oleh Handoko Hendroyono

Sejak sepuluh tahun terakhir, global ekonomi dunia seolah mulai kelelahan. Over production akibat besarnya ego-selfish mulai tampak setelah pabrik-pabrik mengeksploitasi aset bumi, dengan mengabaikan nilai-nilai humanis manusia yang menjadi konsumen sekaligus produsen.

Pemahaman baru pun muncul. Pemenuhan kebutuhan individu atau konsumen yang penuh dengan kepuasan individualistis seperti tengah diuji. Inilah trend sekaligus fakta yang tengah berubah dan menggejala dalam global ekonomi dunia. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Akankah brand-brand nusantara mengikuti trend dunia ini?

Mengapa brand mesti berubah?

Jawabannya adalah, karena harus!

Sekarang kita saling terkoneksi, saat ini kita adalah bagian dari jaringan. Kita, suka tidak suka, terdesak oleh trend dunia. Sebagai bagian dari global ekonomi dunia, kita juga merasakan kebutuhan yang sama. Hal ini dibuktikan dengan kemunculan brand-brand baru yang beramai-ramai developing innovative solution.

Di sisi lain, keadaan ini justru melahirkan spirit baru. Model bisnis peduli lingkungan yang berkembang berupaya mengekspresikan kebutuhan manusia tentang rasa saling peduli. Social entrepreneurship bermunculan yang ditandai dengan lahirnya berbagai gerakan di bidang pendidikan, lingkungan, finansial, fashion, culture, kesehatan dan lain-lain yang sifatnya memberi kontribusi kebaikan bagi komunitas, entah dengan motivasi bisnis (profit) maupun dorongan lainnya dengan memperkuat jaringan atau koneksi sebagai aset yang utama.

Menarik diamati, bahwa perubahan ini berpengaruh besar karena mampu melahirkan brand baru yang memiliki spirit kebaikan, mulai dari T-shirt hingga sabun detergen. Kebangkitan media baru digital, terutama peran social media seperti facebook dan twitter turut memberi kontribusi bagi brand di dalam menangkap social entrepreneurship yang berkembang. Brand-brand yang telah eksis pun seperti tak ingin kehilangan momentum. Brand-brand lama seperti tak mau kehilangan koneksinya dengan audience.

Meski pada awalnya tidaklah dapat dipungkiri jika banyak brand yang “terpaksa” melakukan kegiatan CSR (coorporate social responsibility), namun belakangan hal ini mengalami pergeseran demi pergeseran menjadi CBI (core bussiness interest). Perubahan mendasar yang membawa kebaikan bagi society adalah keharusan. Sustainability telah menjadi tuntutan, bukan lagi kegiatan CSR yang sepotong-potong untuk tujuan seremonial semata.

Trend saat ini adalah kabar baik bagi para inovator untuk berkreasi dengan kebaikan-kebaikan. Saat ini adalah saat yang baik untuk menjalankan spirit “we are what we share”.  Saat ini adalah saat yang tepat untuk mengembangkan prinsip bisnis, sekaligus prinsip-prinsip kebaikan. Saat ini adalah saat untuk melakukan kebaikan, saat untuk memberikan makna bagi kehidupan, saat untuk melakukan kebaikan dengan berbagai cara dimanapun tempat dan waktunya, untuk semua orang.

Inilah kabar baik untuk perkembangan brand. Mereka seperti memiliki tanggung jawab untuk berbuat baik. Membangun koneksi berarti harus berbuat baik. Peluang ini akan melanda seluruh dunia termasuk Indonesia, karena kita umat dunia yang saling terkoneksi. Mari berbuat baik. Tak ada egoisme, tak ada individualisme. Karena kita sebagai bagian jaringan yang terkoneksi pada dasarnya memiliki power of generosity.

Munculnya gerakan-gerakan jujur seperti Nafka adalah konsekuensi logis dari power of generosity. Publik memiliki kekuatan untuk berbuat baik karena kultur produser merupakan kultur konsumer, sementara kultur konsumer adalah kultur produser. Nafka adalah langkah nyata kebutuhan dari kesadaran publik akan kebaikan.

Semoga kegiatan seperti Nafka ini menjadi pijakan awal dari bentuk bisnis yang berkelanjutan (sustainable) sehingga menginspirasi bentuk-bentuk movement serupa untuk kebaikan tanah air dan bahkan dunia. Masyarakat kini tak sekedar membutuhkan estetik, tapi juga etik. Karena secara kultural, estetik dan etik menjadi peluang bagi dunia kreatif/design untuk menjadi berguna bagi masyarakat. Disinilah indahnya dunia branding masa kini dan akan datang. Branding ke depan adalah mendesain kebaikan. Wah!

Handoko Hendroyono
Creative Storyteller Onecomm Indonesia

(twitter h@andoko_h)

Alumnus FISIP Universitas Indonesia yang gemar melukis, fotografi dan juga menyutradarai Film Iklan. Passionate terhadap dunia Komunikasi-Seni dan Iklan. Suka menulis untuk kepentingan belajar dan sharing. Artikelnya dimuat di Majalah Swa/Mix, Cakram, ADOI dan Marketeers. Suka membuat kegiatan yang sifatnya “Sharing” seperti Painting Day dan juga kegiatan-kegiatan Hobinomic.

Beberapa Advertising Agency telah disinggahi: Nuvo Advertising, Chuo Senko Indonesia, Mc Cann Erickson, Matari dan akhirnya menjalankan OneComm Indonesia. Lebih suka menyebut dirinya sebagai Creative Storyteller karena keyakinan kuatnya cerita untuk kampanye apapun dan melalui media apapun.