Bungkisan adalah kain ramah lingkungan yang diharap bisa menggantikan peran kertas dan kantong plastik yang hanya bisa digunakan sekali pakai. Semakin banyak kain Bungkisan dipakai orang, semakin besar upaya kita menjaga bumi dari pencemaran limbah plastik.


Sunar Lamp-Iqbal Rekarupa

Peserta lain, Iqbal Rekarupa dari Yogyakarta menampilkan “Sunar Lamp”. Pengetahuannya tentang materi logam mendorong Iqbal memanfaatkan gir tak terpakai menjadi sesuatu yang bernilai. Rangkaian gir yang ditata sedemikian rupa menjadi alat penerang bercahaya sunar. Sangat berbeda dengan pendekatan Desain 9 yang menampilkan “Kobazumi Lamp” yang berbahan dasar materi kayu limbah “generasi ke tiga” dan “Matango Lamp” yang terinspirasi dari tumbuhan jamur terbuat dari limbah kaca.

Kobazumi Lamp-Desain9


Matonga Lamp-Desain 9


Kebaya Barbie-Putu Restiti

Satu-satunya peserta yang bukan desainer adalah seorang gadis berbakat berusia 19 tahun dari desa di tepi danau Batur – Songan, Kintamani, Bali. Sebuah wilayah di Bali Utara dengan jumlah penduduknya sekitar 15 ribu jiwa. Ia bernama Putu Restiti yang mengalami gangguan pertumbuhan tulang sehingga harus bergantung pada Ibu dan kursi rodanya sejak ia lahir. Hidupnya tak seberuntung keluarga lainnya. Minimnya informasi memperlakukan anak-anak dengan difability membuat Restiti manis kehilangan kesempatan berharga untuk pergi ke sekolah. Namun Restiti memiliki semangat kreatif yang tinggi. Ia menjahit banyak busana mini yang indah seukuran boneka kecil. Karya seni buatan tangan Restiti, sebagian besar adalah Kebaya Bali yang cocok untuk dikenakan pada boneka Barbie. Kebaya ini terbuat dari berbagai kain sisa berupa poliester, taffeta, chiffon, voile, satin, dan lainnya. Kreatifitas Restiti seakan mimpinya yang terwujud. Mempercantik Barbie dengan busana khas Bali.


Dressence-Ika

Sementara keikutsertaan desainer fashion senior Ika, perancang mode Indonesia yang menetap di Hong Kong dan Bali ini sangat mengundang decak kagum. Daya cipta busana Ika melahirkan Dressence yang diilhami demikian banyaknya kain sisa potongan yang berukuran minim. Dengan gaya dan ekspresinya yang khas Ika menjadikan kain-kain tersebut gaun-gaun yang indah menyerupai sebuah karya seni. Pada saat pembukaan salah satu busana Ika dikenakan oleh seorang model semampai yang semakin menunjukkan nilai dari karyanya itu.


Umacab-Aty Budiman

Aty Budiman yang merupakan desainer interior di Bali karyanya mampu menjadi perhatian karena menggunakan materi yang banyak terdapat di sekitar kita. Majalah bekas yang bertumpuk disulapnya menjadi sebuah kabinet. Umacab” adalah “used magazine cabinet” yang menggunakan susunan majalah bekas sebagai dinding penganti kayu. Dalam imajinya, kayu dan kertas berasal dari sumber yang sama yaitu pohon. Eksperimentasinya menjadikan ketebalan kertas sebagai dinding diwujudkan dalam berbagai bentuk desain produk.


Away to Wear-Alma+Roy

Duet Alma dan Roy menggunakan kain karung terigu yang diolah menjadi desain busana casual yang fun dan pewarnaan celup. Busana yang diciptakannya adalah kreasi untuk dikenakan wanita muda dan memadu padankan dengan busana lain. “Away to Wear” adalah judul karya mereka.


Bagstronout-Monez Gusmang

Ilustrator muda Monez Gusmang dari Bali memberi aksen baru pada tas belanja yang sederhana dan ringkas yang dapat memuat banyak dengan tema astronot. Astronot baginya adalah simbol eksplorasi dunia baru yang menantang dimana setiap manusia dapat memasukinya. Seperti layaknya memahami bentuk kepedulian desainer pada lingkungan yang harus dipelajari dan segera dimasuki agar mengenalnya dengan baik. “Bagstronout” adalah judul karyanya.


Artwork-DP Arsa

Sedangkan DP Arsa, desainer yang juga peminat fotografi seni membuat artwork menggunakan aneka limbah seperti tas plastik, pelat bekas cetakan atau vinyl bekas billboard yang dicetak kembali dengan karya fotonya sehingga menimbulkan nuansa baru yang dapat dipergunakan sebagai artwork dalam berbagai bentuk dan ukuran. Eksperimennya ini merupakan pengembangan dari apa yang ditekuninya di dunia fotografi


Fiber Textile with Natural Coloring-Achmad Sopandi

Tak semua karya yang dipamerkan di Wonderground berasal dari materi limbah. Achmad Sopandi yang merupakan aktifis di ISEND-UNESCO sebuah komunitas internasional yang kegiatannya berupa  simposium, pameran, dan workshop seputar warna alami menampilkan tekstil yang terbuat dari serat tumbuhan dengan pewarnaan alam yang formulanya ditemukan sendiri. Karya Sopandi terlahir dari semangat petualangan. Berasal dari estetika budaya-budaya etnis di Indonesia. Dalam eksplorasinya, lingkungan alam dan tradisi suku etnis di Indonesia menginspirasi untuk mentransformasi dan menghidupkan kembali pembuatan kain berbahan serat tumbuhan dan penggunaan warna alam tradisional sebagai karya seni kontemporer. Hampir sama dengan Sopandi, Emma Indrawati juga menghadirkan karyanya berupa Sutera alam yang diberi pewarnaan alam nan menawan. Memadukan sutera alam dengan pewarnaan alam menjadi kain bercita seni memberikan nuansa baru yang kaya ekspresi.


Natural Silk with Natural Coloring-Emma

Desainer produk muda Fitorio melakukan eksplorasi dan eksperimentasi dan menjadi tema melekat dalam desain yang membawanya kepada rangkaian pameran desain eksperimen di beberapa Negara. Karyanya “Smile Stool” adalah bangku yang dibuat dari limbah industri mebel kayu yang dirangkai dengan konstruksi batang logam tertanam. Karya ini menunjukkan bahwa terbatasnya ketersediaan kayu lengkung di Indonesia tidak menghalangi untuk menciptakan desain furnitur elegan. Proses manufaktur Stool Smile mencakup pengumpulan dan pemilihan limbah. Setelah itu,  membentuk modul, menggabungkannya, menanam konstruksi dan melakukan proses finishing menggunakan minyak nabati.


Smile Stool-Fitorio Leksono

Bram Satya desainer dari Yogyakarta menciptakan “Benzo Chair” yaitu kursi yang dibuat dari kayu limbah namun efisien dalam pengerjaan. Sistem knock down memungkinkan sederhana dalam kemasan dan pengangkutan yang berdampak pada efisiensi biaya pengiriman serta minim carbon footprint. Finishingnya menggunakan “water based” coating yang non kimiawi.


Benzo Chair-Bram Satya

Sedangkan Ayip menciptakan cermin “Mirror-Mirror on The Wall”. Berangkat dari eksplorasi limbah, pertemuannya dengan daun-daun jendela bekas pakai merupakan inspirasi yang menggabungkannya dengan aksara dalam sebuah perlakuan desain sederhana. Pilihan bingkai berkaca dengan ungkapan “Miror mirror on the wall who’s the most beautiful girl in the world” merupakan potret kesahajaan kaum Hawa ketika berkaca, sebuah gumaman yang tak pernah diucapkan. Finishing natural menampakkan serat kayu dengan minyak kemiri menjadi elemen yang menyempurnakan syarat untuk tidak menggunakan unsur kimia.


Mirror-mirror on the wall-Ayip

Dan Irwan Ahmett, seorang desainer grafis Indonesia yang tengah berada di Belanda untuk serangkaian perjalanan dan berkarya ini mengirimkan karya berjudul “Bee Station” yaitu modul rak yang dapat disusun menyerupai sarang lebah untuk menyimpan pernak pernik. Karyanya ini terbuat dari kayu limbah yang dipadu powder finishing.


Bee Station-Irwan Ahmett

Karya Tegep Octaviansyah, seorang desainer produk asal Bandung adalah “Begs U Can!” sebuah tas casual merupakan gabungan bahan kulit organic dan kaleng bekas yang dipadu sedemikian rupa menjadi sebuah tas yang khas.


Begs U Can!-Tegep Octaviansyah

Secara keseluruhan pameran Wonderground sangat menyegarkan. Produk yang ditampilkan merupakan gagasan yang menginspirasi. Malam itu, saat pembukaan dimainkan musik dengan alat Bantu botol oleh kelompok Nostress dari One Dollar for Music Foundation dengan menampilkan anak-anak panti asuhan “Seeds of Hope” yang membuat David Berman berkaca-kaca karena terharu. Kelompok musik Khatulistiwa yang menggunakan alat musik tradisional plus plastik menutup acara malam itu. Wonderground memang sebuah kejutan, keindahan dan inspirasi yang tetap memijak bumi.

Fotografi oleh Aikonia + Patrick Lumbanraja
Sumber: www.indonesiakreatif.net