Indonesia masih menghadapi kendala klasik dalam soal perbukuan. Angka 15.000 judul buku yang diterbitkan dalam setahun dari 1.400 penerbit masih dinilai kecil untuk populasi 230 juta jiwa.

Penerbit harus bertahan di tengah himpitan harga bahan baku kertas dan pajak berlipat untuk produk buku. Mereka harus berhati-hati dalam kalkulasi bisnis saat memilih naskah untuk diterbitkan. Wajar bila muncul kecemasan tentang kemerosotan mutu literasi karena pilihan pragmatis penerbit.

Padahal peran tradisional penerbit buku untuk mencerahkan publik dan memajukan kultur harus terus dipelihara.

Apakah penerbit di Indonesia telah mencangkok pola “blockbuster” di film Hollywood sehingga lebih mudah menerbitkan naskah yang ditulis oleh nama besar? Masihkah ada kesempatan bagi penulis pemula untuk menembus penerbitan, bagaimana caranya? Apa yang harus dipersiapkan oleh seorang penulis? Penting juga bagi penulis untuk mencari penerbit mana yang cocok untuk naskahnya.

Semua itu akan dibahas di Obrolan Rabu Malam [Obral] bersama Windy Ariestanty, penulis buku *Life Traveler*. Windy juga telah menerbitkan *Tiara Lestari: Uncut Stories, Shit Happens: Gue Yang Ogah Kawin Kok Elo Yang Rese?!, Studying Abroad: Belajar Sambil Berpetualang di Negeri Orang.*Tidak hanya dari sisi penulis, Windy yang juga editor in chief GagasMedia dan Bukune akan membagikan perspektif penerbit dan industri buku.

Advertisements